Dari Sulawesi Untuk Indonesia 

(Refleksi Perjalanan Politik di Sulawesi Selatan)

Oleh : Masrudi Ahmad Sukaepa

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Pria tinggi besar , kulit coklat persis berperawakan asli nusantara, lahir  tahun 1962 atau  58 tahun silam di jakarta berdarah gorontalo sulawesi.  guratan wajahnya terlihat gigih, ulet  dengan gestur tubuh  berkharisma dan berwibawa tapi jangan salah meskipun begitu dia ramah dan tak segan-segan bersenda-gurau tertawa lepas diantara orang-orang dalam bus yang mengantarnya berkeliling,  tidak pasang wibawa agat dihargai dan dihormati , tidak memandang rendah orang lain karena dia tahu bahwa penghargaan dan penghormatan datangnya dari orang lain dan ada tatkala kita menghargai dan menghormati orang lain.

Inilah sifat pemimpin yang  dirindukan rakyat dan  dido’akan oleh banyak orang.  bukan bos juga bukan penguasa dan menempatkan anak buah sebagai mitra kerja tanpa terlucuti statusnya sebagai pemilik perusahaan besar dimana banyak orang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluargannya, tidak mentang-mentang sebagai pejabat tinggi dilembaga negara lantas memandang rendah orang lain.  Gayanya santai dan berinteraksi seolah jabatan yang disandangnya tak membuat jarak dengan masyarakat biasa, tapi wibawa dan kharismanya tidak luntur sebab itu.

Paling tidak itulah kesaksian terhadap tokoh  dimaksud yang kebetulan penulis ikut dalam rombongan  perjalanan politiik selama 6 hari singgah dan melintasi 22 kabupaten-kota di Sulawesi Selatan  dalam rangka kunjungan kerja sebagai Wakil Ketua DPR RI dan Konsolidasi politik sebagai Ketua Pemenangan Partai NasDem wilayah Sulawesi,  dialah *Rahmat Gobel*

Tapi dalam tulisan ini,  bukan tentang kepribadian Rahmat Gobel  yang akan dipertajam tatapi penulis akan  menganalisa dan mengurai  perjalanan politik  Rahmat Gobel di sulawesi selatan dari sisi materi pidato,  sisi politik dan  penerimaan masyarakat kaitannya dengan keluhuran politik dan  situasi  kekinian politik nasional  berbasis kesaksian singkat dan imajinasi penulis.

*Materi ceramah*

Di beberapa tempat  Rahmat Gobel  ( RG ) memberikan ceramah materinya terapan dan minim teori, dia berbicara banyak hal soal kehidupan sehari-hari ditambah pengalaman beliau sebagai seorang pengusaha. penyampaiannya mudah diterima oleh masyarakat dan mengena aspek kehidupan sehari-sehari dimana daerah yang kunjungi masyarakatnya mayoritas patani.

Seolah gayung bersambut,  kebetulan  dalam komposisi pimpinan DPR RI Rahmat Gobel sebagai Wakil Ketua yang mengkoordinir  empat  komisi diantaranya komisi  IV membidangi pertanian,. sudah seharusnya seorang pejabat  memahami situasi , berbicara  harus menyesuaikan  kebutuhan  dimana  dan apa yang perlu disampaikan terkait kebutuhan masyarakat agar aspirasi yang tidak tersalurkan dapat terkonfirmasi.

Dalam penyampaiannya Rahmat Gobel  tidak paternalis, tidak monolog tetapi dibebrapa kesempatan berdialog dengan orang yang hadir dalam acara untuk menyerap aspirasi masyarakat yang didatanginya.

Cara yang digunakan Rahmat Gobel  dalam berinteraksi dengan masyarakat cukup elegan, fleksibel dan jauh dari kesan elitis,  itu terlihat dari cara menyampaikan materi santai dan kalimat-kalimat yang diucapkan tidak teoritis sehingga tidak menimbulkan kesan ekslusif tetapi inklusif  antara pejabat negara dan rakyat.

Terbangun interaksi ramah dan suasana kebatinan yang nyaman, tidak kaku dan tegang sebagaimana biasanya ketika seorang pejabat negara berbicara dihadapan masyarakat.  Penulis tidak tidak tahu apakah memang tipikal RG humuris ataukah hanya inprovisasi  untuk pencitraan sehingga dalam berbicara dihadapan masyarakat tak jarang diselingi dengan joke-joke segar yang  memecah suasana menjadi bersemangat dan membuat seolah tidak ada jarak antara pejabat negara dengan masyarakat pedalaman.

