Opini : Isra Miraj Tafsir Pilpres

Oleh Syamsuddin Radjab
(Direktur Eksekutif Jenggala Center dan Dosen HTN UIN Alauddin, Makassar)

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Peristiwa Isra Miraj diperingati umat Islam sedunia setiap tahunnya pada penanggalan kelender Hijriah di bulan Rajab (ketujuh) malam ke-27 bertepatan dengan 3 April 2019. Tahun 2020 diperkirakan akan jatuh pada 22 Maret dengan bulan dan tanggal sama tahun Hijriah yang disepakati umum para jumhur ulama.

Soal penaggalan Isra Miraj dalam pemikiran Islam tidaklah tunggal, setidaknya ada enam pendapat terkait waktu kejadian Isra Miraj. Syaikh Shafiyyuraman Al Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahiqul Makhtum menguraikan ragam pendapat tersebut diantaranya bahwa Isra Miraj terjadi pada bulan ramadhan tahun ke-12 kenabian.

Ada juga pendapat bahwa Isra Miraj terjadi ketika Rasulullah menerima wahyu pertama seperti pandangan At-Thabari, sementara An Nawawi dan Al Qurthubi berpendapat bahwa Isra Miraj berlangsung lima tahun setelah Rasulullah diutus menjadi Nabi.

Terlepas dari perbedaan pandangan secara historis, ini menunjukkan keseriusan para ilmuan muslim melacak akar sejarah peristiwa besar itu, seperti halnya ditunjukkan Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wan Nihayah atau Ibnu Hisyam yang melakukan pencarian melalui kisah-kisah shahih dalam Alquran dan sunnah atau Syekh Akram Dhiya’ Al Umuri yang mengarang kitab Shahih Sirah Nabawiyah juga mengulas Isra Miraj.

Pelbagai kitab diatas, secara substansi tidaklah bertentangan satu dengan lainnya. Perbedaannya terletak pada interpretasi sumber utama yakni Alquran dan hadis dan tentu saja soal matan (konten), perawi (yang menyampaikan) dan situasi yang memengaruhinya sesuai dengan keadaan yang terekam langsung dari Rasulullah.

Didalam Alquran, peristiwa Isra Miraj penggambarannya dapat dibaca dalam surah Al-Isra (17) : 1 dan Surah An-Najm (53) : 13-18. Kedua surah itu berbicara diwaktu malam, Al-Isra diartikan memperjalankan diwaktu malam dan An-Najm bermakna bintang, yang hanya dapat dilihat pada malam hari.

Dari pengertian umum, Isra Miraj berarti perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem) lalu dari Yerusalem ke Sidratul Muntaha (langit ketujuh) dimana Rasulullah menerima perintah shalat lima kali dalam sehari. Peristiwa ini pula mendudukkan wilayah Yerusalem sangat penting dan disucikan bagi umat Islam dunia, selain sebagai kiblat pertama juga berkaitan dengan peristiwa Isra Miraj Rasulullah.

Peristiwa Religiusitas

Isra Miraj merupakan peristiwa religiusitas umat Islam dalam proses penerimaan perintah shalat lima kali dalam sehari. Shalat kemudian menjadi salah satu rukun Islam setelah syahadat kemudian puasa, zakat dan haji. Menjadi rukun karena sebagai pondasi yang diwajibkan bagi orang-orang yang mengimani keesaan Tuhan.

Lalu kenapa Isra Miraj terjadi dimalam hari?, dalam pandangan penulis ada dua analisis yakni pertama, peristiwa Isra Miraj merupakan kejadian luar biasa, diluar jangkauan akal sehat manusia. Bisa dibayangkan jika peristiwa itu terjadi disiang hari dan disaksikan banyak manusia bukan tidak mungkin Nabi Muhammad akan disembah manusia lainnya sebagai tuhan.

Kedua, waktu malam hari merupakan waktu tenang, ruang berpikir kontemplatif dan saat merenung kebesaran ciptaan Tuhan atas isi jagat alam raya. Itulah sehingga perintah shalat lainnya, shalat tahajud (qiyaamul lail) berada di surah yang sama (al-Isra) yang dilaksanakan pada malam hari untuk mengangkat manusia menuju tempat terpuji dan malam pula adalah waktu terbaik memohon doa dan ampun kepada Allah SWT (32:16-17; 51:17-18).

Jika dibandingkan dengan akal sehat manusia, jarak antara Mekah ke Yerusalem atau Palestina sepanjang 1.500 kilometer arah utara kota Mekah biasanya ditempuh dalam waktu beberapa bulan dengan moda transportasi pada masa itu berkendara unta, kuda atau keledai dan tidak mungkin dalam waktu semalam.

Tuhan sendiri dalam ayat itu memberi pengakuan bahwa perjalanan semalam Isra Miraj sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya atas ketidakmampuan nalar manusia. Sesuatu diluar jangkaun nalar atau kaget atas suatu peristiwa besar dan tiba-tiba, kita sering berucap, “subhanallah” demikian diayat ini Tuhan menyampaikan lebih awal subhanallah agar peristiwa Isra Miraj tidak membuat kaget dan jantungan karena tak terjangkau pikiran manusia.

Sementara peristiwa Miraj diterangkan dalam surah An-Najm (bintang) menunjukkan perjalanan menuju ke sidratun muntaha ditandai dengan bintang gemintang yang kilauannya akan nampak sangat indah dimalam hari yang memesona mata manusia sampai menembus langit ke tujuh (bersemayam diatas arsy) menerima perintah shalat.

