Asisten I Pemprov Sulsel, Andi Herry Iskandar Terancam Dijemput Paksa

Gerinra Sulawesi Selatan

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Tim Penyidik Kasus Dugaan Korupsi dan Mark Up Pembebasan Lahan untuk Perluasan Bandara Sultan Hasanuddin kembali menemukan indikasi baru dalam kasus tersebut. Kali ini, berdasarkan temuan penyidik diketahui bahwa terdapat manipulasi data luas lahan untuk pembangunan bandara yang dibuat 60 hektare padahal faktanya hanya 44 hektare. Sehingga terdapat indikasi lahan fiktif seluas 16 hektare.

Adapun keberadaan lahan fiktif ini dinilai Kejati diketahui oleh tim penunjukan lokasi lahan untuk pengadaan lahan bandara Internasional Sultan Hasanuddin Andi Herry Iskandar, Asmanto Baso Lewa dan Andi Nuraeni. Hal ini disampaikan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi Sulselbar, Hidayatullah kemarin.

“hasil temuan tim, lokasi lahannya cuma 44 hektare, tapi karena PT. Angkasa Pura butuhnya 60 hektare, saya curiganya lebihnya itu fiktif, makanya mereka takut,” ungkap Hidayatullah

Sementara itu, Tim Penyidik Kejaksaan Tinggi Sulselbar menganggap Asisstent I Bidang Pemerintahan Propinsi Sulawesi Selatan, Andi Herry Iskandar tidak bersikap koperatif untuk membantu penyidikan kasus dugaan korupsi dan mark up pembebasan lahan untuk bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pasalnya, dari tiga pejabat yang dipanggil sebagai saksi, hanya Andi Heri yang belum pernah menghadiri pemeriksaan.

Kasi Penerangan Hukum Kejati Sulselbar, Salahuddin menerangkan bahwa tim penyidik sudah melayangkan surat panggilan secara patut sebanyak tiga kali, namun tidak melihat niat baik dari Andi Heri. Sehingga tim akan melakukan rapat untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Andi Heri kembali tidak memenuhi panggilan, olehnya itu tim akan melakukan rapat untuk menyepakati upaya jemput paksa terhadap Andi Heri,” ucap Salahuddin

Andi Heri Iskandar yang dikonfirmasi secara terpisah melalui sambungan telepon, mengaku bahwa tidak mengetahui soal pemanggilan tersebut karena sedang cuti, ” saya lagi cuti dek.” tutupnya. (SEN)

Andi Muhammad Fadli