Film Lokal Makassar De Toeng Tembus 30 Ribu Penonton

Makassar – Film bergendre Etnografi, De Toeng tengah tayang di Bioskop dan telah memasuki hari kesepuluh. Hasilnya, dari 126 layar yang menayangkan film De Toeng, sebanyak 30 ribu lebih masyarakat Indonesia menonton film asal Kota Makassar ini.

Fiilm ini diangkat dari kisah lokal masyarakat Turatea yang terletak di kabupaten Jeneponto. Film ini adalah film lokal pertama yang mencapai pasar nasional, dan sudah diputat setentak di 126 bioskop di seluruh Indonesia.

Respon masyarakat juga terbilang aangat antusias. Sebab, di masa pandemi seperti ini, Film De Toeng sudah ditonton 30 ribu orang lebih, dengan target penonton 65 ribu penonton.

Menurut keterangan penulis ide cerita De Toeng, Asmin Amin, film ini berangkat dari kisah-kisah masyarakat Turatea di masa lalu, yang masih dipercaya sampai saat ini. Film ini diangkat sebagai wahana memperkenalkan budaya lokal ke kancah nasional.

“Film ini unik, karena cerita ini awalnya berangkat dari bukit Toeng di Jeneponto. Biasanya, kalau ada nama seperti itu, pasti ada cerita dibaliknya. Akhirnya kita cari tau. Setelah enam bulan kita cari tau, kita tidak temukan maksud dibalik nama bukit itu,” buka Asmin.

“Kebetulan kita punya teman indigo, dan kita ajak dia ke Gedung Kesenian, kita ritual. Setelah itu, akhirnya disinopsiskanlah cerita ini,” lanjut Asmin.

Pria yang juga berperan sebagai Karaeng Ledeng di film ini mengatakan, De Toeng memberikan warna baru dalam dunia perfilman Indonesia, sebab mengangkat genre Etnografi. “Ini genre baru, Etnografi, yang mengangkat cerita lokal ke kancah nasional. Jadi ini cerita tentang budaya Turatea, orang Jeneponto. Diproduksi oleh Turatea Production. Yang juga kental dengan nama daerah.

Cerita ini sendiri pertama kali difilmkan pada tahun 2018 lalu. Akan tetapi semakin kuat di tahun 2021 ini. Dengan begitu, Asmin berharap masyarakat bisa memberikan dukungan dengan cara menonton langsung di Bioskop. “Kami berharap masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi Selatan memberikan dukungan dengan menonton langung ke bioskop,” jelasnya.

Sementara salah satu tokoh pemuda yang juga kerap bergelut dalam dunia industri kreatuf, Eka Sastra, secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap film ini. “Saya mengapresiasi teman-teman. Saya jauh-jauh ke sini cuma mau memberi semangat. Kita mau kembangkan ekonomi kreatif yang berbasis otak dan kreativitas,” jelasnya.

Menanggapi film ini, salah satu budayawan kota Makassar, Marwan R Hussein, menilai film ini cukup baik untuk mengangkat nilai-nilai budaya lokal ke kancah nasional.

Kemasan dalam bentuk film ini dinilai cukup baik, seiring dengan perkembangan cinematografi yang kian melejit. “Ga bagus, ini jadi salah satu wahana yang baik untuk menyampaikan ke masyarakat luas, bahwa Sulawesi Selatan memiliki cerita rakyat yang bagus. Punya nilai budaya yang mendidik.”

“Apalagi dunia cinematografi ini kan mulai melejit, penikmat film tidak pernah hilang. Jadi De Toeng ini menyentuh segmen tersendiri,” tetangnya.

PEMKOT-Makassar