Masih Adakah Orang Miskin?

Oleh : SYAMSARI, Bupati Takalar, Peserta International Visitor Leadership Program,Washington DC

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Amerika Serikat disebut negara adidaya karena menunjukkan banyak keunggulan. Keunggulan dalam ekonomi misalnya dapat dilihat pada pertumbuhan ekonomi yang diprediksi oleh IMF sekitar 2% di tahun 2020 di tengah perlambatan ekonomi global dan perang dagang dengan Cina. Pendapatan per kapita di AS juga tergolong tinggi, yakni sebesar USD59,000 atau sekitar Rp813 juta.

Pertanyaannya adalah masih adakah orang miskin di negeri yang hebat ini? Jawabannya adalah ya, tentu saja. Di belahan bumi manapun pasti ditemukan orang miskin, tak terkecuali di AS dengan segala kehebatannya.

Data dari Departemen Perumahan dan Pengembangan Perkotaan AS menunjukkan bahwa ada sekitar 553,000 orang tuna wisma (homeless people) di seluruh Amerika Serikat pada tahun 2018.

Di sejumlah kota, tuna wisma dapat ditemukan di beberapa titik di dalam kota, di sejumlah lampu merah sering kali ditemui para tuna wisma berdiri dengan tulisan di karton bekas bertulis ‘help’.

Tidak ada satupun sistem di dunia saat ini, baik itu sistem ekonomi atau secara luas lagi ideologi yang diterapkan
di suatu negara yang bisa menghapus kemiskinan seperti membalikkan telapak tangan.

Setidaknya itulah yang disampaikan oleh semua elit di AS. Status sebagai negeri adidaya tak cukup kuat untuk membebaskan semua orang dari kemiskinan.

Sebagai contoh adalah Arlington County di Virginia (setara kabupaten), yang rombongan kami kunjungi beberapa hari lalu, tidak sulit menemukan orang miskin di County yang relatif makmur dengan wilayah relatif kecil karena semua sudut kota dapat dijangkau dalam waktu tempuh 20 menit.

Walaupun Menurut data USA, pada tahun 2017, Arlington yang berpenduduk 230 ribu jiwa memiliki pendapatan rata-rata rumah tangga sebesar USD112,138 ribu atau setara dengan Rp1,5 miliar dan dengan APBD Arlington sekitar Rp17 triliun, tidak serta merta membuat semua orang hidup sejahtera. Bahkan, setidaknya 8,16% penduduk di Arlington County digolongkan miskin atau hidup dibawah garis kemiskinan.

Meskipun yang dimaksud miskin di negeri ini terlihat lebih tinggi level pendapatannya jika dibandingkan secara nominal dengan pendapatan warga negara berkembang seperti pendapatan di Indonesia.

Karena yang dianggap miskin di AS adalah mereka yang pendapatan rata-rata perorang sekitar 6000-7000 dolllar pertahun atau setara dengan 80-90an juta rupiah pertahun. Namun jika pendapatan sebesar itu dibandingkan dengan besaran harga barang dan jasa di AS pastilah tak mencukupi. Dan jelas dikategorikan miskin.

Ada beberapa faktor yang melatar belakangi kemiskinan di AS, seperti tingginya harga rumah,perceraian, penggusuran, kesehatan mental hingga bencana alam.

Dari sisi manusia, ada yang memang tidak bisa mendapatkan pekerjaan bagus karena terjebak dalam kemiskinan struktural sehingga menjadi tuna wisma, tapi ada yang sudah bekerja keras namun tetap mendapatkan penghasilan yang tidak bisa secara penuh menutupi semua kebutuhan hidup.

Beberapa program pemerintah berupa pemberian asuransi kesehatan, perumahan dan pendidikan pun digencarkan di AS.

Hal yang lebih spesifik dan merupakan praktek yang patut dicontoh adalah sikap pemerintah dan seluruh stakeholder yang tegas bahwa harus ada waktu untuk mengakhiri bantuan tersebut dengan cara membuat orang itu menjadi berdaya.

Apalagi, budaya di AS lebih menyukai kemandirian dan karena itu secara pribadi pun mereka akan berjuang untuk bisa keluar dari jerat kemiskinan.

Sebagian orang mungkin menganggap bahwa menjadi miskin adalah ‘takdir’. Namun, ‘takdir’ seperti itu bisa diubah, meskipun tentu membutuhkan waktu, sumber daya dan keberanian dari pengambil kebijakan.

Di AS, isu kemiskinan, khususnya tuna wisma, telah menjadi isu nasional sejak tahun 1870-an. Hal ini meningkat dengan peristiwa Depresi Ekonomi 1930-an yang menyeret jutaan orang ke jurang kemiskinan. Itu artinya, AS telah meramu berbagai macam kebijakan untuk mengentaskan kemiskinan setidaknya selama 150 tahun terakhir.

Lalu, apa yang bisa kita refleksikan dengan model pengentasan kemiskinan di negeri kita? Model pendekatan yang selama ini dilakukan pemerintah dimulai dengan pendataan, pembinaan dan pemberian bantuan material oleh pemerintah kepada orang miskin.

Usaha ini tentu harus diapresiasi dan didorong agar kualitasnya terus meningkat dengan pengkajian yang dilakukan secara rutin. Hal yang lebih penting dari itu semua adalah mengubah pola pikir manusia.

Tugas kita semua untuk mendidik masyarakat agar memiliki keinginan kuat untuk berubah, memiliki mentalitas mandiri dan tidak bergantung pada orang lain jika masih memiliki sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Jika mentalitas ini telah terbentuk dan menjadi pikiran umum pada masyarakat kita, serta telah menjadi filosofi dalam tata kelola yang dijalankan oleh pemerintah, saya kira kita telah berada pada arah yang benar untuk mengurangi kemiskinan dan mendorong peningkatan kesejahteraan dengan cepat.(*)