Membaca 1,5 Tahun Kepemimpinan Airlangga Hartarto

Nasdem

Oleh  : Irwan Kurniawan, SH. (KETUA PP AMPG)

SUARACELEBES.COM, JAKARTA -Memimpin sebuah partai politik yang telah berusia lebih dari setengah abad bukanlah perkara gampang. Apalagi jika terjadi pada masa transisi di mana sebelumnya dihantam dengan badai tergerusnya kepercayaan publik akibat kasus korupsi yang menimpa beberapa pimpinan partai sebelumnya.

Satu setengah tahun memimpin Partai Golkar, bukannya dilalui Airlangga Hartarto tanpa hambatan. Dinamika yang terjadi di internal partai berlambang Beringin, menguras energi dan menguji talenta politik Airlangga Hartarto yang juga diberi amanah menjabat menteri Perindustrian oleh Presiden RI Joko Widodo.

Waktu pada akhirnya membuktikan, politisi kelahiran Surabaya, 1 Oktober 1962 silam itu, mampu meloloskan partai Golkar dari lubang jarum. Ia berhasil mengantar partai yang dipimpinnya meraih kursi terbesar ke dua pada Pileg 2019 sebanyak 85 kursi dengan perolehan suara 17.229.789 atau 12,31%.

Kepiawaiannya dalam berpolitik menuntunnya pada jalan kemenangan saat memutuskan menjadi partai pengusung pasangan Jokowi – Maaruf Amin pada Pilpres 2019.

Partai Golkar yang pasca reformasi selalu mengalami kegagalan dalam mencalonkan presiden RI, saat ini berhasil meletakkan catatan sejarah bahwa ternyata mampu mengantarkan Jokowi menjadi Presiden RI periode 2019-2024.

Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tanjung pun melayangkan apresiasinya terhadap kepemimpinan Airlangga Hartarto yang dinilainya sangat spektakuler, karena di tengah hantaman badai yang begitu dahsyat, Partai Golkar tetap mampu bertahan.

Keberhasilan ini patut mendapat apresiasi yang tinggi dalam menjalankan roda organisasi Partai Golkar. Ajakan pribadi serta kesadaran ini seyogyanya bisa tertular secara masif kepada kader dan simpatisan partai Golkar.

Tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk mempersoalkan prestasi Partai Golkar. Saat ini, para punggawa Partai Golkar yang tersebar di DPD provinsi, kabupaten/kota hingga desa wajib mengikuti keberhasilan ini, dan diharapkan bisa belajar dari keberhasilan nasional.

Tidak dapat dipungkiri ada beberapa daerah yang gencar melancarkan kritik namun yang bersangkutan lupa melakukan introspeksi pada lingkungannya sendiri. Bahkan menjadi rahasia umum kalau kegagalan total itu terjadi.

Disarankan kepada para pengurus daerah Partai Golkar tertentu tersebut sebaiknya tabayun agar tidak salah kaprah bahwa seakan berhasil padahal Gatot (gagal total)

Kita sama – sama mengetahui bahwa kegagalan konsolodisai Partai Golkar pada daerah – daerah tertentu itu bukti bahwa ternyata para petinggi Golkar di daerah tersebutlah yang harus dievaluasi

Sebagai kader yang dipercayakan atau mendapat amanah mengamankan kebijakan Partai Golkar di daerah harus mampu membuktikan keberhasilan kepemimpinannya, bukan malah selalu mencari kelemahan pada pengurus di tingkat nasional.

Semoga ada kesadaran untuk dapat merenungi atas kegagalan yang tercipta di daerahnya tersebut dan memberikan kesempatan kepada para pengurus partai di kabupaten/kota lebih leluasa untuk berekspresi dalam pilihan politik.

(Jakarta, 5 September 2019)