banner dprd mkassar

Kebakaran Karst Maros-Pangkep Mengancam Warisan Manusia Berusia 45.000 Tahun

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR —Selama sepekan, asap tebal masih membubung tinggi di atas hamparan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, menyelimuti lanskap karst yang megah di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Di balik kepulan asap yang menyesakkan napas itu, tersimpan sebuah ancaman yang tidak hanya bersifat lokal, melainkan global: api yang terus melahap kawasan hutan dan lahan ini kini berada dalam jarak yang mengkhawatirkan dari situs-situs prasejarah yang menyimpan lukisan hewan tertua di dunia.

Kebakaran yang awalnya diperkirakan hanya menghanguskan 10 hingga 15 hektare kawasan, kini telah meluas secara signifikan. Data terbaru di lapangan memperkirakan luas area yang terbakar telah mencapai 26 hektare. Lebih mengkhawatirkan lagi, si jago merah telah merembet masuk ke dalam zona rimba dan bahkan zona inti taman nasional, area yang seharusnya menjadi benteng terakhir perlindungan bagi keanekaragaman hayati dan warisan budaya manusia yang tak ternilai harganya.

Upaya pemadaman yang berlangsung di Kecamatan Minasatene ini digambarkan sebagai salah satu yang paling dramatis dan menantang dalam beberapa tahun terakhir. Para petugas pemadam kebakaran, terutama tim Manggala Agni, harus beribaku di tepi jurang yang curam dan lereng karst Gunung Arung Sabila. Medan yang terjal, celah-celah batu yang sempit, serta embusan angin kencang yang tidak menentu, telah mengubah operasi penyelamatan ini menjadi pertarungan hidup dan mati, bukan hanya bagi ekosistem, tetapi juga bagi memori kolektif umat manusia yang tersimpan di dinding-dinding gua sejak puluhan ribu tahun lalu.

MEDAN PERTARUNGAN YANG MEMATIKAN: BERJUANG DI LERENG ARUNG SABILA

Kawasan Karst Maros-Pangkep dikenal di seluruh dunia sebagai salah satu bentang alam paling spektakuler, dengan menara-menara batu kapur yang menjulang tajam ke langit. Namun, di balik keindahannya, topografi ini menyimpan bahaya yang luar biasa saat terjadi kebakaran. Gunung Arung Sabila, yang kini menjadi episentrum perluasan api, menawarkan medan yang hampir mustahil dijangkau oleh peralatan pemadam kebakaran konvensional.

Petugas di lapangan melaporkan bahwa akses menuju titik-titik api yang aktif sangatlah sulit. Jalan setapak yang biasa digunakan oleh pendaki atau peneliti lokal pun lenyap ditelan api atau terputus oleh longsoran tanah dan batu. Kondisi ini memaksa para pemadam untuk mengambil rute yang berbahaya, merayap di tepi jurang dengan risiko tergelincir yang sangat tinggi.

“Kondisi karst yang terjal dan celah-celah batu yang sulit dijangkau menjadi kendala utama,” ungkap seorang koordinator lapangan di lokasi kejadian. Embusan angin kencang yang kerap menerpa kawasan ini tidak hanya mempercepat penjalaran api dengan kecepatan yang sulit diprediksi, tetapi juga memicu fenomena berbahaya lainnya: material batu yang jatuh dari kawasan karst. Petugas menduga, benturan antarbatu atau longsoran kecil yang dipicu oleh panas ekstrem turut memicu munculnya titik-titik api baru di area yang sebelumnya dianggap aman.

Untuk menjangkau titik api yang berada di area yang masih memungkinkan, petugas mengandalkan mesin pompa air dan selang panjang yang ditarik secara manual. Namun, strategi ini memiliki keterbatasan jangkauan yang fatal di medan karst. Air yang disemprotkan seringkali tidak mampu menembus celah-celah dalam di mana api bersembunyi dan terus membara.

Oleh karena itu, untuk titik api yang berada jauh di lereng karst, petugas terpaksa menggunakan alat pemadam punggung (backpack fire extinguisher) atau alat canggih seperti *jetshooter* yang mampu menyemburkan air atau bahan pemadam dengan tekanan tinggi ke area yang lebih tinggi. Meskipun demikian, efektivitas alat ini sangat dibatasi oleh kondisi angin yang dapat membelokkan semprotan, serta berat peralatan yang harus dipikul oleh petugas yang sudah kelelahan akibat medan yang menguras tenaga.

