Gerakan Moral Anak Milenial  dan Pementasan Oligarki

By : Ano “Aldetrix” Suparno

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR -Gerakan 24 September (G24S) yang dilakukan secara heroik oleh mahasiswa nyaris tak pernah saya lihat aksi sebesar dan se gerakan moral itu dilakukan oleh mahasiswa pasca dua dekade, 1998 silam. Sangat begitu lama saya menyimak aksi gerakan baik dilakukan oleh kelompok masyarakat, mahasiswa dari berbagai isu dan tema tetapi saya tak pernah melihat aksi sehebat G24S. Aksi G24S melambungkan ingatan saya menuju tahun 1998, tahun di mana pada itu saya menjadi bagian di dalamnya.

Lalu setelah itu, saya menggunakan mata dan kamera ku menyaksikan aksi aksi mahasiswa sepanjang dua dekade. Dan aksi G24S, kusimpulkan sebagai reinkarnasi dari aksi 98 lalu. Sedikit saja yang berbeda. Aksi G24S dilakukan secara bergembira dan riang. Termasuk angle aksi. Jika 98 fokus menjatuhkan Suharto maka 019 memiliki beberapa angle tentang hak hak sipil yang cenderung menutup ruang demokrasi. Aksi heroik anak anak milenial ini pun seolah klimaks dari “cibiran” anak anak generasi sebelumnya yang menyebut sebagai generasi Gadget yang bacaannya Google, bermain game serta nongkrong di cafe. Kita pun jadi kaget dan haru. Saat melihat aksi dari berbagai kota dan kampus besar tiba tiba menyatu menyuarakan aksi yang sama. Tujuannya pun sama, gedung DPR, DPRD dan kantor gubernur. Saya kemudian berpikir, apa yang menggerakkan se heroik ini lalu kemudian diikuti oleh pelajar?

Kamis kemarin, selama empat jam, saya menyimak disertasi Akbar Faisal tentang Oligarki Partai Politik di Indonesia serta implementasinya. Kemudian malam hingga dinihari ku lanjutkan berdiskusi bersama bang Akbar, salah seorang rektor PTN dan Akbar Endra – teman saya sejak mahasiswa. Di rumah ku renungkan, apakah ada kolerasinya? Dan siang ini kusimpulkan, bahwa aksi G24S itu adalah bentuk kemuakan rakyat atas hasil dari praktik oligarki itu yang telah berlenggok di Indonesia. Tentang RUU KPK dan sejenisnya, itu hanyalah pemantik belaka tetapi sesungguhnya yang terjadi adalah selama ini kita terlena oleh suasana seolah olah demokrasi yang telah dipraktikkan oleh para oligar hasil dari oligarki partai politik di Indonesia. Sehingga pada saat ada sebuah momen, maka kebuntuan itu pun dipecahkan oleh adik adik mahasiswa.

Sejak praktik oligarki itu, kita terlena oleh oligar yang entah dari mana usul usulnya tiba tiba menjadi seorang anggota dewan, menjabat sebagai kepala daerah, pejabat hingga mengitari pengambil kebijakan bagaiklan rombongan sirkus. Dampaknya kemudian adalah, para oligar itu menciptakan suasana seolah olah demokrasi, mereka berbicara tentang demokrasi, mengikuti praktik demokrasi sebagai syarat label demokrasi itu, tetapi pada praktiknya secara teknis – justru menjauhkan dari publik atas segala kebijakan yang ia praktikan. Oleh karena selama ini, pemraktek oligarki itu – dengan gagah dan sombongnya melenggokan kakinya bagai sedang melenggok di catwalk lalu kita disuruh bertepuk tangan. Dan itu terjadi sehari hari.

Ancaman bagi kita adalah, demokrasi kelak itu hanyalah seremoni, sok demokrasi, media dibuat bebas, Pilkada terkesan demokrasi. Tetapi dipraktikkanpara oligar yang berkuasa, menutup ruang dengan caranya sendiri untuk kepentingan dirinya sendiri. Ini praktik telah berjalan dan kita tanpa sadar, bertepuk tangan serta riuh gembira. Dan anehnya, beberapa politisi yang memiliki idealisme dan mantan aktivis 98, ikut bertepuk riah. Walau dirinya sadar.

Jadi menurut saya, apa yang Akbar Faisal teliti hingga mendapat nilai paling tertinggi dalam sebuah promosi Doktor Summa Cum Laude, bukan sekedar ancaman lagi tetapi telah berlangsung pada demokrasi kita yang tanpa sadar kita bertepuk tangan dan terlibat. Dan alhamdulilah, Adinda Adinda mahasiswa tanpa sadar – bangun dari gadgetnya, mendobrak hasil dari praktik oligarki itu. Saya berharap, lingkaran kekuasaan tidak melihat secara hitam putih atas aksi mahasiswa dan pelajar Indonesia, tetapi ada sesuatu demokrasi yang sedang berjalan tetapi tidak sehat. Kita belum terlambat, terima kasih adik-adiku para mahasiswa dan pelajar yang heroik.

Penulis : 
Seorang yang sering menulis, dan suka nongkrong.

PEMKOT-Makassar