Ada yang unik dan langka sekaligus  menarik,  Rahmat  Gobel  yang praktisi politik atau yang biasa disebut penganut politik praktis (kekuasaan) karena sebagai anggota partai politik (NasDem) yang  identik dengan kekuasaan tapi  RG berbicara tentang politik pembangunan, dimana dalam pikir penulis politik pembangunan adalah bagian dari politik kebangsaan, padahal umumnya partisan berbicara tentang politik kekuasaan.

RG tidak segan-segan mengatakan bahwa dirinya tidak berpolitik praktis tetapi berpolitik untuk pembangunan sekalipun sadar bahwa dirinya adalah anggota partai politik dimana partai politik orientasinya adalah kekuasaan.

Menariknya adalah, politik kebangsaan dalam prakteknya hanya dilakukan oleh tokoh-tokoh non partisan atau secara kelembagaan biasanya dilakukan oleh ormas seperti  Sarekat Islam, Boedi Utomo, NU, Muhammadiyah dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya, tetapi Rahmat Gobel  masuk ke ranah itu.  Sesungguhnya politik itu bertujuan baik untuk sebuah tatanan berbangsa bernegera bahkan menurut  Aries Toteles  dalam politik ada nilai-nilai suci. namun dalam pandangan banyak orang politik sudah terlanjur  “kotor” . Tentu pandangan itu tidak serta-merta muncul  tetapi disebabkan apa yang didengar , apa yang dilihat dan faktanya memang sulit untuk dipungkiri bahwa permainan kotor dalam politik kerap terjadi, saking jahatnya hampir kejahatan menjadi identitas dari politik itu sendiri.

Dari pelajaran dan kesaksian publik politik praktis sulit untuk mengatakan suci seperti apa yang dikatakan  Aries Toteles, identitasnya  sudah  rusak dan kepercayaan masyarakat  terhadap politik sebagai instrumen penata negara agar lebih baik hilang dan bahkan tidak pernah ada. Politik hanya diidentikkan dengan kekuasaan yang dicapai dengan cara-cara  kotor.  tidak ada lagi public trush terhadap politik yang ada distrush terhadap politik, disebabkan oleh para politisi yang salah memaknai dan menjalankan politik itu sendiri.

Dalam pemaparannya  Rahmat Gobel berungkali menyebut kata  Integritas,  komitmen, dedikasi dan loyalitas.  mungkin maksud  Rahmat Gobel   menyampaikan itu sebagai bentuk kecemasan dan bermaksud  mengatakan bahwa, Integritas mengalami kemerosotan  :  moralitas politik mengalami degradasi hampir ke titik nadir,    Komitmen :  lemahnya mental kebangsaan tergerus arus globalisasi, Dedikasi :  hilangnya semangat pengabdian dan loyalitas tidak adanya keteguhan hati dan pikiran untuk bangsa.

Kepribadian yang ramah menjadi bringas,  rasa kekeluargaan yang berakar pada budaya hampir hilang . tidak ada lagi kejujuran berbangsa berganti kepura-puraan berbalut pencitraan,  tidak ada lagi politik sarana perjuangan bangsa berganti kepentingan individu dan kelompok, politik bukan lagi sarana berbuat kebaikan  sebagai  pengabdian berganti perebutan kekuasaa,  tidak ada lagi keteguhan hati dan pikiran  berbangsa berganti ketidak-pastian yang larut dalam kesenangan dan  tumbuhnya-suburnya generasi hedon .  tidak ada lagi keluhuran sebagaimana yang dilakukan para pendiri negara ini (founding fathers).

Kekuasaan menjadi satu-satunya tujuan berpolitik dan mengabaikan kepentingan rakyat dan bangsa karena yang dipahami bahwa politik adalah instrumen merebut kekuasaa bukan instrumen kebangsaan. Sebab pemahaman yang sempit itu membuat banyak politisi tidak mengenal politik kebangsaan yaitu politik untuk kemaslahatan bangsa,  orientasinya bukan kekuasaan tetapi  melahirkan negarawan dan dapat mengantarkannya ke puncak kekuasaan dengan jalan yang bermartabat.