Keselamatan personel menjadi prioritas mutlak dalam kondisi yang sangat berbahaya ini. Komando lapangan secara ketat menginstruksikan agar tidak ada petugas yang mengambil risiko berlebihan untuk menjangkau api yang menjalar di celah-celah karst secara langsung. Ancaman longsoran batu, pohon yang tumbang akibat akar yang terbakar, serta paparan asap beracun, membuat setiap langkah di lapangan harus diperhitungkan dengan presisi militer.

WARISAN DUNIA DI UJUNG TANDUK: ANCAMAN NYATA BAGI LUKISAN CADAS

Di balik perjuangan fisik di medan yang terjal, terdapat ancaman yang jauh lebih sunyi namun sama mematikannya: kerusakan terhadap lukisan cadas prasejarah. Kawasan Maros-Pangkep bukan sekadar hutan biasa; ini adalah galeri seni terbuka tertua di dunia. Di dinding-dinding gua kapur inilah, manusia purba menggoreskan gambar babi rusa dan cap tangan yang telah berusia lebih dari 45.000 tahun, mendahului lukisan-lukisan terkenal di Eropa seperti yang ada di Lascaux, Prancis.

Basran Burhan, seorang arkeolog terkemuka dari Griffith University, Australia, yang telah bertahun-tahun meneliti kawasan ini, memberikan peringatan keras mengenai dampak destruktif dari kebakaran tersebut. Menurutnya, kebakaran di kawasan situs arkeologi yang mengandung gambar cadas akan menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan.

“Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi terutama yang mengandung gambar cadas pasti akan sangat merusak gambar itu. Paling tidak ada minimal dua efek yang bisa kita lihat,” jelas Basran.

Efek pertama, dan yang paling destruktif, adalah panas ekstrem. Basran menekankan bahwa kerusakan tidak memerlukan kontak langsung antara api dan lukisan. “Bahkan tanpa ada api langsung yang menyentuh lukisan pun, itu bisa merusak lukisan. Karena dia mengubah temperatur di sekitar gambar yang bisa mempercepat proses pelapukan. Apalagi kalau sampai api itu menyentuh lukisannya. Itu bahkan akan lebih parah karena bukan hanya akan mengelupas kulitnya, tapi bahkan batunya yang akan dibongkar, rusak, pecah, dan seterusnya.”

Perubahan suhu yang drastis dan tiba-tiba menyebabkan ekspansi termal pada batuan gamping. Batuan yang selama ribuan tahun stabil, tiba-tiba mengalami tekanan yang menyebabkan retakan mikro. Retakan ini kemudian merambat hingga ke lapisan pigmen lukisan, menyebabkan pengelupasan yang masif.

Efek kedua adalah jelaga dan asap. Kebakaran hutan menghasilkan asap tebal yang kaya akan partikel karbon. “Asap dari api itu akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan gua,” lanjut Basran. Lapisan jelaga ini bertindak seperti selimut hitam yang menutupi detail lukisan, membuatnya kabur dan sulit diidentifikasi. “Lukisannya akan tertutup dengan jelaga itu. Kita akan sulit melihat bentuk gambarnya seperti apa, dan sulit melihat warna asli dari pigmen tersebut.”

Yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa upaya konservasi yang selama ini dilakukan dengan sangat ketat menjadi sia-sia di hadapan kebakaran skala besar. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan, misalnya, telah menerapkan aturan ketat membatasi jumlah pengunjung maksimal lima orang dalam satu gua. Aturan ini dibuat bukan tanpa alasan; selain untuk mencegah kerusakan fisik, tujuannya adalah untuk mengontrol suhu lokal dan kelembapan di sekitar gua. Bahkan suhu tubuh manusia pun dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan dalam jangka panjang.

“Jika suhu tubuh manusia saja dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan, apalagi kebakaran,” tegas Basran. “Ini bukan hanya persoalan karhutla, tetapi juga perubahan iklim mikro di dalam lingkungan gua.”

