Memaknai Adipura Untuk Soppeng

kpu

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR -Adipura adalah penghargaan tertinggi negara kepada daerah yang selama ini dianggap sukses dalam menjaga kelangsungan alamnya. Tahun ini, Soppeng sukses mengembalikan predikatnya sebagai kota Adipura setelah sekian lama menghilang. Terakhir, daerah ini meraihnya 2015 lalu dan setelah itu melayang.

Bagi Soppeng, Adipura tahun ini sangat berkesan. Penjurian yang semakin ketat dan syarat yang bertambah, membuat Adipura tahun ini sangat berbeda. Selain itu tak ada lagi ruang negosiasi belakang pintu di Kementerian LHK seperti yang selama ini santer, pasca perubahan anggota dewan penjurian dan aksi KPK yang membongkar proses jual beli Adipura. Maka, sungguh sangat wajar jika kemudian Bupati Soppeng sangat apresiatif begitu mendengar hasil penilaian karena ia sama sekali tak menjadikan Adipura sebagai prioritas.

Keberhasilan itu juga menegaskan bahwa langkah revolusioner Bupati Soppeng dan jajarannya dalam mengubah wajah Kota Watansoppeng, kini mulai berbuah. Siapapun tak bisa membantah bahwa Kota Watansoppeng kini telah menjelma menjadi mutiara baru dari jazirah utara Sulsel. Kita tak lagi bisa membandingkan Watansoppeng dengan kota lama dahulu, tetapi menilainya kini dengan membandingkannya dengan kota kota kecil lainnya di Sulsel. Jika kita berkeliling Sulsel dan melewati semua ibukota kabupaten di level yang sama, maka kita patut berbangga dengan Watansoppeng hari ini.

Dilihat dari semua sektor penilaian, Soppeng unggul dalam komitmen kepemimpinan dengan tata kelola pemerintahan yang baik. Hal itu mencakup adanya keinginan Pemda dalam membangun kota yang berkelanjutan. Saat penilaian dilakukan pada awal sampai pertengahan 2018 lalu, Kota Watansoppeng sebenarnya masih sangat semrawut akibat berbagai pembenahan infrastruktur. Meski demikian, tim penilai tetap memberikan nilai tinggi karena melihat adanya komitmen yang besar dari pemimpin daerah memperbaiki kota. Sama halnya dengan penilaian di sektor Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Kebijakan pelebaran jalan di sepanjang Jalan Kemakmuran yang membuat ratusan pohon harus dikorbankan dan sempat menjadi lahan kritikan, ternyata malah dinilai sebagai kebijakan maju. Ini terjadi karena Pemda Soppeng sukses meyakinkan tim penilai bahwa setiap pohon yang ditebang akan diganti dengan puluhan pohon lainnya.

Adipura 2018 ini adalah ujian baru bagi Pemda Soppeng dan masyarakatnya. Titik lemah penilaian dan mesti segera mendapat pembenahan ada pada sektor masih minimnya partisipasi masyarat dalam mendukung program lingkungan hidup pemerintah. Selain itu, pemanfaatan ekonomi dan pengelolaan sampah dan RTH masih perlu ditingkatkan.

Apapun itu, Adipura kini telah bersemayam di Soppeng. Piala yang diidamkan oleh seluruh pemerintah daerah di Indonesia adalah bukti kuatnya sinergitas masyarakat dan Pemda Soppeng. Hari ini, Bupati Soppeng Andi Kaswadi Razak akan memvawa piala bersejarah itu ke Soppeng setelah menerimanya di Jakarta.

Mari sementara bergembira menikmati hasil membanggakan ini. Setelah itu kita kembali harus memikirkan banyak cara agar piala itu tetap ada di Soppeng, selamanya.

Oleh : Nurmal Idrus
Direktur Nurani Strategic