Kepsek SMA Negeri 5 Makassar Dijebloskan Ke Tahanan

Kepala Sekolah SMA Negri 5 Makassar, M.Yusran (sebelah kiri) ditetapkan sebagai Tersangka dalam kasus dugaan korupsi dan pungli.
PDAM Makassar

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Makassar, M. Yusran  terpaksa harus mendekam dalam lapas klas I Gunungsari Makassar selama 20 hari kedepan, usai menjalani pemeriksaan di ruang penyidik lantai 2 kantor Kejaksaan Negri Kota Makassar, Jumat (24 Februari 2017).

Yusran ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dan pungli pada penerimaan siswa baru tahun 2016 di SMA Negeri 5 Makassar. Dalam kasus ini, Yusran ditengarai melakukan pungutan liar dengan nilai sekitar 350juta rupiah.

Kepala kantor Kejari Makassar, Deddy Suwardy Surachman menjelaskan bahwa penetapan tersangka Yusran dilakukan usai melakukan penyidikan dan memeriksa sejumlah saksi serta ditemukannya surat-surat yang mengarah pada perbuatan melawan hukum yang diduga kuat melibatkan tersangka.

“kita tahan agar penyidikan lancar dan tidak terhambat, tim penyidik juga sudah punya dua alat bukti kuat, makanya dia ditetapkan sebagai tersangka, dia tidak terima ya itu urusan nanti pembuktian di persidangan,” ungkap Deddy

M.Yusran, Kepala Sekolah SMA Negri 5 Makassar saat digiring menuju Lapas Klas I Makassar.
M.Yusran, Kepala Sekolah SMA Negri 5 Makassar saat digiring menuju Lapas Klas I Makassar.

sementara itu, penasehat hukum tersangka Maria Monika Khair menampik bahwa kliennya melakukan perbuatan tindak pidana korupsi. Pasalnya, dugaan pungutan liar yang dituduhkan kepada kliennya tidak memenuhi unsur pasal yang disangkakan. Dana yang diduga terpaksa diserahkan oleh para orangtua siswa kata Maria merupakan dana suka rela.

“tidak ada pemaksaan, itu sumbangan sukarela dari orangtua siswa, lalu dimana perbuatan memperkaya diri sendiri disini,” ujar Maria usai menyelesaikan administrasi berkas penahanan Yusran

Dalam kasus ini, Yusran yang saat ini masih menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 5 Makassar diduga melakukan penambahan bangku dengan tidak melalui mekanisme pendaftaran yang seharusnya berlaku yakni pendaftaran secara online. Ia pun diduga memanipulasi data laporan pendaftar siswa sehingga ada perbedaan siswa yang masuk.

Perbedaan itu yakni laporan siswa baru di SMA Negeri 5 Makassar hanya melaporkan 12 kelas berisi 36 siswa tiap kelasnya ke operator Telkom. Padahal faktanya terdapat tambahan 3 kelas berisi masing-masing 36 siswa yang juga didaftar secara offline.

 

Andi Muhammad Fadli
Gerinra Sulawesi Selatan