FENOMENA “KULIT SEMANGKA” DAN PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

Ancaman terhadap lukisan cadas tidak berdiri sendiri. Kebakaran ini memperburuk kerentanan yang sudah ada akibat perubahan iklim global. Berdasarkan riset yang diterbitkan pada tahun 2018, fluktuasi suhu yang ekstrem antara musim panas dan musim hujan telah terbukti mempercepat proses pengelupasan lukisan di kawasan ini.

Basran Burhan menjelaskan mekanisme ilmiah yang rumit di balik fenomena ini, yang sering disebut oleh para peneliti lokal sebagai fenomena “kulit semangka”.

“Di penelitian itu membuktikan bahwa ketika di musim hujan, air yang masuk di dalam batuan kars membawa kristal garam, yang kemudian mengendap di dalam batu gamping,” paparnya. “Nah, ketika musim kemarau karena suhu meningkat, air itu menguap dan meninggalkan kristal garam tersebut. Ini akan terakumulasi secara terus-menerus, membentuk satu kristal garam yang menumpuk di belakang lapisan gamping, yang kita biasa istilahkan dengan kulit semangka.”

Lapisan ini sangat tipis, mungkin hanya sepersekian milimeter, tetapi dampaknya sangat besar. “Ketika musim panas, dia akan mengembang. Ketika musim kering, dia akan mengerut. Jadi dia seperti bernapas setiap tahun. Inilah yang kemudian mendorong kulit luar itu keluar sampai kemudian terkelupas. Artinya, semua dinding gua akan mengalami hal itu, termasuk yang ada gambarnya.”

Kebakaran hutan bertindak sebagai katalisator yang mempercepat proses “pernapasan” yang merusak ini. Panas yang intensif menguapkan kelembapan di dalam batuan dengan kecepatan yang tidak alami, memaksa kristal garam mengembang dengan tekanan yang jauh lebih besar daripada kondisi musim kemarau normal. Hasilnya adalah pengelupasan massal yang dapat menghapus sejarah manusia purba dalam hitungan jam.

“Kalau ini tidak ditangani dengan segera, tidak diambil langkah taktis untuk memitigasi kejadian ini, kita akan kehilangan salah satu bukti luar biasa manusia yang ada di kawasan Kars Maros-Pangkep. Sayang sekali,” ujar Basran dengan nada prihatin.

BAYANG-BAYANG EL NIÑO: SUHU, ANGIN, DAN PREDIKSI CUACA

Untuk memahami mengapa kebakaran ini begitu sulit dikendalikan dan mengapa ancaman terhadap situs arkeologi begitu akut, kita harus melihat pada kondisi meteorologi yang sedang melingkupi Sulawesi Selatan. Nur Rahmi Utami, Perkirawan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Selatan, memberikan analisis mendalam mengenai dinamika cuaca yang sedang berlangsung.

Menurut Nur Rahmi, wilayah Maros dan Pangkep saat ini masih berada dalam cengkeraman musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Niño yang kuat. “Kalau untuk cuaca di wilayah Maros dan Pangkep untuk saat ini, kami masih memprediksi masih adanya musim kemarau di wilayah tersebut,” ungkapnya.

Dalam beberapa minggu ke depan, suhu di sekitar wilayah tersebut diprediksi masih akan berkisar antara 25 hingga 36 derajat Celcius. Meskipun angka ini secara teknis masih masuk dalam kategori normal berdasarkan data historis, persepsi panas yang dirasakan oleh manusia dan dampaknya terhadap lingkungan jauh lebih ekstrem.

“Perlu diketahui bahwa suhu terukur dengan termometer dan suhu udara yang terasa itu berbeda,” jelas Nur Rahmi. “Kalau suhu udara yang dibaca dengan alat termometer itu masih dalam kondisi normal, tetapi suhu yang kita rasakan atau *heat index* itu biasanya lebih dari 35 derajat Celcius, bahkan bisa mencapai 40 derajat Celcius. Masyarakat merasa panas, dan itu valid, meskipun secara alat ukur masih dalam batas normal 25 sampai 36 derajat Celcius.”

Faktor angin memainkan peran yang sangat krusial dalam skenario ini. Angin tidak hanya mempengaruhi suhu, tetapi juga menjadi kendaraan utama bagi penyebaran api dan asap. “Ketika ada angin kencang, itu bisa mempengaruhi kondisi cuaca. Jika angin mengarah ke daerah tersebut, ia bisa membawa massa uap air berupa awan, tetapi dalam kondisi kemarau seperti ini, angin kencang justru lebih sering berperan sebagai penyebar api yang sangat efektif,” tambahnya.

