Kapus Keera Ruslan: Kami Butuh Dokter, Apoteker dan Analis Kesehatan

SUARACELEBES.COM, WAJO – Kepala Puskesmas Keera, Kabupaten Wajo, Ruslan mengatakan bahwa selain dokter, mereka tak punya apoteker dan analis kesehatan.

“Padahal obat tidak dapat dikeluarkan tanpa persetujuan apoteker,” ujarnya pada dialog antara Camat Keera Andi Ahmad Ridha dengan beberapa elemen masyarakat Keera di Aula Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Keera, Selasa, 16 Juni 2020 siang kemarin.

Pada kesempatan tersebut Ruslan mengucapkan terimakasih kepada Camat Keera yang baru karena telah meluangkan waktunya beranjangsana ke kantornya.

Acara tersebut dilanjutkan dengan “Deklarasi Masyarakat Keera Siap Menerima dan Menjaga Dokter”. “Kami masyarakat Kecamatan Keera bersiap menerima dan menjaga siapapun dokter yang bertugas dan berdinas di Kecamatan,” demikian pernyataan sikap yang dibacakan Abdul Wahab Dai, Ketua KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Keera di hadapan Yudistira, utusan dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Kabupaten Wajo yang diundang secara khusus untuk menerima dan mendengar aspirasi masyarakat Keera.

Dialog dihadiri oleh Kepala UPTD Puskesmas Keera beserta jajarannya, hadir pula sekelompok masyarakat Keera dalam hal ini Pengurus KNPI dan Karang Taruna (dengan Ketua Agustan), hadir pula Kepala Polsek Keera Nasrul, Komandan Pos Rayon Militer Keera Herwandi, Kepala Desa Pattirolokka Wahyuddin, Lurah Ballere Arifuddin, dan beberapa tokoh masyarakat seperti Hakim dari Ballere, Manni dan Muh. Yusuf dari Inrello.

Sebelumnya, Abdul Wahab Dai memohon maaf kepada para dokter yang bertugas di Keera jika sekiranya ada sikap-sikap masyarakat Keera yang kurang berkenan. Meski tidak dapat dibuktikan, isu penolakan dan keengganan para dokter bertugas di Keera menjadi pembahasan utama dalam dialog tersebut.

“Sebaiknya kita fokus ke penyediaan sarana dan prasarana bagi dokter yang bertugas agar mereka betah bertugas di Keera,” ujar Hakim memberi saran. Katanya, kita abaikan saja isu horor yang sering menimpa dokter di Keera.

“Kami meminta pemerintah mempercepat saja peningkatan fasilitas di Puskesmas Keera, misalnya rumah dinas dokter dan yang lainnya,” harap Hakim yang juga Ketua LPMK Ballere. “Mungkin saja gegara fasilitas yang membuat mereka tidak betah,” katanya memberi alasan.

Dalam dialog tersebut, Kepala Polsek Keera Nasrul mengungkapkan siap mengamankan dokter yang bertugas di Keera. “Isu ketakutan dokter di Keera itu mitos, tidak ada bukti yang valid,” terangnya.

Namun, lanjutnya, memang kita tidak bisa mengabaikan cerita-cerita insiden yang pernah menimpa dokter di Keera. Dalam catatan media ini, kekosongan dokter di Keera terjadi sejak tiga tahun lalu. Saat ini, Puskesmas Keera mendapat bantuan dokter dari Pitumpanua selama dua hari kerja.

Pada saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Keera tahun lalu, seorang peserta sempat mengutarakan keluhannya kepada Wakil Bupati Wajo Amran yang hadir saat itu. Pada Musrenbang tahun ini, secara informal warga juga mengutarakannya ke Bupati Wajo Amran Mahmud perihal kekosongan dokter.

Camat Keera dalam kesempatan tersebut menjelaskan, dia berusaha melanjutkan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh camat sebelumnya untuk menghadirkan dokter.

“Komunikasi telah saya buka kembali dengan Dinas Kesehatan. Semoga ada jalan,” ujarnnya berharap.

Tahun ini, dalam pendaftaran CPNS pada formasi dokter, tak satupun yang memilih Puskesmas Keera sebagai calon wilayah tugas. Inilah yang menjadi tanda-tanya besar bagi masyarakat Keera, sehingga menduga-duga keengganan mereka bertugas di Keera, meski dugaan itu tidak dapat dibuktikan.

Surat pernyataan sikap Masyarakat Keera sendiri ditandatangani oleh Abdul Wahab Dai dari Paojepe, Agustan dari Inrello dan Wahyuddin, Kepala Desa Pattirolokka. Deklarasi tersebut akhirnya diserahkan ke Yudistira, perwakilan IDI. “Sebetulnya kita harus memperbanyak komunikasi. Misalnya pernyataan tentang penolakan pasien rujukan korban kecelakaan di RSUD Lamaddukelleng, itu tidak benar! Yang benar adalah, sarana yang tidak menunjang sehingga kami tidak dapat menerimanya,” bela Yudistira.

Jadi kalau kepala bocor, lanjutnya, ya harus berobat di luar Wajo. “Jadi bukannya kami menolak, alat yang tidak ada!,” pungkasnya. Dia pun mengakhiri dengan mengajak masyarakat Keera untuk memperbanyak komunikasi agar tidak terjadi miskomunikasi.(*)

PEMKOT-Makassar