SUARACELEBES.COM, JAKARTA — Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Singapura, Hotmangaradja Pandjaitan, menegaskan komitmennya dalam memfasilitasi pelaku usaha sektor obat, pangan, dan produk kesehatan lainnya untuk memperluas investasi ke Indonesia melalui skema hilirisasi yang didorong oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan strategis di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura bersama Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kolaborasi.
Dalam pertemuan itu, Hotmangaradja Pandjaitan menilai Singapura sebagai mitra kunci dengan kekuatan riset biomedis, manufaktur, dan ekosistem inovasi kelas dunia. Dengan dukungan regulasi BPOM yang kini telah meraih pengakuan global melalui status WHO Listed Authority (WLA), Indonesia dinilai semakin kredibel dan kompetitif dalam menarik investasi sektor kesehatan pungkas hotman putra pahlawan revolusi DI Panjaitan ini.
Kepala BPOM, prof Taruna Ikrar, menegaskan bahwa hilirisasi yang didorong BPOM bukan sekadar proses industri, melainkan strategi besar negara dalam membangun kemandirian dan daya saing global. BPOM, kata dia, mengawal ekosistem produk obat, makanan, kosmetik, dan suplemen kesehatan yang memiliki nilai ekonomi strategis.
“Total nilai ekonomi sektor yang berada dalam pengawasan BPOM saat ini mencapai sekitar Rp6.000 triliun. Ini bukan sekadar angka, tetapi kekuatan besar ekonomi nasional yang harus dijaga kualitasnya sekaligus didorong untuk tumbuh dan menembus pasar global,” ujar Taruna Ikrar.
Lebih lanjut, Taruna Ikrar didampingi staf khusus BPOM RI dr Wachyudi Muchsin menekankan pentingnya penerapan konsep ABG (Academic , Business, Government) sebagai fondasi utama dalam percepatan hilirisasi dan inovasi industri kesehatan nasional. Melalui pendekatan ini, perguruan tinggi dan lembaga riset (academic) didorong menghasilkan inovasi berbasis sains, sektor industri (business) memperkuat produksi dan komersialisasi, sementara pemerintah (government) memastikan regulasi yang adaptif, kredibel, dan berstandar internasional.
“Konsep ABG adalah orkestrasi besar. Negara tidak bisa bekerja sendiri. Kampus melahirkan inovasi, industri mempercepat hilirisasi, dan pemerintah menjamin kepercayaan melalui regulasi yang kuat. Di sinilah BPOM mengambil peran strategis sebagai penjaga mutu sekaligus akselerator pertumbuhan,” tegasnya.
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia di sektor kesehatan, sekaligus membuka ruang kolaborasi konkret dengan Singapura dalam pengembangan terapi berbasis bioteknologi, transfer teknologi, serta peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.
Dengan fondasi regulasi yang telah diakui dunia melalui WLA dan strategi hilirisasi berbasis ABG, Indonesia kini tidak lagi sekadar menjadi pasar, melainkan tengah bergerak menjadi pusat kekuatan baru industri kesehatan global.