Nur Rahmi juga meluruskan beberapa kesalahpahaman publik mengenai fenomena “hujan asam” yang kadang dikaitkan dengan kebakaran hutan. “Kalau hujan asam sendiri itu bukan dari meteorologi dalam konteks ini. Jadi istilahnya ada hujan terus ada asap, jadi berbeda tempat. Hujan asam memiliki mekanisme kimia yang berbeda secara meteorologi.”

Yang lebih mengkhawatirkan adalah prediksi jangka pendek. BMKG memprediksi bahwa dalam tiga hingga tujuh hari ke depan, cuaca di wilayah Maros dan Pangkep akan masih didominasi oleh kondisi cerah hingga cerah berawan. Tingkat kelembapan udara diprakirakan berkisar antara 50 hingga 90 persen, yang menunjukkan bahwa kelembapan udara di lapisan bawah masih cukup kering untuk mendukung pembakaran.

“Masak Maros itu memasuki musim hujannya di bulan Desember. Kalau Sulawesi secara keseluruhan, itu masuk musim hujannya di bulan Oktober, itupun di Sulawesi bagian utara,” jelas Nur Rahmi. Ini berarti, tanpa intervensi khusus, kawasan ini masih harus bertahan dalam kondisi kering selama setidaknya satu hingga dua bulan ke depan.

Mengingat urgensi situasi, Nur Rahmi menyentuh topik modifikasi cuaca. “Pasti kita membutuhkan modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan jika kondisinya memungkinkan. Begitupun sebaliknya, jika kondisi cuacanya lagi musim hujan, pasti ada hal-hal tertentu yang membuat mereka ingin melakukan modifikasi cuaca untuk menghentikan hujan tersebut. Ini adalah alat yang bisa dipertimbangkan dalam keadaan darurat seperti ini.”

OPERASI PEMADAMAN: ANTARA HARAPAN DAN KETERBATASAN LOGISTIK

Di tengah prediksi cuaca yang tidak menguntungkan, operasi pemadaman di lapangan terus berjalan dengan segala keterbatasannya. Api yang pada hari pertama terdeteksi di kawasan Gunung Kampung Lesang dan Gunung Kampung Matojeng, kini telah menunjukkan perilaku yang semakin agresif. Hingga hari kelima, api terus menyebar dan telah menjalar ke kawasan Gunung Arung Sabila, menandai perluasan yang signifikan dari titik awal.

Petugas Manggala Agni, bersama sejumlah unsur terkait termasuk TNI, Polri, relawan masyarakat, dan pihak pengelola Taman Nasional, terus berupaya menekan perluasan api. Koordinasi untuk penambahan personel telah dilakukan secara intensif dengan Satuan Manggala Agni Daops Gowa untuk memperkuat operasi pemadaman di garis depan.

Strategi yang diterapkan saat ini bersifat defensif dan terfokus. Mengingat ketidakmungkinan untuk memadamkan api secara langsung di semua titik karena kondisi medan yang berbahaya, petugas kini memprioritaskan perlindungan area di sekitar permukiman warga. Pembuatan sekat bakar (firebreak) dan penyemprotan air di perimeter desa-desa yang berbatasan dengan hutan dilakukan untuk mencegah api merembet ke rumah-rumah penduduk.

“Kondisi medan yang berbahaya membuat petugas harus mengutamakan keselamatan personel,” tegas seorang komandan lapangan. “Terlebih, api yang menjalar di celah-celah karst sulit dijangkau secara langsung. Kami menggunakan pendekatan tidak langsung, yaitu memotong jalur bahan bakar di sekitar area yang bisa dijangkau.”

Penggunaan teknologi seperti *jetshooter* memang memberikan sedikit keunggulan, tetapi alat ini membutuhkan pasokan air yang konstan. Di puncak karst, sumber air sangat terbatas. Petugas harus membuat sistem estafet untuk membawa air dari sumber terdekat, sebuah proses yang lambat dan menguras energi.

