Opini : Anomali Golongan Putih Dalam Pesta Demokrasi

Oleh : Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Publik/ Universitas Negeri Makassar

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Golput atau Golongan Putih adalah orang-orang yang memilih untuk tidak memilih pada saat pesta demokrasi berlangsung. Kebanyakan dari mereka yang memilih untuk tidak memilih pada pesta demokrasi menyatakan bahwa penguasa yang serakah. Maksudnya disini adalah mereka telah bosan atau sudah tidak percaya lagi pada penguasa yang mencalonkan, karena selama ini banyak bukti fisik yang telah beredar atas keserakahan penguasa, salah satu yang paling menyedihkan ketika perusahaan-perusahaan milik para penguasa negeri melakukan pekerjaan tambang batu bara yang ada di Kalimantan, Indonesia.

Seperti yang telah di pertontonkan oleh channel youtube “watchdoc image” dalam film dokumenter berjudul “sexy killers” sangat jelas menggambarkan betapa serakahnya para pemimpin bangsa negeri, yang dengan mudahnya memberikan izin pada perusahaan-perusahaan tambang batu bara dan memberikan kemudahan hukum pada setiap pelanggaran yang dilakukan oleh tambang tersebut hanya karena diberikan jumlah persenan yg lebih tinggi dan bukan untuk bangsa melainkan untuk individual para petinggi negeri tanpa mempertimbangkan dampak negatif bagi pada penduduk sekitar area tambang, jika mereka berfikir masalah isi perut, itu hal yang wajar karena itu adalah sifat manusiawi manusia, tapi jangan karena isi perut juga, mereka seenaknya merusak bumi dan mata pencaharian rakyat-rakyat kecil. Sejatinya tambang batu bara sangatlah baik untuk kesejahteraan rakyat karena salah satu fungsinya yaitu membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap. Seperti yang kita ketahui, PLTU atau Pembangkit Listrik Tenaga Uap adalah pembangkit yang mengandalkan energi kinetik dari uap untuk menghasilkan energi listrik. Bentuk utama dari pembangkit listrik jenis ini adalah generator yang seporos dengan turbin yang digerakkan oleh tenaga kinetik dari uap panas/kering.

Dibalik fungsinya yang sangat vital di masyarakat, ada anomali yang terjadi di kehidupan masyarakat sekitarnya, mulai dari mata pencahariannya yang terusik hingga nyawa yang melayang. Perusahaan tambang batu bara mayoritas tidak melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan prosedur yang berlaku, dimana lubang dari hasil penggalian batu bara tidak ditutup kembali, jarak lokasi pengerjaan yang sangat dekat dengan pemukiman warga hingga penrusakan ekosistem laut.

Masyarakat yang merasa terganggu akan hal itu sudah mempertanyakan pada pemilik perusahaan dan pemerintah, tapi jawabannya hanya sebuah janji yang tak kunjung terealisasi. Hakikatnya membangun sebuah infrastruktur memang harus ada yang dikorbankan tetapi dengan catatan, ganti untung bukan ganti buntung seperti di zaman sekarang ini, ketika lokasi pembangunan infrastruktur berada di pemukiman warga, yah jangan main gusur saja, lakukan mediasi dan dengarkan aspirasi masyarakat, jangan menolak usul tanpa ditimbang, apalagi menolaknya dengan cara yang tidak manusiawi.