Politik kebangsaan untuk  kemaslahatan bangsa , berbicara tentang kebangsaan berarti berbicara tentang manusia (kemanusiaan) dan urusan kemanusiaan adalah  hubungan antar manusia atau hablumninnas.  politik bisa menjadi ibadah kalau oriebtasinya adalah kemaslahatan manusia (dalam suatu negara) dan jalannya adalah politik  kebangsaan.

Disinilah pentingnya pendidikan.politik, bukan untuk mengajak masyarakat merebut kekuasaan tetapi untuk memahami bahwa politik tidak selalunya untuk kekuasaan tetapi politik bertujuan untuk kemaslahatan rakyat, bangsa dan negara.

Salahsatu fungsi partai politik (diantara 5 fungsi) adalah pendidikan politik atau biasa dikenal Civic Education pendidikan kewarganegaraan yang memuat tentang demokrasi dan politik. tetapi fungsi-fungsi tersebut abai ditunaikan oleh partai politik karena sibuk dalam pusaran kekuasaan  sehingga partai tak lebih hanya menjadi kendaraan menuju kekuasaan  dan  tidak berjalannya fungsi-fungsi partai politik  menyebabkan  pandangan banyak orang (masyarakat) menjadi ironi  dan  stigma bahwa semua partai politik tidak ada bedanya, sama-sama alat pemburu kekuasaan.  itulah tantangan partai NasDem yang harus dihadapi dengan cara yang berbeda  untuk meletakkan NasDem dalam pikiran Rakyat sebagai partai penggerak perubahan dari kebiasaan buruk untuk mewujudkan Raestorasi di negeri ini.

Meskipun Rahmat Gobel tidak menjabarkan secara luas tentang politik pembangunan yang dia maksud tetapi setidaknya niatan itu ada untuk membangun politik yang berintegritas,  berkomitmen, berdedikasi, dan loyal pada rakyat , bangsa dan negara. sebab itu dalam benak penulis bertanya  “apakah ini taktik menghadapi masyarakat ataukah ucapan Rahmat Gobel  memang apa adanya?..

Penulis mencoba kesampingkan pertanyaan itu dan konsentrasi pada apa yang  kesaksikan selama 6 hari perjalanan di Sulawesi selatan dan berhipotesa bahwa ucapan-ucapan itu memang apa adanya dan perlu penyebaran hingga ke lapisan masyarakat  paling bawah melalui jejaring dan media mainstream maupun media massa lainnya.

Hal tersebut perlu dipertahankan  Rahmat Gobel  dalam menapaki karir politiknya, walaupun sebagai anggota  partai politik yang tidak lepas dari politik kekuasaan tetapi tidak mengabaikan politik kebangsaan.  ke depan ucapan politik kebangsaan perlu semakin dikuatkan dan menjabarkannya meskipun dengan kalimat sederhana  misalnya ” politik pembangunan”,  mudah dipahami  oleh masyarakat. bila hal itu bisa terus  dilakukan maka, akan menjadi gaya baru politik  yang dilakukan oleh seorang partisan sekaligus menjadi  penyambung atau penghubng pikiran-pikiran kebangsaan Surya Paloh ke level paling bawah (grassroot) agar tidak terhenti pada podium-podium seremonial dan mimbar-mimbr kampanye saja.

*Analisa Politik*

Rahmat Gobel  yang baru sekitar 4 tahun begabung dalam dunia politik praktis dengan masuknya di Partai NasDem sekaligus sebagai wakil ketua DPR RI dan mantan menteri perdagangan periode pertama kabinet Indonesia Hebat  relatif hingga kini belum terdengar suara negatif terhadapnya, dia lebih dikenal  sebagai pengusaha yang tidak terkait dengan masalah-masalah yang terjadi dalam penyelenggaraan negara  atau dengan kata lain dalam ranah politik datar-datar saja. itu antara (mungkin) disebabkan Rahmat Gobel  menjalankan tanggungjawabnya baik sebagai pengusaha maupun sebagai pejabat negara dengan menjaga integritas, komitmen, dedikasi dan loyalitas.

