Bulu’ Bawakaraeng Rusak! Prof Agnes: Longsor 2004 ‘Muntahkan’ 234 Juta Kubik Material

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Gunung Bulu’ Bawakaraeng semakin hari semakin parah kerusakannya. Hal ini terungkap saat Dialog Interaktif yang digelar Mahasiswa Universitas Fajar (UNIFA) dan STIM Nitro, Senin (26/3) kemarin yang berlangsung di Aula UNIFA dalam rangkaian, Extreme Mind Festifalse yang akan berlangsung selama empat hari ke depan.

Prof Dr Ir Dorothea Agnes Rampisela, dalam Dialog dengan tema “Gunung Bulu’ Bawakaraeng Terdzholimi di Tanah Sendiri” mengatakan, saat kondisi ini Gunung Bulu’ Bawakaraeng sudah masuk dalam tahap yang mengkhawatirkan.

“Debris flow tahun 2004 lalu atau pergerakan material berupa pasir dan batu yang besarannya atau volumenya mencapai 243 juta meter kubik, adalah warning bagi kita,” kata Prof Agnes.

Prof Agnes menambahkan, Debris Flow yang terjadi di Gunung Bulu’ Bawakaraeng itu adalah hal yang tidak biasa.

“Biasanya sedimen (Debris Flow.red) yang keluar dari gunung apalagi dalam jumlah yang besar, itu biasanya disebabkan oleh letusan. Nah, Debris Flow tahun 2004 di Bawakaraeng ini bukan letusan,” tambahnya.

Lebih jauh, Prof Agnes menjelaskan bahwa sedimen saat itu semua ke hulu sungai dan itu tentu mengurangi kapasitas waduk penampung.

Berdasar hal ini, Prof. Agnes sendiri melihat bahwa sampai saat ini belum ada pembicaraan yang lebih mendasar ke solusi.

“Pengendapan pada waduk sudah sangat tinggi, sehingga kapasitas air yang seharusnya bisa mencapai 340 juta meter kubik, kini diperkirkan hanya tersisa sekitar 300an meter kubik saja,” jeasnya.

“Je’neberang sudah masuk DAS kritis sejak tahun 76 dan masih kritis sampai sekarang. Berarti penangannya salah, dong. Sebenarnya yang begini ini koordinasi yang belum ada,” tutupnya.

Sementara itu, Nevy Jamest Tonggiroh, dalam dialog tersebut menyebutkan, jika laju kerusakan Gunung Bulu’ Bawakaraeng ini salah satunya karena kunjungan yang massif dan sporadis.

“Kunjungan secara massif dengan label macam-macam seperti upacara tujuh belasan dan peringatan-peringatan lainnya, itu salah satu yang menimbulkan kerusakan,” kata Nevy.

Nevy juga menyebut adanya upaya untuk mengkomersilkan wilayah Gunung Bulu’ Bawakaraeng.

“Gunung Bulu’ Bawakaraeng itu terdzhalimi di tanhnya sendiri. Selain ingin dijadikan kawasan wisata, fitnah bertebaran di mana-mana juga sangat massif,” jelasnya.

Lebih jauh, Nevy mengatakan, kerusakan yang terjadi di Gunung Bulu’ Bawakaraeng adalah cermin dari manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab.

“Banyak yang mengaku Pencinta Alam (PA), yang pernah tidur di sana, mendapatkan ni’mat dari sana, tapi tidak tahu berterima kasih dan memelihara gunungnya,” jelasnya.

Selain itu, salah satu pembicara yakni, Dr Adi Tonggiroh, yang merupakan ahli Geologi mengatakan, Gunung Bulu’ Bawakaraeng itu strukturnya tidak seperti gunung di Jawa.

“Struktur gunung di Jawa itu tersusun dari bebatuan vulkanik, kokoh. Tanahnya tebal, jadi mau dijadikan lokasi wisata, itu relatif aman,” kata Dr Adi.

“Sementara gunung di Sulsel seperti, Gunung Bulu’ Bawakaraeng, tanahnya tipis, tidak bisa dikunjungi secara massif,” kata Dr Adi.

Dr Andi Yaqub, yang hadir sebagai narasumber mengatakan, gunung dari tinjauan agama itu merupakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Di Al-Qur’an sendiri, ada 53 ayat yang membicarakan tentang gunung. Ini berarti, gunung khususny dalam Islam, memiliki keistimewaan tersendiri,” katanya.

Olehnya, Dr Yaqub mengatakan, jika sudah sepantasnya kita sebagai manusia peduli dengan gunung yang berada di sekitar kita.

“Khusus untuk Gunung Bulu’ Bawkaraeng, itu mempunyai keistimewaan tersendiri dan hanya ada 19 Gunung di dunia ini yang memiliki keistimewaan khusus, termasuk Gunung Bulu’ Bawakaraeng,” jelas Doktor dengan desertasi tentang kepencintaalaman ini.

Sementara itu, salah satu pemateri lainnya yakni, Rasyidin S.Hut, memaparkan bagaimana kondisi terkini Gunung Bawakaraeng.

Menurut Rasyidin, selain erosi, debris slide, dan discontinuitas batuan, ada banyak lagi hal lain yang perlu diperhatikan dengan serius.

“Dari hasil ekspedisi yang kami lakukan ke puncak Gunung Bulu’ Bawakaraeng, kami menemukan fakta-fakta mengejutkan di lapangan misalnya, penemuan sampah alat kontrasepsi,” kata Rasyidin.

Rasyidin juga menyatakan jika hampir di seluruh jalur pendakian terdapat sebaran sampah.
Jenisnya pun beragam, tak hanya kondom, seperti yang disebutkan sebelumnya, tetapi juga pakaian dalam dan botol-botol minuman keras.

Dari kalangan jurnalis, Eko Rusdianto, yang menjadi salah satu pembicara menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah dalam menyikapi masalah lingkungan yang terjadi di Sulsel.

“Banyak persoalan lingkungan temasuk gunung yang pemerintah tidak begitu perhatian. Bahkan, ada beberapa yang terkesan pemerintah malah tidak memberi hak masyarakat” jelasnya. (rls)