SUARACELEBES.COM, MAROS — Jejak kehidupan manusia purba di Sulawesi kembali mengungkap fakta mengejutkan. Penelitian terhadap gigi manusia prasejarah menemukan indikasi penggunaan buah pinang (Areca catechu) sejak sekitar 25.000 tahun lalu.
Temuan dari situs arkeologi di Sulawesi Selatan itu menunjukkan bahwa manusia pada masa Pleistosen Akhir telah mengenal dan mengonsumsi tanaman yang mengandung senyawa psikoaktif, jauh sebelum praktik konsumsi zat serupa dikenal luas pada masa pertanian dan Neolitikum.
Penelitian tersebut melibatkan sejumlah peneliti internasional dan peneliti Indonesia, termasuk dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil penelitian dipublikasikan dalam jurnal Science Advances.
Temuan ini sekaligus membuka kembali perdebatan mengenai sejarah panjang pemanfaatan tumbuhan oleh manusia serta asal-usul tradisi mengunyah atau mengonsumsi pinang di kawasan Asia Tenggara.
Berawal dari Gigi yang Aus Tidak Biasa
Petunjuk awal penelitian berasal dari kondisi gigi manusia purba yang ditemukan di sejumlah situs gua di Sulawesi Selatan.
Salah satunya berasal dari Leang Bulu Bettue, Maros, yang dihuni manusia pada Pleistosen Akhir, sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun lalu.
Para peneliti menemukan pola keausan melingkar atau circumferential wear pada bagian oklusal gigi geraham. Keausan tersebut dinilai tidak lazim jika dibandingkan dengan pola keausan gigi akibat aktivitas makan sehari-hari.
Fakhri, peneliti BRIN, menjelaskan bahwa penelitian diawali dengan pengamatan makroskopis terhadap kondisi gigi, kemudian dilanjutkan dengan analisis mikroskopis dan pemeriksaan paleopatologi.
“Jadi, dasar analisisnya kita itu sebenarnya dari analisis makroskopisnya. Jadi, sebelum kami masuk ke analisis mikroskopis, ada hasil pengamatan kasat mata dulu,” ujar Fakhri.
Awalnya, pola keausan tersebut bahkan sempat dikaitkan dengan kemungkinan penggunaan gigi untuk membantu aktivitas tertentu, seperti mengolah serat atau membuat tali.
Basran Burhan, peneliti geoarkeologi dari Griffith University Australia, mengatakan dugaan awal tersebut muncul karena tingkat keausan gigi yang sangat drastis.
“Waktu itu kita menganggap mungkin dipakai untuk memelintir kalau mau membuat tali atau semacamnya. Makanya tingkat keausan giginya sangat drastis, tidak normal,” kata Basran.
Namun, penelitian lebih lanjut menghasilkan petunjuk berbeda.
Pola keausan tersebut mengarah pada kemungkinan adanya benda berbentuk bulat berukuran sekitar 1 hingga 2 sentimeter yang berulang kali ditempatkan atau dikulum di dalam rongga mulut.
Residu Pinang Ditemukan pada Gigi
Untuk menguji dugaan tersebut, peneliti menggunakan analisis biomolekuler dengan metode Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS).
Metode ini memungkinkan peneliti mendeteksi jejak senyawa kimia pada material arkeologis tanpa harus melakukan pengambilan sampel secara destruktif.
Dari analisis tersebut ditemukan jejak arecoline, salah satu alkaloid utama yang terdapat pada biji pinang.
Arecoline dikenal sebagai senyawa yang memiliki efek terhadap sistem saraf dan dapat menimbulkan efek stimulan.
Temuan tersebut menjadi petunjuk penting bahwa manusia prasejarah di Sulawesi telah memanfaatkan pinang jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Budianto Hakim, peneliti Pusat Kolaborasi Riset Sulawesi, menyebut temuan tersebut menunjukkan adanya pengetahuan manusia prasejarah terhadap tumbuhan yang memiliki efek fisiologis.
“Jadi sebelum manusia mengenal kafein, sebelum mengenal nikotin, zat adiktif yang pertama yang memberi stimulan pada saraf itu… yang pertama tertua adalah pinang. Sekitar 25 ribu tahun yang lalu,” ujarnya.
Tidak Harus Dicampur Kapur Sirih
Temuan tersebut juga menarik karena penggunaan pinang pada masa itu tidak harus mengikuti praktik menyirih yang dikenal masyarakat di sejumlah wilayah Asia Tenggara saat ini.
Percobaan laboratorium yang mereplikasi kondisi rongga mulut menunjukkan bahwa biji pinang utuh dapat melepaskan senyawa arecoline ketika dikulum atau dikunyah.
Artinya, manusia prasejarah kemungkinan sudah dapat memperoleh paparan senyawa aktif dari pinang tanpa harus mencampurnya dengan bahan tambahan seperti kapur sirih.
Konsumsi pinang diketahui dapat memberikan sejumlah efek fisiologis, termasuk peningkatan aktivitas sistem saraf, perubahan denyut jantung, serta sensasi pada rongga mulut.
Namun, temuan arkeologi tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa setiap individu mengonsumsi pinang sebagai obat atau mengalami kecanduan seperti pengertian medis modern.
Jejaknya Ditemukan Juga di Bone
Bukti serupa ditemukan di Leang Cappa Lombo, Bone.