Itu merupakan modalitas sosial  atau moral publik yang dimiliki oleh Rahmat Gobel  yang harus dipertahankan. masuknya dalam ranah politik praktis yang sarat dengan “kekotoran”  perebutan kekuasaan adalah medan baru baginya sehingga perlu ekstra hati-hati  dan kuat berpegang pada prinsip-prinsipnya dalam berpolitik  yaitu, integritas, komitmen, dedikasi dan loyalitas   …… “sebutir muttiara tetap nampak sekalipun diletakkan diatas hamparan pasir” …  itulah modalitas sosial atau moral publik yang dimiliki tidak tercemari dengan praktek politik “kotor” sebagaimana yang kerap terjadi dan menimpah  banyak politisi di negeri ini.

Ibarat bayi baru lahir (konteks politk praktis)  Rahmat Gobel  bersih dari dosa,  masih mencari bentuk, watak dan karakter untuk dikenal masyarakat luas maka modalitas sosial atau moral publik yang dimiliki sangat berpotensi membentuknya untuk menjadi politisi “putih”  kontra politisi “hitam” yang sering diteriakkan oleh  mahasiswa dan kpmponen masyarakat lainnya.

Pemaknaan keliru yang sering terjadi pada banyak politisi yaitu, menganggap politik semata alat untuk kekuasaan padahal esensi sesungguhnya politik adalah untuk kemaslahatan Rakyat, Bangsa dan Negara, bahwa ada kepentingan individu atau kelompok di dalamnya tidak bisa dielakkan  dan wajar saja tetapi yang terpenting adalah menempatkan kepentingan Rakyat, Bangsa dan Negara diatas  kepentingan individual, kelompok ataupun golongan. Inilah yang selalu diucapkan Surya Paloh dalam orasi-orasinya diatas podium politik dan mombar-mimbar kampanye tetapi nyaris (kalau ridak bisa dikatakan hanya sampai dipodium dan mimbar-mimbar) berhenti disitu sebab tidak ada kader partai NasDem yang mau dan mampu menyambungkan ke tingkat  bawah hingga ke level paling bawah  dengan kata lain tidak membumi.

Menurut  penulis,  potensi untuk menyampaikan pikiran besar  itu ke semua lapisan masyarakat utamanya paling bawah dimiliki oleh Rahmat Gobel alasanyanya sederhana,  dia menganggap politik adalah ladang ibadah dan pengabdian pada Bangsa dan Negara meskipun dengan diksi sederhana ‘politik pembangunan” yang dipilih oleh RG  trtapi  pesannya bisa sampai apalagi kalau diksi itu diperluas dengan pilihan diksi “politik kebangsaan”.

Lemahnya mental kebangsaan dan hilangnya moralitas politik kebanyakan politisi menjadikan politik betintegritas menjadi langka. politisi tidak lagi memikirkan bangsa-negaranya tapi  justru berlomba-lomba memperkaya diri sendiri  dengan menyelewengkan kewenangan yang diberikan oleh negara.  Rakyat sengsara dijadikan  “sapi perahan”  lewat pajak dan sumberdaya alam habis diselewengkan dan dinikmati oleh mereka yang memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan negara.  lebih  ironis lagi Rakyat selalu dijadikan komuditi politik untuk kepentingan pencitraan.

Gelar berderet dan strata pendidikan tinggi menjadi ornamen status sosial  untuk dibanggakan  tetapi mental kebangsaannya lemah dan tidak adanya  moralitas politik .  jabatan dan gelar pendidikan tak jarang menjadi alat kepentingan  bangsa lain. ini kontra dengan kalimat RG tentang Sumberbaya Alam yang harus dikelola sendiri untuk kepentingan bangsa dan bangsa asing hanya sebagai pelengkap bukan yang utama.

Kalimat RG tentang sumberdaya alam  kaitannya dengan bangsa asing  diatas menurut penilis “menggemaskan”  disaat situasi kekinian tentang investasi dan arus tenaga kerja asing sedang menjadi pertentangan ditengah masyarakat diperparah dengan UU Cipta Kerja yang menurut banyak  kalangan  karpet merah untuk kedatangan asing di tanah air justru Rahmat Gobel menyatakan bahwa asing hanya pelengkap dan steakholder utama pengelolaan sumberdaya alam nusantara adalah orang Indonesia sendiri.  Rahmat Gobel  tidak menolak UU tersebut tetapi menimpali dengan motivasi dan pencerahan  dengan kalimat “kita harus menjadi tuan runah di negeri sendiri” menjadi sinyalemen  bahwa mental dan pikiran kebangsaan kita harus dibangkitkan.

