Dua Puluh Tahun di Belakang Pak JK

Nasdem

Oleh : Yarifai Mappeaty

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Judul itu diinspirasi oleh serpihan ceramah Ustadz Das’ad Latif pada acara Halal Bi Halal (HBH) IKA UNHAS di Istana Wapres di Medan Merdeka Selatan, 6 Juli 2019 . Acara itu sendiri, oleh kawan-kawan alumni disebut sebagai HBH Wada’. Maklum, acara itu diselenggarakan pada saat-saat terakhir Pak JK selaku Ketua Umum IKA UNHAS menjabat Wapres.

“…..Pak Jokowi di-back up Pak JK dan di belakang Pak JK ada Pak Uceng,” demikian Das’aad kurang lebih. Potongan ceramah Das’ad itu, tampaknya tak serta merta muncul begitu saja. Tetapi respon terhadap sambutan Pak JK sebelumnya yang menegaskan komitmen beliau untuk mendorong Alumni Unhas untuk berkiprah hingga di tingkat nasional.

Komitmen Pak JK itu sekaligus menepis anggapan selama ini bahwa beliau tidak memiliki komitmen terhadap pengembangan karier alumni, sebagaimana mencuat dalam berbagai percakapan di grup-grup whatsapp alumni Unhas. Di sini, Pak JK sering dituding hanya memikirkan pengembangan bisnis keluarganya.

Anggapan semacam itu tentu saja keliru, sebab Pak JK realitasnya tak seperti itu. Setidaknya, terbukti dalam sambutannya, beliau secara khusus memberi perhatian khusus pada sosok-sosok yang memiliki kapasitas dan kualitas kepemimpinan di daerah agar tidak tinggal di daerah. Tetapi Pak JK mendorong mereka agar mau berkiprah pada level yang lebih tinggi.

Pada bidang politik misalnya, beliau menyebut sosok Bupati Bone (A. Fahsar Padjalangi, pen) agar berfikir menjadi Gubernur Sulsel kemudian menjadi menteri, sebagai contoh. Hanya saja, pemikiran beliau ini jangan lantas ditafsir secara latah, bahwa beliau telah lebih dini menetapkan dukungannya di Pilgub Sulsel pada 2022. Tentu bukan begitu maksudnya, sebab momentum itu masih terlalu jauh.

Tetapi Pak JK bermaksud berpesan kepada generasi muda Sulsel agar membangun karier politik dari bawah secara berjenjang. Jangan ujug-ujug tiba-tiba muncul di pentas nasional dengan latar belakang dan sejarah proses perjuangan yang tidak jelas. Konkritnya, Pak JK menekankan betapa pentingnya membangun basis sosial ekonomi dan politik.

Sebab, dengan basis sosial ekonomi politik yang kuat, seseorang menjadi tak gampang digoyang ketika sudah berkiprah di kancah nasional. Memang preposisi Pak JK itu seolah tak terbantahkan. Terlebih ketika kita menunjuk dirinya sebagai contoh kasus. Diakui atau tidak, sosok beliau nyaris paripurna dengan preposisi itu.

Dalam dua puluh tahun terakhir di negeri yang demikian besar ini, sosok beliau dinilai unik dan langka, kalau tak berlebihan disebut tak ada duanya. Bahkan ada yang menilai kehadirannya di kancah nasional karena kehendak semesta. Beliau mengemban “titah langit” untuk menjadi penyeimbang dan perekat. Bahkan realitasnya, beliau menjadi corong aspirasi untuk kepentingan luar Jawa.

Di Phoenam Wahid Hasyim Gondangdia Jakarta, sepulang dari acara tersebut, sambutan Pak JK pun dipercakapkan. Ditafsir dalam berbagai sudut pandang. Bahkan lebih jauh dari itu, ada yang menilai bahwa beliau masih dimintai pertimbangan oleh Pak Jokowi dalam hal penyusunan kabinet dan jabatan struktural lainnya.(*)