banner dprd mkassar

OPINI: Inflasi Februari Menurun, Bagaimana Kondisi Ekonomi?

SUARACELEBES.COM, JAKARTA – Badan Pusat Statisitk (BPS) baru saja merilis data, inflasi Februari 2023 menurun dibandingkan inflasi bulan sebelumnya.

Seperti disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini inflasi pada Februari 2023 tercatat sebesar 5,47 persen (year on year/yoy). Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2023 menurun dari 0,34% month to month (mtm) pada bulan sebelumnya menjadi 0,16% (mtm). Inflasi ini terutama didorong oleh penurunan inflasi kelompok inti dan volatile food.

Inflasi kelompok volatile foods juga menurun dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya.

Kelompok ini mencatat inflasi sebesar 0,28% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 1,40% (mtm), disumbang oleh komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit. Sayangnya, kelompok volatile foods secara tahunan mengalami inflasi 7,62% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 5,71% (yoy). Di sisi lain, kelompok administered prices mencatat inflasi sebesar 0,14% (mtm), meningkat dari realisasi bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,55% (mtm).

Dunia usaha sangat mengapresiasi perkembangan ini. Ini membuktikan bagaimana pemerintah dan semua instrumen kebijakannya mampu mengendalikan inflasi dengan baik.

Misalnya, respons kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) serta sinergi pengendalian inflasi antara BI dan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan mitra strategis lainnya melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah.

Inflasi inti Februari 2023 tercatat sebesar 0,13% (mtm), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,33% (mtm). Penurunan inflasi inti sejalan dengan normalisasi pola musiman awal tahun, khususnya dari komoditas kelompok perumahan. Secara tahunan, inflasi inti Februari 2023 tercatat sebesar 3,09% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,27% (yoy).

Namun, kondisi ini tetap perlu kita kritisi, karena bisa juga inflasi yang terjadi adalah karena harga pokok penjualan (HPP) yang dibangun dalam sebuah ekosistem bisnisnya sehingga harga relatif lebih terkontrol. *Sisi lain yang perlu kita cermati adalah, bisa juga inflasi yang terjadi adalah karena likuiditas masyarakat yang berkurang, karena faktor permintaan yang berkurang.

Kalau indikator itu benar, bahwa likuiditas berkurang, maka akan ada potensi menurunnya pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2023, dibandingkan dengan kuartal keempat tahun 2022 lalu.

Dalam konteks ini, paling tidak ada 3 (tiga) poin yang harus dianalisis secara kritis, karena hal yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat. Pertama, tren pertumbuhan ekonomi yang terus naik, kedua, inflasi yang terkendali, dan ketiga adalah kesenjangan ekonomi yang harus terus berkurang sehingga kualitas pertumbuhan ekonomi menjadi lebih bagus.

Kalau kita lihat data pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat tetap tinggi yakni 5,01% (yoy), di tengah pertumbuhan ekonomi global yang dalam tren melambat. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan Indonesia secara keseluruhan tahun 2022 tercatat 5,31% (yoy), meningkat dari capaian tahun sebelumnya sebesar 3,70% (yoy).

Artinya, untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, PR pemerintah adalah tetap menjaga agar minimal pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun ini bisa terjaga seperti tahun lalu. Apalagi, pemerintah telah memprediksi, pertumbuhan ekonomi 2023 diprakirakan tetap kuat pada kisaran 4,5-5,3%, didorong oleh peningkatan permintaan domestik, baik konsumsi rumah tangga maupun investasi.

Lantas, bagaimana kondisi ekonomi ke depannya? Harapannya kita tentu, pemerintah mendorong regulasi yang memberikan insentif agar likuiditas terus terjaga di masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi terus terjaga dengan baik. Ini relevan dengan imbauan Presiden Jokowi, agar Indonesia lebih banyak melakukan konsumsi.

Karena akan sulit untuk kita melakukan konsumsi ketika likuiditas berkurang atau ketika terlalu banyak disinsentif, baik fiskal dan moneter, terhadap likuiditas. Misalnya, suku bunga acuan yang terus naik. Terlebih lagi tren untuk satu-dua bulan ke depan, menghadapi masa Ramadan dan Lebaran, yang tentu akan membuat demand cenderung naik dan secara alamiah inflasi akan terkerek naik.

Jakarta, 2 Maret 2023
_Ajib Hamdani (Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi APINDO)_

PDAM Makassar