Dengan ucapan seperti itu setidaknya paradigma kebangsaan  ada  dalam pikiran  Rahmat  Gobel   yang  langka lagi dimiliki oleh elite politik dan tokoh-tokoh  bangsa  sebab  pragmatisme-materialistik.  itu menjadi bukti bahwa negeri ini sesungguhnya krisis mental kebangsaan  sehingga penyelenggara negara  sangat mudah menggadaikan kewenangannya untuk kepentingan  asing  maka tidak heran kalau intervensi dan hegemoni bangsa lain sangat dirasakan.

Diantara cara asing menghegomoni bangsa kita adalah dengan liberalisasi politik / demokrasi dalam wujud nyata (bukan lagi ancaman) yaitu sisitm pemilihan langsung.  ini juga beberapa di kesempatan Surya Paloh bahwa “Pancasila harus ditegakkan, dikokohkan, kembali berdemokrasi Pancasila, bukan demokrasi Liberal-Kapitalistik”.  Ideologi  berbangsa kita harus  terus dikuatkan agar tidak mati terkubur oleh tekanan  ideologi asing yang terus merangsek masuk seperti, komunisme, khilafah dan loberalisme yang bukan lagi ancaman tetapi sedang berjalan di negeri ini.

Penulis tidak  mengatakan bahwa Rahmat Gobel  harus bersikap prontal terhadap issu ideologi  tersebut tetapi cukup dengan selalu mengucap Pancasila sebagai falsafah serta nilai-nilai luhur berbangsa dan eksis dalam perjuangan politik kehangsaan sebab,  gerakan politik kebangsaan akan membangun citra negarawan pada siapapun yang kuat memperjuangkannya  dan memudahkan perjalanan politik menuju tahta kekuasaan yang bermartabat

Kini situasi  bangsa ditimpa  gejolak ancaman disintegrasi kelompok separatis, kelompok radikalis agama, protes kebijakan pemerintah, kasus korupsi dan lain-lain issu kebangsaan menjadi sangat penting untuk dikuatkan dengan jalan penguatan gerakan politik kebangsaan hingga ke pelosok tanah air.

Gerakan politik kebangsaan  akan kuat bila disinergikan dengan gerakan revitalisasi budaya seperti adat , tradisi dan kearifan lokal lainnya yang merupakan  perekat dan  pemersatu masyarakat di daerah masing-masing. Budaya juga merupakan akar falsafah berbangsa yang di himpun menjadi dasar negara yang  dinamai Pancasila yang dijabarkan dalam konstitusi bernama UUD 1945.

Indonesia sebagai negara-bangsa (state nation)  karena keragaman primordial Nusantara yang bersatu kemudian disatukan dalam Negara Kesatuan yang dikenal dengan sebutan NKRI.  Primordial-primordial itulah menjadi pilar-pilar Negara Republik Indonesia dengan  semboyang  Bhinneka Tunggal Ika.  Dari  situlah kepribadian bangsa Indonesia berasal  yang sesungguhnya pertahanan bangsa tetapi  nyaris tinggal ucapan-ucapan  dalam pidato, diskusi, dialog  yang tidak serius diwujudkan untuk membangun negara sehingga sangat mudah diintervensi dan dihegemoni oleh bangsa asing karena kehilangan kepribadian.

Revolusi  mental yang  dicanagkan oleh pemerintahan sekarang sangat sulit bahkan  hampir mustahil bisa dilakukan kalau tidak dimulai dari akar kepribadian bangsa yaitu, budayanya sendiri. sebab itu  perjuangan politik kebangsaan harus dilandasi budaya bangsa yang dimulai dari revitalisasi budaya bangsa dan menjadikannya rujukan dasar dalam menjalankan kehidupan bernegara.  mengembalikan kepribadian bangsa yang nyaris hilang dilakukan dengan revolusi mental harus dimulai dari dari budaya bangsa yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.

