banner dprd mkassar

Krisis Ekologis di Pomalaa: Menuntut Tanggung Jawab Nyata di Balik Kilau Nikel

SUARACELEBES.COM, KOLAKA – Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, kini menghadapi ancaman serius terhadap keseimbangan ekosistem. Aktivitas pertambangan nikel yang masif mengubah wajah bentang alam wilayah ini secara drastis. Berbagai laporan visual, termasuk rekaman kondisi terkini di lapangan, menunjukkan sedimentasi lumpur yang mengalir ke sungai, merusak lahan pertanian, dan mencemari pesisir pantai.

Ketua Yayasan Lingkungan Hidup (YLH) Tana Merah, Abdul Rahman, menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi saat ini bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ia menilai situasi tersebut sebagai dampak langsung dari praktik industri yang mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.

“Kita menyaksikan perubahan drastis di hulu sungai dan pesisir. Hutan yang berfungsi sebagai penyangga air kini gundul. Akibatnya, setiap kali hujan turun, lumpur mengalir deras ke pemukiman dan lahan pertanian warga,” ujar Abdul Rahman dalam keterangannya kepada media.

Dampak Sistemik pada Ekonomi Warga

Kerusakan lingkungan ini berdampak langsung pada sektor ekonomi masyarakat lokal. Petani di Desa Hakatutobu dan sekitarnya kini berjuang melawan tumpukan sedimen yang menimbun sawah. Tanaman padi yang sebelumnya memberikan hasil optimal, kini sering gagal panen akibat tertutup lumpur sisa tambang.

Selain pertanian, komunitas nelayan juga merasakan kesulitan yang sama. Sedimentasi yang terbawa arus sungai menuju laut menutup ekosistem terumbu karang dan padang lamun. Hal ini memaksa nelayan untuk berlayar lebih jauh demi mendapatkan tangkapan ikan, yang secara otomatis meningkatkan biaya operasional mereka.

Abdul Rahman menyoroti betapa ekonomi masyarakat lokal sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Ketika sungai tercemar dan laut mengalami pendangkalan, sumber penghidupan warga hilang. Ia mencatat bahwa penurunan kualitas air bersih juga memicu masalah kesehatan, seperti gatal-gatal pada kulit warga yang masih menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

Solusi: Melampaui Sekadar Penanaman Pohon

YLH Tana Merah, di bawah kepemimpinan Abdul Rahman, terus mendorong langkah nyata untuk memulihkan ekosistem. Mereka aktif melakukan reboisasi di lahan kritis dan bekas tambang. Namun, Rahman menekankan bahwa penanaman pohon hanyalah satu bagian kecil dari solusi besar yang dibutuhkan.

Menurutnya, terdapat beberapa langkah strategis yang harus segera dilakukan oleh pemangku kepentingan.

Penegakan Hukum yang Ketat

Pemerintah daerah dan pusat perlu melakukan pengawasan ketat terhadap izin usaha pertambangan (IUP). Perusahaan yang melanggar standar operasional prosedur (SOP) lingkungan harus menerima sanksi tegas, termasuk pencabutan izin jika diperlukan.

Rehabilitasi Ekosistem Terpadu

Rehabilitasi tidak boleh sekadar seremonial. Perusahaan wajib melakukan reklamasi pascatambang yang sesuai dengan daya dukung lahan. Penggunaan tanaman produktif seperti kopi, jambu mete, dan kelapa dapat menjadi solusi yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus ekologis bagi masyarakat.

Pembangunan Sistem Pengendali Sedimen: Perusahaan wajib membangun kolam pengendap (sediment pond) yang memadai sebelum air limbah dialirkan ke sungai. Tanpa infrastruktur ini, lumpur akan terus menutupi sawah dan merusak ekosistem pesisir.

Partisipasi Masyarakat

Masyarakat lokal harus dilibatkan dalam pengawasan lingkungan. Dialog antara perusahaan, pemerintah, dan warga harus transparan untuk memastikan bahwa hak-hak warga atas lingkungan yang sehat tetap terjaga.

Harapan untuk Masa Depan Pomalaa

Abdul Rahman mengajak semua pihak untuk berhenti menganggap kerusakan lingkungan sebagai risiko yang harus diterima. Ia percaya bahwa pembangunan ekonomi dan kelestarian alam bisa berjalan beriringan jika ada komitmen kuat.

“Kita tidak menolak pembangunan, tetapi kita menuntut pembangunan yang beradab. Lingkungan yang rusak hari ini adalah utang masa depan bagi anak cucu kita di Kolaka. Kita harus mulai membayar utang itu dengan aksi nyata, bukan sekadar janji di atas kertas,” tutup Rahman.

Langkah kolaboratif antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci utama. Tanpa sinergi yang kuat, masa depan Pomalaa akan terus dibayangi oleh krisis ekologis yang mengancam kesejahteraan generasi mendatang.

PDAM Makassar