Hingga kini, belum ada kepastian waktu kapan kebakaran dapat sepenuhnya dipadamkan. Para petugas hanya bisa berharap pada dua hal: embusan angin yang segera mereda dan turunnya hujan, yang menurut prediksi BMKG masih belum akan terjadi dalam waktu dekat. Harapan ini terasa tipis, meninggalkan para pemadam dalam situasi yang serba tidak pasti, berjuang melawan waktu dan alam yang seolah tidak bersahabat.

KERENTANAN SITUS: 99 PERSEN BERADA DI TEPI TEBING

Untuk memahami skala potensi bencana budaya ini, kita harus melihat data yang dimiliki oleh Balai Pelestarian Kebudayaan. Hingga saat ini, tercatat ada 734 situs prasejarah di kawasan Kars Maros-Pangkep. Dari jumlah tersebut, lebih dari 400 situs di antaranya memiliki lukisan cadas yang merupakan warisan tak benda yang sangat berharga.

Yang paling mengkhawatirkan adalah distribusi geografis dari situs-situs ini. “Sebaran situs ini sebagian besar berada di pinggir-pinggir tebing Kars yang rentan terhadap perubahan,” ungkap Basran Burhan. “Bukan berada di tengah gunung Kars yang justru lebih terlindungi. Bisa dibilangkan 99 persen situs ini berada di pinggiran-pinggiran tebing Kars yang bersentuhan dengan aktivitas manusia sehari-hari.”

Kerentanan ini bukan hal baru. Pembukaan lahan untuk pertanian, perkebunan, dan pemukiman dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah lanskap regional secara drastis. Perubahan tutupan lahan ini tidak hanya menghilangkan penyangga alami terhadap api, tetapi juga mengubah iklim mikro di sekitar gua-gua tersebut.

Pohon-pohon besar yang dulunya menaungi mulut gua dan menjaga kelembapan, kini banyak yang hilang. Penggantinya adalah vegetasi sekunder yang lebih kering dan mudah terbakar, atau lahan terbuka yang memantulkan panas matahari langsung ke dinding gua. Perubahan ini menciptakan lingkungan yang sangat tidak stabil bagi pelestarian lukisan yang membutuhkan kondisi suhu dan kelembapan yang konstan.

“Logikanya, kita harus bisa membuat penghijauan mungkin dengan tanaman-tanaman lokal untuk mengontrol iklim tadi,” saran Basran. “Selain mengontrol suhunya, suhu mikro di sekitar gua juga akan mencegah faktor lain, misalnya efek debu yang masuk ke gua dan menempel di lukisan, yang membuatnya kabur. Juga akan menghambat asap kendaraan atau asap pabrik yang berhubungan dengan aktivitas manusia.”

Satu tindakan penghijauan yang tepat, menurut para ahli, dapat mencegah banyak masalah sekaligus. Ia bertindak sebagai penahan angin, penahan tanah, pengatur kelembapan, dan filter alami bagi partikel polutan. Namun, menanam pohon di kawasan karst yang tandus dan terjal bukanlah tugas yang mudah, dan membutuhkan komitmen jangka panjang yang hingga kini masih sering terhambat oleh keterbatasan anggaran dan koordinasi antar-lembaga.

MENGULANG SEJARAH ATAU MENULIS MASA DEPAN?

Bagi mereka yang mengikuti sejarah konservasi di Maros-Pangkep, situasi saat ini terasa seperti *déjà vu* yang mengerikan. Basran Burhan mengingatkan bahwa kebakaran serupa, bahkan dalam skala yang lebih parah, pernah terjadi di lokasi yang sama pada tahun 2014 dan 2015.

“Ini terjadi bukan hanya satu kali. Ini pernah terjadi bahkan lebih parah tahun 2014 atau 2015 di lokasi yang sama. Artinya ada aktivitas yang berulang, ada kejadian yang berulang di lokasi yang sama,” tegasnya.

Pengulangan ini seharusnya menjadi lonceng peringatan yang keras. Jika kejadian yang sama terus berulang di lokasi yang sama, itu berarti langkah-langkah mitigasi yang diambil selama ini belum cukup efektif, atau belum diimplementasikan dengan konsisten. “Artinya seharusnya kita bisa mengambil langkah-langkah yang lebih cepat untuk memitigasi kejadian ini. Karena bukan hanya satu kali. Ini membutuhkan gerakan yang lebih masif.”

