Selamat Jalan Sang Pemilik Cinta Sejati

Nasdem

(In Memorial Alm Prof Dr Ing BJ Habibie)

Oleh : MS Baso DN

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Menjelang akhir masa jabatan B.J Habibie sebagai bapak Presiden Republik
Indonesia yang menggantikan Bapak Soeharto yang mengundurkan diri pada bulan Mei 1998 akibat desakan berbagai kalangan khususnya mahasiswa yang terkenal dengan Era Reformasi, Presiden BJ Habibie harus memberikan laporan pertanggungjawaban dihadapan sidang MPR RI.

Sebagai presiden maka memiliki kewajiban untuk memberikan laporan pertanggungjawaban pada MPR RI pada sidang umum. Menghadapi situasi politik saat itu, oleh kak Marwah Daud Ibrahim sebagai salah satu orang terdekat BJ Habibie kala itu, mengirim informasi ke berbagai elemen masyarakat di Sulsel untuk memberikan dukungan kepada Sang Presiden Habibie, agar LPJ nya diterima. Sebagai Presiden yang merasa bagian dari putra terbaik asal Sulsel karena terlahir di Kota Parepare berharap agar mendapat dukungan moril maupun spirit agar semakin kuat menghadapi ‘serangan’ para politisi di Senayan.

Maka berangkatlah kami dengan 15 orang rombongan yang tergabung dalam wadah/lembaga bernama Formasi Sulsel yang terdiri dari beberapa anak muda kala itu, baik yang berlatar belakang NGO maupun insan kuli tinta, dan saya didaulat sebagai Ketua sekaligus pimpinan rombongan. Surat pernyataan dukungan agar LPJ Presiden BJ Habibie diterima pun kami sudah dipersiapkan.

Dengan numpang menginap di mess Kodam VII Wirabuana selama 3 hari 3 malam, kami menyusun rencana menghadapi hari H dilaksanakannya Sidang Umum MPR RI yang agendanya mendengarkan LPJ Presiden BJ Habibie, tepatnya pada Tahun 1999, yang pada akhirnya kita semua sudah mengetahui LPJ Presiden BJ Habibie ditolak oleh MPR RI.

Faktor utama penolakan pertanggung jawaban presiden B.J Habibie pada sidang umum MPR tahun 1999 seperti disarikutifkan dari berbagai sumber dan referensi adalah selain karena ‘berbau’ politis juga penilaian beberapa politisi Senayan yang menganggap B.J Habibie telah gagal dalam melaksanakan tugasnya sebagai presiden, padahal Presiden BJ Habibie adalah pemimpin di Republik ini yang mampu menstabilkan nilai rupiah terhadap dollar kala itu. Setelah BJ Habibie menyampaikan
laporan pertanggungjawaban presiden di hadapan seluruh anggota MPR maka MPR
melaksanakan voting mengenai tanggapan laporan pertangggungjawaban BJ Habibie.

Apakah mereka menerima atau menolaknya. Hasil akhir dari voting ialah: Sejumlah 355 anggota menolak
pertanggungjawaban, sementara yang menerima hanya 322 anggota menerima pertanggungjawaban. 9 suara yang abstain dan sebanyak 4 suara yang dinyatakan
tidak sah.

Total suara yaitu 690 orang (sumber data&referensi disarikutifkan). Dengan demikian hasil akhirnya
adalah pertanggunjawaban BJ Habibie ditolak oleh MPR. Itulah akhir episode BJ Habibie sebagai Presiden RI ke 3 yang dijabatnya kurang lebih 17 bulan. Selamat jalan pak Habibie…selamat jalan sang teknokrat…selamat jalan sang mantan Presiden, selamat jalan sang pemilik cinta sejati,,,kami semua bangsa Indonesia ikhlas melepaskan kamu pergi ….Insya Allah SurgaNya Allah menantimu…Al-Fatihah…

Makassar, 11 September 2019 Pukul 21.20 WITA.