Figur seperti Rahmat Gobel bukan mustahil melakukan itu sebab modalitas publik yang dilandasi integritas individual, komitmen kebangsaan,  dedikasi sebagai anak negeri dan loyalitas  sebagai warga negara  mampu membangun kepercayaan rakyat dan menjadikannya sebagai tokoh yang diharapkan menjadi ikon baru disaat keluhuran para pejuan g bangsa di masa lalu kini (nyaris) hilang.  Untuk menjadi tokoh besar banyak yang bisa melakukannya tetapi untuk menjadi negarawan bukan persoalan gampang sebab negarawan adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya, contoh di era kini yang telah membuktikan sikap ke-negarawan-an  (erlepas dari segala kekurangannya) ialah Surya Paloh.

Disaat semua ketua umum partai politik mencitrakan diri sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden Surya Paloh justru dimana-mana berpidato mengatakan bahwa ” Saya mendirikan dan membesarkan Partai NasDem bukan untuk menjadi capres ataupun cawapres tetapi ingin mendedikasikan diri untuk bangsa dan negara ini”.  ucapan Surya Paloh itu sangat beresiko untuk dirinya sendiri  kalau ternyata kemudian dia berubah dan ingin menjadi capres ataupun cawapres, tetapi dia tidak melakukannya sehingga modalitas sosial publik  tetap melekat pada dirinya, padahal bisa saja dia berubah dan mengabaikan ucapan-ucapannya.  itu tidak terjadi sebab Surya Paloh memiliki integritas, idealitas, komitmen, dedikasi dan loyall pada pikiran-pikiran kebangsaannya.

Penulis tidak  bermaksud mengatakan bahwa Rahmat Gobel  harus sama  apa yang dilakukan oleh Surya Paloh yang tidak mau jadi apa-apa selain ingin dikenang srbagai Ketua Umum Partai terbaik pada masanya.  Tetapi akan menjadi lebih baik jika mental kebangsaan  dan moralitas politik dan jiws patriotis yang dimiliki oleh Surya Paloh juga  dirawat oleh Rahmat Gobel  yang memang sudah dimilikinya sebab itulah modalitas terpenting dan utama dimiliki oleh seorang pemimpin untuk sebuah negara besar, majemuk  seperti Indonesia, apalagi di masa kini yang jarang lagi  orang memiliki karakter  berpolitik seperti itu.

*Penerimaan Rakyat*

Sebagaimana penulis urai diatas bahwa bangsa kita krisis  mentalitas  kebangsaan dan kemerosotan moralitas politik sebagaimana yang dimiliki oleh pejuang bangsa dan pendiri negara ini  maka hal itu menjadi unik dan langka yang sangat dirindukan oleh rakyat.  betul bahwa rakyat  lebih banyak Rakyat yang tidak pernah bicara tentang kebangsaan, tentang tentang negara dan hanya mengharap bisa bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya tetapi kritikan,  protes dan penolakan kebijakan penyelenggara negara oleh elemen masyarakat seperti ormas, mahasiswa dan organisasi-organisasi lainnya mengatasnasnamakan rakyat adalah dampak dari tidak adanya integritas, komitmen, dedikasi dan loyalitas penyelenggara negara.

Negeri ini merindukan anak bangsa  yang tulus memimpin bukan hanya mengurus diri dan  orang-orang yang masuk dalam bagiannya.  Penulis punya alasan sendiri sehingga lancang mengatakan bahwa Rahmat Gobel  bisa melakukannya, selain alasan kepribadian yang berulang disebutkan diatas juga sebab faktor kemapanan ekonomi.  Emha Ainun Nadjib pernah bilang,  untuk menjadi idealis terlebih dahulu harus mapan ekonomi.  orang yang masih memikirkan perutnya besok makan apa,  masih sibuk mengumpulkan harta , tidak berani melakukan kebaikan karena takut piringnya pecah maka sulit bahkan mustahil berpikir ideal atau idealis.

Orang bisa disebut negarawan kalau sudah selesai dengan dirinya sendiri tidak lagi memikirkan besok makan apa, tidak lagi  sibuk mengumpulkan harta, tidak lagi diperbudak jabatan atau kekuasaan,  itulah negarawan dan seorang negarawan tidak akan  menghalalkan  segala cara untuk memburu jabatan sebab kedudukan itu akan datang dengan sendirinya.

