Peluang Milenial Membangun Bisnis Startup Dari Lorong

PDAM Makassar

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Kota Makassar sebagai sentral perputaran ekonomi dan berkembangnya ilmu pengetahuan di Indonesia Timur memiliki peran strategis dan sekaligus peluang untuk memperlihatkan eksistensinya sebagai kota metropolitan. Sebagai kota metropolitan, Makassar dikenal dengan gedung-gedung mewah, pusat perbelanjaan, kemajuan teknologi, pendidikan, budaya, transportasi, hotel, hiburan, dan infrastruktur lain yang berkelas.

Dibalik kemewahan itu semua, sudah menjadi hal yang lazim pada suatu kota manapun di muka bumi ini menyimpan suatu persoalan. Salah satu yang menjadi persoalan yang hangat diperbincangkan warga Makassar adalah tentang “Lorong”. Lorong biasanya diartikan sebagai jalanan sempit yang dihuni banyak warga. Dan biasanya mereka terpinggirkan dari kehidupan kota. Berbagai stigma negatif melekat pada kata “Lorong”. Kumuh, kriminalitas, pengangguran, kemiskinan, sampah, gelap, dan berbagai stigma negatif lain. Hal ini membuat istilah “Lorong” menjadi menakutkan. Apalagi menyandang gelar sebagai “anak lorong”. Ini sangat dihindari.

Tetapi sepertinya gambaran kondisi lorong diatas itu berlaku untuk sepuluh tahun yang lalu. Sebab dalam lima tahun terakhir, pemerintah kota Makassar telah menjadikan “lorong” sebagai perioritasnya dalam menata kota. Menyelesaikan masalah “Lorong” berarti menyelesaikan separuh dari masalah Makassar.

Lorong yang dulunya kumuh kini mulai tertata rapi dengan lorong garden, kemiskinan mulai terurai dengan pemanfaatan Badan Usaha Lorong, kriminalitas mulai berkurang, mungkin berkah dari pengajian lorong. Gelap kini menjadi terang dengan singara lorongku”. Kini lorong betul-betul berubah. Mereka mulai terberdayakan. Mereka mulai mendapat ruang dalam kehidupan kota.

Lorong ibarat sel dalam tubuh manusia. Begitu ucapan walikota sebelumnya. Dia memiliki peran yang sangat penting. Sel-sel itu harus tetap dijaga, dirawat dan diberikan nutrisi agar tetap tumbuh dan berkembang. Begitulah lorong. Kini istilah “lorong” sudah menjadi kebanggaan bagi Makassar. Menyandang sebagai “anak lorong” bukan lagi sebagai aib, tetapi itu adalah kebanggaan.

Maka lahirlah komunitas-komunitas anak-anak muda yang mengikut nama lorong dibelakangnya. Mereka adalah aset dan masa depan Makassar. Mereka harus segera terberdayakan utamanya dalam masalah ekonomi dan kesejahteraanya. Jika di lorong-lorong menjadi pusat lahirnya UMKM, maka lain halnya dengan generasi milenial. Sepertinya istilah UMKM itu kurang melekat dalam jiwa generasi milenial. Mereka membutuhkan istilah yang lebih fresh dan kekinian, yang sesuai dengan kejiwaannya. Mereka harus disentuh dengan cara yang berbeda yang sesuai dengan zamannya. Istilah mereka adalah ‘zaman now”. Milenial memang beda. Begitu kata mereka.

Iya, bisnis startup adalah bisnis model baru yang digandrungi anak-anak milenial hari ini. Bisnis startup adalah bisnis rintisan yang dibangun oleh anak-anak milenial yang bersentuhan langsung dengan teknologi digital. Banyak negara-negara maju menaruh perhatian dibidang ini. Hari ini mereka berlomba-lomba untuk mengalihkan perekonomiannya dari yang konvensional ke bisnis digital. Sehingga bisnis model startup ini sangat menjanjikan dimasa depan. Model bisnis ini dianggap sebagai salah satu bisnis yang cocok dikembangkan untuk mengembangkan kreatifitas generasi milenial.

Mereka yang hari-harinya dekat dengan teknologi, suka diskusi, berjejaring luas dan jangkauan informasi yang tidak terbatas sangat memungkinkan untuk didorong mengembangkan bisnis yang berbasis teknologi ini. Keberhasilan beberapa startup yang hari ini naik level menjadi unicorn bisa dijadikan contoh untuk generasi milenial Makassar.

Oleh karena itu, bisnis startup yang kedepannya harus menjadi bagian dari perioritas pembangunan ekonomi kota Makassar kedepan.

Bukan tanpa sebab, ada beberapa alasan yang bisa dijadikan landasan berpikirnya kita untuk mendorong terbentuknya startup-startup lorong di Makassar. Diantaranya, 1) banyak usaha-usaha yang ada di lorong dan menjadi tumpuan keluarga, 2) Bonus demografi 3) Perkembangan teknologi informasi 4) Karakter generasi milenial yang kreatif dan melek teknologi 5) 6) lahirnya komunitas-komunitas anak-anak muda lorong 7)Pergeseran bisnis konvensional ke teknologi digital. Ini semua adalah potensi besar yang harus diarahkan ke hal-hal yang lebih produktif. Nongkrongnya anak-anak milenial di cafe atau di warkop-warkop akan menjadi diskusi-diskusi yang penuh makna. Dan ini bisa menjadi pendorong lahirnya kreatifitas-kreatifitas baru generasi milenial Makassar. Kemajuan teknologi, kreatifitas dan inovasi generasi milenial adalah kata kunci yang tentunya sangat diharapkan dukungan dari pemerintah kota baik berupa regulasi, edukasi, pendampingan maupun fasilitas infrastruktur yang mendukung. Apalagi ditengah pandemi COVID19 ini, bisnis startup bisa menjadi bagian dari solusi pemulihan ekonomi masyarakat.

Kedepan ekonomi berbasis digital sangat menjanjikan seiring dengan kecanggihan teknologi saat ini. Pemerintah kota Makassar harus memaksimalkan lagi peluang baru ini, apalagi infrastruktur teknologi komunikasi yang ada saat ini sudah cukup memadai untuk mendukung lahirnya startup-startup baru.
Jika kita melihat potensi yang ada, bukan hal yang mustahil akan lahir startup-startup baru yang dihasilkan oleh generasi milenial dari lorong-lorong kota dan ini akan menjadi nilai tambah bagi Makassar sebagai kota metropolitan. Dari lorong kita membangun STARTUP.

Penulis : Abdul Karim (Mantan Ketua KAMMI Kota Makassar)

 

Gerinra Sulawesi Selatan