Regina Kenalkan Sutera Sengkang dengan Bahasa Perancis

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Pekan-pekan terakhir ini, para pembelajar (pelajar dan mahasiswa) Bahasa Perancis di Nusantara antusias dengan sebuah kompetisi video kreatif berbahasa Perancis. Format lomba sendiri berupa adu kreativitas penyuntingan audio-visual demi mengurangi pertemuan yang dapat mempercepat merebaknya wabah koronavirus.

Pun para pelajar dan mahasiswa pembelajar Bahasa Perancis di Sulawesi Selatan tidak melewatkan kompetisi ini. Mahasiswa Kampus Merah Unhas di Makassar, sebagai kampus penyelenggara Departemen Sastra Perancis dari total 15 kampus di Indonesia gabungan antara pedagogi dan kesusasteraan turut meramaikan kompetisi bertajuk Olimpiade Bahasa Perancis 2020.

Pembelajaran dalam jaringan, membuat para mahasiswa harus belajar dari rumah (baca: kampung). Termasuklah Regina Ramadhani, Alumni SMAN 3 Wajo, yang saat ini berguru di Departemen Sastra Perancis, Universitas Hasanuddin sejak 2018 lalu.

Awal pekan ini media ini menemui Regina di Kota Sutera, Sengkang. Sebagai frankofil (pencinta Bahasa Perancis) dia berpendapat bahwa memilih melanjutkan pendidikan di Deperteman Sastra Perancis adalah sebuah pilihan “hebat” dan pilihan “independen”. Banyak yang memandang jurusan ini tidak keren, kurang peminat. Pada tahun 1995, hanya ada 4 kampus Sastra Perancis dan 6 kampus Pendidikan Bahasa Perancis di Indonesia.

Jurusan atau Departemen Bahasa/Sastra Perancis (baik kependidikan maupun non-kependidikan) adalah jurusan langka. Ada sebuah peristiwa ketika seorang mahasiswa dari fakultas eksakta bertanya perihal jurusan yang dipilih oleh seorang mahasiswa Sastra Perancis,“Memang ada bukunya?” tanyanya. Si mahasiswa Sastra Perancis pun menjawab, “Doktor dan Professornya pun ada!,” dengan kesal dan cepat diresponnya.

Sebegitu apriorinya dia dengan jurusan ini. Regina pun mengalami hal yang sama. Banyak yang bertanya ke dia,”Mau jadi apa kamu dengan jurusan Sastra Perancis?”. Jurusan Sastra Perancis Unhas sendiri lahir pada medio dekade 1980-an pada masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef (sumber: Koran Kampus Identitas Unhas). Dia adalah mantan Ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PII) di Perancis (baca identitasunhas.com: Prof Wati, Perempuan di Balik Terbentuknya Jurusan Sastra Prancis Unhas, edisi Minggu, 29 Juli 2018.

Kini para alumninya bekerja pada beragam bidang: ada politisi, dosen, guru, pengusaha, birokrat, perwira militer, karyawan swasta, pejabat daerah, PNS, penerjemah, juru bahasa, jurnalis dan banyak lagi. Pekerjaannya ada yang linier dengan ijazah dan lebih banyak yang tidak linier.

Mereka yang memilih prodi Sastra Perancis dari beberapa generasi dasawarsa yang berbeda, dan Regina, generasi milenial dewasa ini, sadar dengan pilihan ini.

Pekan lalu Regina mencoba mengangkat Sengkang, kampung halamannya sebagai materi video kreatif. Diperkenalkannya Sengkang dengan keistimewaannya sebagai penghasil sutra sehingga disebut Kota Sutera (la ville de soie).

Lomba ini sendiri hanya berhak diikuti oleh pelajar yang belajar Bahasa Perancis di SMA/SMK/MA serta mahasiswa di 15 perguruan tinggi penyelenggara Studi Perancis. Peserta kursus Bahasa Perancis tidak dapat mengikuti lomba ini.

Diharapkan dengan lomba ini, pengajaran Bahasa Perancis dapat semakin berkembang di Indonesia. Perancis dan Indonesia adalah dua peradaban yang sungguh sangat berbeda, Barat-Timur, ras Kaukasoid-Mongoloid, rumpun bahasa turunan Latin-Austronesia, iman penuturnya yang lebih banyak berbeda. Tapi toh dua bangsa ini bisa bekerjasama dalam semua bidang, termasuk bidang kebudayaan.

Pada dasarnya semua cabang ilmu pengetahuan baik. Tidak mungkin kita semua terjun pada bidang ilmu yang sama. Ada yang memilih ilmu agama, teknik, kedokteran, sosiologi, hukum, politik, nuklir, farmasi dan banyak lagi.

Kini, mata pelajaran Bahasa Perancis di tingkat sekolah menengah mendapat “pesaing baru” selain “pesaing lama”nya. Ada Bahasa Jerman, Jepang, Mandarin, Korea, Arab. Ada beberapa masalah yang menimpa Mata Pelajaran Bahasa Perancis di sekolah menengah. Secuil pernah muncul pada sebuah tulisan (baca: “Selamatkan Mata Pelajaran Bahasa Perancis” di akun Facebook Ettana Adel, 5 Juli 2020).

Setidaknya, Regina mencoba membumikan Studi Perancis di Wajo, dan Indonesia pada umumnya.

Kini Regina menjadi generasi milenial Wajo yang mantap memilih Departemen Sastra Perancis. “Dia pun sepakat bahwa masa depan dan pekerjaan itu soal nasib dan soal belakangan,” sebuah kesimpulan pada sebuah wawancara dengan media ini di Rumah Makan Rumah Tua, Kota Sutera, Sengkang, kampung halaman Regina, awal pekan ini.

Regina pantang menyerah, meski dengan mulut yang harus dipaksa cas-cis-cus dengan suara tekak/tenggorokan dan sengau, ciri khas Bahasa Perancis!.(*)

PEMKOT-Makassar