Modalitas Rahmat  Gobel  semakin dikuatkan dengan sikap religius (mungkin belum banyak yang tahu) sebagai bukti di beberapa tempat dia menutup ceramahnya dengan membaca do’a yang menurut penulis merangkai kata-kata dalam do’a bukan hal yang mudah kalau tidak terbiasa dilakukan,  itu memperlihatkan kepada publik bahwa kebiasaan spritual Rahmat Gobel  tidak diragukan,  apalagi do’a yang dibacakan  lain dari pada umumnya yang dimulai pembacaan suratul Fatihan untuk Rasulullah, kepada kedua orang tua dan kepada manusia lainnya baru masuk isi do’a yang bersifat umum.  tata cara berdo’a itu sungguh dalam dan mengandung nilai-nilai  yang tinggi yang biasanya ditemukan dalam majelis kajian thariqat..

Dari pengamatan penulis selama ikut dalam rombongan, pahaman agama (Islam) yang dimiliki  yang dianut oleh Rahmat Gobel  adalah Islam inklusif dan moderat, tidak kiri dan tidak kanan yang penganutnya mayoritas di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah termasuk Sarekat Islam (SI)  yang didirikan oleh HOS Cokroaminoto yang tidak lain bapak Rahmat Gobel  adalah aktifis Sarekat Islam.

Jarak  Rahmat Gobel  pada ormas-ormas Islam iklusif moderat masih belum bisa dikategorikan  seperti apa karena tidak adanya parameter yang bisa dijadikan alas untuk itu dan tidak ada korelasi antara ormas Islam yang mengurus ummat dan Rahmat Gobel  yang notabene pengusaha. tetapi ada sentimen kebangsaannyang bisa membangun sinergi keduanya yaitu pikiran-pikiran kebangsaan atau sebut  saja politik kebangsaan.

Menurut penulis hubungan dan komunikasi ini perlu segera dibangun agar  sinergitas pikiran-pikiran kebangsaan ini bisa diaktualisasikan dalam agenda-agenda politik.  memulainya dengan kunjungan-kunjungan kerja atau silaturrahmi ke pondok-pondok pesatren moderat yang berbasis kultural,  silaturrahmi ke ulama-ulama sepuh, bahkan kalau tidak dianggap keliru ziarah ke makam-makam ulama besar yang  sudah menjadi tradisi masyarakat.

Selain itu, kegiatan-kegiatan kebudayaan perlu dilakukan sebab dari budaya peninggal leluhurlah lahir nilai-nilai luhur berbangsa.  Seperti halnya Pancasila akarnya dari budaya bangsa sehingga bung Karno mengatakan “kami tidak bekerja keras merumuskan Pancasila, kami hanya menggali dari budaya bangsa dan menemukan lima butir muttiara, itulah Pancasila””
Pancasila kemudian dijabarkan maka jadilah rumusan UUD’45  dan  yang mempersatukan primordial-primordial di nusantara dalam negara kesatuan  yang disebut NKRI dengan semboyang Bhinneka Tunggal Ika.  Indonesia harus maju tetapi tidak meninggalkan  nilai-nilai luhur yang di setiap daerah di Nusantara. terutama nilai-nilai luhur dari budaya bangsa ini adalah kemanusiaan yang tidak terbatasi sekat suku, ras, agama dan kepercayaan meskipun memiliki  wilayah administrasi yang disebut negara.

Di akhir tulisan ini penulis ingin menegaskan lagi bahwa  masalah fundamental di negeri ini hilangnya  mentalitas  kebangsaan,  moralitas politik  dan  jiwa patriotisme yang ada di masa lalu dan untuk mengembalikan nilai-nilai luhur itu hanya dengan integritas, komitmen, dedikasi dan loyalitas.

Dan di negeri majemuk ini yang mayoritas muslim maka Islam inklusif dan moderat  yang  perlu di syiarkan karena sejatinya Islam adalah rahmat untuk seluruh alam “Rahmatan Lil ‘Alamin”  dan dikuatkan dengan revitalisasi dan menghidupkan budaya di seluruh  nusantara sebagai kearifan lokal  yang menjadi  perekat  persaudaraan  dan  kekeluargaan  yang merupakan khas dan kepribadian bangsa.

Yang lain sudah melakukannya dari ormas tapi belum ada partai politik yang melakukannya.  Maka menjadi momentum bagi Rahmat Gobel  yang memiliki modalitas kepercayaan publik untuk memulainya  dari Sulawesi untuk Indonesia.

Sisitimur Makassar
3 November 2020

PEMKOT-Makassar