Jangan lupa bahwa perintah shalat awalnya sebanyak 50 (lima puuh) kali sehari semalam. Lalu ketika berjumpa Nabi Musa sekembali menghadap Tuhan terjadi diskusi antara keduanya, Rasulullah dan Musa. Musa memberi saran kepada Rasulullah memohon kembali kepada Tuhan agar perintah lima puluh kali shalat dikurangi.

Bolak-balik atas saran Musa, Rasulullah sampai dijumlah lima kali shalat dalam sehari itupun masih disarankan agar kembali lagi meminta keringanan perintah shalat namun Rasulullah sudah merasa malu, hingga Tuhan berfirman, bahwa tiap-tiap satu waktu shalat bernilai 10 kali lipat pahala dan dalam shalat lima kali sehari setara dengan 50 kali shalat.

Peristiwa Isra Miraj dalam perjalanannya mengendarai buraq (kilat) dan ditemani malaikat Jibril yang berperan sebagai pemandu (guide) hingga langit ketujuh dan diajak ke pelbagai tempat melihat kehidupan lain (syurga) dan menyaksikan banyak peristiwa dan pembelajaran kelak bagi umatnya.

Tafsir Pilpres

Lalu apa pelajaran peristiwa Isra Miraj dalam konteks dan tafsir pilpres ?. Dalam pandangan saya semua ajaran dan dogma agama yang melangit itu harus mampu dibumikan secara kontektual. Sebab sejatinya agama untuk manusia bukan untuk Tuhan.

Dengan cara pandang itu, peristiwa Isra Miraj harus dapat ditafsirkan tidak saja soal religiusitas-trasendental esoterik tetapi juga realistis-aktual dan profan. Dalam konteks itu sabda langit baru dapat mewujud dan berguna sebagai “hudan” petunjuk manusia dalam menjalani kehidupan dunia.

Pilpres adalah dunia profan, tidak transenden tapi nilai-nilai transendental atau ajaran langit haruslah menjadi nilai intrinsik dalam kehidupan dunia termasuk dalam soal pilpres. Pilpres harus diberi makna sebagai proses perjalanan menuju penjabaran ajaran-ajaran langit, dan sabda langit harus diupayakan membumi dalam proses pilpres sehingga menemukan titik taut erat antara langit dan bumi.

Apa saja tafsir pilpres atas peristiwa Isra Miraj yang merupakan ajaran langit itu? Disini dapat dilihat dari beberapa sudut pandang yakni Pertama, Isra Miraj diluar nalar manusia, yang berarti pilpres melahirkan kejutan-kejutan politik. Sandi dan Maruf sebagai pasangan Prabowo dan Jokowi tak dinyanah menjadi pasangan capres.

Sandi pilihan Prabowo membuyarkan dua calon unggulan dari kalangan ulama yang direkomendasikan oleh ijma ulama yaitu Ust. Abdul Shomad dan Ust. Salim Aljufri. Klaim capres pro ulama dan umat Islam menjadi kontra produktif dengan ditolaknya rekomendasi ulama dan justeru memilih bukan dari kalangan ulama dan bahkan dari satu partai yang sama walau Sandi kemudian menyatakan mundur.

Maruf juga demikian, cawapres yang tak disangka dan diumumkan namanya didetik terakhir atas pelbagai tekanan politik baik dari ormas NU maupun parpol pengusung. Nama yang santer disebut adalah Mahfud, MD yang sudah siap diumumkan namun gagal karena manuver dimenit terakhir para penyokong Jokowi.

Kedua, Isra Miraj yang berarti “diperjalankan” dapat diberi makna bahwa capres tidak serta merta jadi dengan sendirinya, ada partai politik yang memperjalankan capres sehingga dapat mendaftar sebagai calon dan ditetapkan sebagai pasangan yang sah karena memenuhi persyaratan dan dukungan partai pengusung.

Ketiga, Pasangan capres adalah orang-orang yang mendapatkan kehormatan dan kewibawaan karena menjadi pilihan rakyat dari ratusan juta penduduk Indonesia yang menaruh harapan besar atas janji-janji politik yang harus ditunaikan jika terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Demikian halnya dalam Isra Miraj, Rasulullah menjadi pilihan Tuhan sebagai hamba yang diperjalankan untuk menerima amanat perinta shalat.

Keempat, Pasangan capres akan menerima pelbagai fasilitas kelas satu dan serba nyaman; pengawalan, pengamanan, kehormatan sebagai kepala negara/pemerintahan, kewibawaan dan segenap perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan rakyat biasa. Rasulullah dalam Isra Miraj juga diperlakukan sangat istimewa dengan pengawalan malaikat Jibril dan dengan kendaraan buraq (kira-kira pesawat kepresidenan) dapat bepergian kemana saja tanpa harus antri beli tiket di konter maskapai.

Kelima, Isra Miraj memberi pelajaran dalam pelaksanaan pilpres bahwa negosiasi menjadi kunci sukses dalam permainan politik kekuasaan menjadi presiden. Dalam politik, prinsip the winner take all tidak berlaku karena akan mendatangkan guncangan-guncangan politik dari kubu oposisi atau bahkan dalam koalisi yang berujung aksi impeachment seperti yang dialami Soekarno dan Gusdur pada masing-masing kepemimpinannya.

Dengan kecekatan Rasulullah atas saran Musa perintah shalat lima puluh kali akhirnya bisa dinegosiasikan dengan sang Khalik menjadi lima kali dalam sehari. Negosiasi, Lobi dan menerima sumbang saran adalah kunci kesuksesan dalam politik pilpres untuk memenangkan dan bertahta dihati rakyat.(*)