Saat ini, kawasan Kars Maros-Pangkep sedang dalam proses pengusulan serius sebagai Situs Warisan Budaya Dunia (World Heritage Site) oleh UNESCO. Status ini bukan sekadar gelar prestisius; ia membawa konsekuensi dan tanggung jawab internasional. Salah satu syarat utama dari UNESCO adalah kemampuan negara pemilik situs untuk menjamin perlindungan dan pengelolaan yang berkelanjutan terhadap warisan tersebut.

“Kita sedang proses pengusulan sebagai warisan budaya dunia. Tentu saja kita tidak ingin proses ini terhambat karena situasi seperti ini,” kata Basran. “Karena salah satu concern dari warisan dunia adalah kita harus bisa menjaga kawasan ini. Kalau kita dianggap tidak bisa menjaga, UNESCO tidak akan menerima pengusulan ini.”

Kebakaran ini, oleh karena itu, bukan hanya ujian bagi kemampuan pemadam kebakaran lokal, tetapi juga ujian bagi komitmen Indonesia terhadap pelestarian warisan manusia. Jika api berhasil memusnahkan atau merusak parah lukisan-lukisan ini, dampaknya akan bergema di seluruh komunitas arkeologi global. Kita tidak hanya kehilangan batu dan pigmen; kita kehilangan jendela unik untuk memahami bagaimana manusia purba di Asia Tenggara memandang dunia mereka, berburu, dan berekspresi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun hingga hari ini, beberapa situs memang sudah mulai terdampak, dengan jarak api yang dilaporkan hanya beberapa meter dari depan mulut gua. Meskipun saat ini intensitas kebakaran mungkin tampak naik-turun, ancaman laten tetap ada. “Kita tidak tahu ke depannya bisa saja meningkat. Kita belum tahu apakah kebakaran ini akan merambat meluas bahkan sampai masuk ke areal gua. Makanya dibutuhkan segera langkah mitigasi untuk mencegah kebakaran ini meluas,” pungkas Basran.

KESIMPULAN: TANGGUNG JAWAB BERSAMA MELINDUNGI MEMORI MANUSIA

Kebakaran di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yang memasuki hari kelima ini adalah sebuah tragedi yang sedang unfolds di depan mata kita. Luasan 26 hektare yang hangus bukanlah sekadar angka statistik; ia mewakili hilangnya habitat, rusaknya keseimbangan ekosistem karst, dan yang paling menyakitkan, ancaman nyata terhadap lukisan hewan tertua di dunia.

Pertarungan dramatis para petugas di tepi jurang Gunung Arung Sabila adalah bukti nyata dari pengorbanan yang dilakukan untuk membendung bencana ini. Namun, keberanian personel di lapangan tidak akan pernah cukup tanpa dukungan sistemik yang lebih kuat. Diperlukan sinergi yang lebih erat antara pihak pemadam kebakaran, pengelola taman nasional, pemerintah daerah, komunitas ilmiah, dan masyarakat lokal.

Rekomendasi para ahli sangat jelas: kontrol iklim mikro melalui penghijauan dengan spesies endemik, penerapan teknologi modifikasi cuaca saat kondisi memungkinkan, penegakan hukum yang tegas terhadap pembakaran lahan, dan edukasi masyarakat yang berkelanjutan tentang nilai warisan budaya yang mereka miliki di halaman belakang rumah mereka.

El Niño mungkin akan berlalu, dan musim hujan pada akhirnya akan tiba di Sulawesi Selatan. Namun, kerusakan yang ditimbulkan oleh api pada lukisan berusia 45.000 tahun itu bersifat permanen. Tidak ada hujan yang dapat mengembalikan pigmen yang telah terkelupas, atau membersihkan jelaga yang telah meresap ke dalam pori-pori batu kapur selama ribuan tahun.

Dunia sedang menonton. Upaya penyelamatan lukisan cadas di Maros-Pangkep adalah upaya penyelamatan memori kolektif umat manusia. Kegagalan untuk melindungi warisan ini bukan hanya akan menjadi noda bagi sejarah konservasi Indonesia, tetapi juga kerugian yang tak terukur bagi warisan budaya dunia. Harapan kini tertumpu pada meredanya angin, turunnya hujan, dan yang paling penting, tindakan nyata dan terkoordinasi dari semua pihak yang peduli, sebelum api sempat menghapus jejak manusia purba untuk selamanya.

PDAM Makassar