Mayoritas penduduk yang memilih untuk tidak memilih pada pesta demokrasi mempunyai beragam argumen seperti halnya rezim yang dimana hukum Indonesia yang “runcing ke bawah tapi tumpul ke atas”. Ketika kisah nenek Asyani yang mencuri 2 batang pohon divonis 1 tahun penjara sedangkan PT. Bumi Mekar Hijau membakar 20.000 hektar hutan divonis tak bersalah. Masih teringat pernyataan Bapak Hatta Rajasa yang mengatakan bahwa “Dalam perlakuan HUKUM, jangan TUMPUL KE ATAS, TAJAM KE BAWAH”. Seperti menjilat ludahnya sendiri, karena berselang beberapa bulan kemudian, anaknya mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sehingga menanbrak luxio yang merenggut dua korban jiwa dan divonis tak bersalah atau bebas. Belum lagi kasus yang sempat viral ketika “Sonya Depari” anak yang memaki polwan yang menghentikan kendaraannya diangkat menjadi “DUTA NARKOBA”, dan penyanyi dangdut “Zaskia Gotik” yang dikenal dengan goyang itiknya yang tidak mendidik diangkat menjadi “DUTA PANCASILA” sedangkan Ibu “Nurmayani Salam” guru mata pelajaran biologi di SMPN 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan, mencubit muridnya karena nakal, menjadi tahanan kepolisian. Miris ketika hukum tidak ditegakkan seadil – adilnya oleh penguasa-penguasa yang serakah.

Tradisi tersebut sudah terjadi sangat lama dan hanya membuat rakyat kecil sengsara. Sebagaimana sila kelima dari pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, hanya sebuah ideologi tanpa pembuktian dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri. “ Keadilan tidak akan tercipta ketika penguasa masih serakah”, mungkin kalimat tersebut mewakili keresahan rakyat kecil yang ditindas, sebagaimana pernyataan Ir. Soekarno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Terlepas dari itu semua, tidak ada kata terlambat untuk membangun negeri, agar terciptanya keadaan yang lebih kondusif, pemerintah perlu lebih memperhatikan lagi rakyat kecil agar keadilan tercipta untuk seluruh rakyat Indonesia. Di balik cita-cita tersebut, tidak akan tercipta apabila masyarakat tidak percaya terhadap pemerintah. Ketika masyarakat sibuk menyalahkan penguasa, tapi tidak menyalahkan diri sendiri. Tidak ada satu pembangunan atau kebijakan yang akan terlaksana dengan baik apabila masyarakat tidak mendukung hal tersebut, dalam artian pembangunan yang baik bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Salah satunya dengan berpartisipasi dalam pesta demokrasi, ketika memilih untuk tidak memilih sama saja dengan tidak berpartisipasi dalam pembangunan bangsa.

Jika track record dari calon pemimpin yang menjadi permasalahan, maka tidak ada lagi yang bisa memimpin negeri ini. Tuhan skalipun masih memberi kesempatan dan memaafkan hambanya yang berbuat salah, bagaimana dengan kita? Akankah melampaui sifat-Nya? Tidak ada seseorang yang baik yang tidak memiliki masa lalu dan tidak ada seseorang yang buruk yang tidak memiliki masa depan.

Bukankah semua berawal dari kepercayaan, jika kita sudah percaya pada mereka dan mereka tidak melaksanakan tugas yang mereka emban dengan baik, maka kita tidak boleh tinggal diam saja, satukan suara untuk melawannya. Pemimpin sejatinya dipilih dan digaji oleh rakyat, jadi ketika pemimpin tidak pro kepada rakyatnya, maka hanya ada satu kata, lawan!

Mari bersatu dan membuka nalar kita serta memberi kesempatan kepada seseorang yang ingin mengabdikan dirinya untuk memimpin bangsa ini, bersinergi dengan pemerintah, dengan catatan pemerintah juga harus memperhatikan aspirasi rakyatnya. Keadilan harus ditegakkan! Pesta demokrasi tahun ini sudah di depan mata, hanya ada dua calon yang mencoba untuk mengabdikan dirinya sebagai pemimpin bangsa, yaitu Ir. H. Joko Widodo dengan Letnan Jenderal H. Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Keduanya adalah putra terbaik Indonesia, siapapun presidennya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah hal yang paling utama yang harus diperhatikan. Jadilah pemilih yang cerdas, jangan memilih untuk tidak memilih! Karena sejatinya itu adalah pilihan yang kurang tepat bagi orang-orang yang menginginkan perubahan.(15.4.19)