Situs tersebut menyimpan tinggalan manusia dari periode Holosen Tengah, sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu.
Salah satu individu yang dikenal sebagai spesimen CPL-R2 merupakan laki-laki dewasa yang diperkirakan berusia sekitar 33 hingga 50 tahun.
Giginya juga memperlihatkan pola keausan melingkar yang serupa.
Menariknya, kondisi kerangka individu tersebut menunjukkan sejumlah masalah kesehatan gigi, termasuk penyakit periodontal, abses, dan kehilangan gigi semasa hidup atau antemortem tooth loss.
Kondisi tersebut memberikan gambaran tentang kompleksitas kehidupan manusia prasejarah.
Namun, hubungan langsung antara konsumsi pinang dengan upaya mengobati sakit gigi pada individu tersebut masih merupakan interpretasi yang harus ditempatkan secara hati-hati.
Yang dapat ditunjukkan penelitian adalah adanya bukti konsumsi pinang dan adanya kondisi patologis pada gigi pada individu yang sama.
Mengubah Pemahaman tentang Sejarah Pinang
Temuan di Sulawesi menjadi penting karena usianya jauh lebih tua dibandingkan sejumlah bukti arkeologis mengenai konsumsi berbagai zat psikoaktif yang sebelumnya telah diketahui.
Sebelumnya, bukti pemanfaatan tanaman dan zat yang memberikan efek terhadap kesadaran umumnya banyak dikaitkan dengan masyarakat yang telah memasuki kehidupan pertanian.
Temuan Sulawesi menunjukkan bahwa pemanfaatan tumbuhan dengan kandungan senyawa aktif kemungkinan telah dilakukan oleh kelompok pemburu-pengumpul jauh lebih awal.
Penemuan tersebut juga memberi perspektif baru terhadap sejarah tradisi pinang di Asia Tenggara.
Selama ini, penyebaran tradisi mengunyah pinang kerap dikaitkan dengan migrasi masyarakat penutur bahasa Austronesia ke kawasan tersebut pada masa Neolitikum.
Namun, bukti dari Sulawesi menunjukkan bahwa penggunaan pinang telah berlangsung di wilayah ini ribuan tahun sebelum periode tersebut.
Fakhri menilai temuan itu memberikan tantangan terhadap pandangan lama mengenai asal-usul tradisi konsumsi pinang.
“Teori tentang pembawa tradisi pinang oleh Austronesia itu gugur. Ternyata pemukim awal di Sulawesi jauh lebih kaya mengenal tradisi mengunyah pinang itu,” katanya.
Menurutnya, Sulawesi berpotensi menjadi salah satu wilayah penting dalam sejarah awal pemanfaatan pinang oleh manusia.
Tradisi yang Bertahan Ribuan Tahun
Suryatman, Peneliti Teknologi Litik dan Industri Alat Batu Prasejarah Universitas Hasanuddin, melihat adanya kemungkinan kesinambungan tradisi antara masyarakat yang hidup pada masa Pleistosen dan kelompok manusia yang kemudian dikenal dalam konteks budaya Toalean.
“Adanya tradisi mengunyah pinang dari dua masa ini menunjukkan bahwa mungkin saja mereka berasal dari satu leluhur yang sama yang terus berlanjut, dari budaya melukis sampai ke budaya Toalean,” ujarnya.
Hipotesis tersebut masih membutuhkan penelitian lanjutan, terutama untuk menghubungkan bukti biologis, budaya, dan migrasi populasi secara lebih kuat.
Meski demikian, konsistensi temuan dari beberapa situs memberikan petunjuk bahwa pemanfaatan pinang bukan sekadar perilaku sesaat.
Sulawesi dan Farmakologi Prasejarah
Bagi peneliti, temuan ini memperlihatkan kemampuan manusia prasejarah dalam mengenali dan memanfaatkan sumber daya alam di lingkungan sekitarnya.
Di tengah kondisi lingkungan yang berubah selama Zaman Es, tumbuhan bukan hanya menjadi sumber pangan. Sebagian tanaman kemungkinan juga dimanfaatkan karena memberikan efek fisiologis tertentu.
Budianto Hakim menyebut kemampuan tersebut sebagai bagian dari pengetahuan manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan.
“Tentu saja manusia butuh sesuatu, tumbuhan yang kira-kira bisa merangsang tubuhnya untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang dingin,” ujarnya.
Jejak pinang pada gigi manusia purba akhirnya membuka jendela baru terhadap kehidupan manusia di Sulawesi puluhan ribu tahun silam.
Gigi yang aus, residu kimia yang tersimpan dalam kalkulus, hingga jejak penyakit pada rahang kini menjadi sumber informasi untuk merekonstruksi perilaku manusia yang telah lama terkubur.
Temuan tersebut sekaligus menegaskan posisi Sulawesi sebagai salah satu kawasan penting dalam penelitian mengenai evolusi manusia, migrasi, budaya, dan pemanfaatan tumbuhan oleh manusia prasejarah.
Jauh sebelum hadirnya apotek, obat modern, bahkan sebelum berkembangnya pertanian, manusia di Sulawesi ternyata telah mengenal cara memanfaatkan kekayaan hayati di sekitarnya—termasuk pinang yang meninggalkan jejak kimiawi pada gigi mereka hingga ribuan generasi kemudian.









