Menerka Jalan Politik Andi Iwan Aras

Gerinra Sulawesi Selatan

Oleh : Dr. Nurmal Idrus, Direktur Nurani Strategic

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Hari ini, Senin (25/11) pucuk pimpinan Partai Gerindra Sulsel berganti. Andi Idris Manggabarani (IMB) yang sukses memimpin selama kurang lebih 3 tahun terakhir menyerahkan pengendalian pada partai pemenang kedua Pemilu 2019 ini kepada Andi Iwan Aras (AIA).
Kehadiran AIA secara otomatis mengubah banyak konstalasi politik Sulsel. Selain karena Gerindra mengontrol 11 kursi di DPRD Sulsel, juga karena spekulasi baru muncul pasca kiprah AIA itu.

Menarik untuk membahas mengapa AIA memberanikan diri mengambilalih Gerindra Sulsel. Tak bisa dipungkiri, langkahnya kali ini bisa dianggap sebagai jembatan menuju langkah langkah politik selanjutnya. Jika AIA tak punya sasaran politik di Sulsel, maka bagaimana mungkin ia berani melangkahkan bidak caturnya di atas kanvas.

Sebagai pengendali 11 kursi di parlemen Sulsel, AIA tak lagi berpikir untuk dirinya di Pemilu 2024 mendatang. Dengan posisi mapan dua periode di Senayan, itu sudah lebih dari cukup untuk kiprah politik selanjutnya. Maka, sasaran politik selanjutnya sangat mudah ditebak yaitu Pilkada Sulsel 2023.

Dengan mengendalikan 11 kursi, maka sia sia dirinya berkorban bagi Gerindra di Sulsel jika tak menggenggam sendiri opsi 11 kursi itu. Apalagi setelah melihat tak ada kader Gerindra yang bisa didorong menuju 2023 di Sulsel selain dirinya sendiri.

Prediksi ini bisa jadi akan mulus karena dengan 11 kursi, AIA tinggal menambahkan minimal 6 kursi partai koalisi untuk mencukupkan dukungan minimal 17 kursi. Dia tinggal memilih mengajak PKB, PPP, PAN, atau bahkan mengajak PDIP yang memang tengah krisis kader menuju 2023.

Sekarang, kita tinggal menunggu bagaimana bidak ia langkahkan. Jika bergerak menyerang, maka kemungkinan maju di Pilgub Sulsel 2023 makin mendekati kenyataan.

Langkah pertamanya bisa dideteksi dengan melihat cara konsolidasinya dalam 3 tahun terakhir. Sebagai ketua partai ia kini punya jembatan bahkan hingga ke tingkat terbawah pemilih dimana struktur Gerindra berada.

Tabiat Gerindra di parlemen Sulsel juga bisa menjadi sinyal. Jika mereka terus konsisten berada di baris “kritikus” pemerintahan Nurdin Abdullah seperti yang mereka tunjukkan saat hak angket lalu, maka bisa jadi itu adalah tanda keseriusannya menantang sang petahana.
Ujian penentuannya kini justru datang lebih cepat yaitu pilkada serentak 2020. Pada 12 daerah yang menggelar pilkada, Gerindra punya kursi yang signifikan. AIA perlu memanfaatkan kondisi itu dengan mengkonsolidasi dukungannya pada figur tepat untuk menjadi amunisinya di 2023.(*)

Andi Muhammad Fadli