SUARACELEBES.COM, SIDRAP – Hamparan sawah di Kabupaten Sidenreng Rappang kini tak lagi mengenal jeda panjang. Lahan pertanian dipacu bekerja lebih intens melalui konsep IP 300—tiga kali tanam dan tiga kali panen dalam setahun kalender.
Di balik percepatan ritme agraria ini, nama Syaharuddin Alrif mencuat sebagai motor penggerak. Meski baru sekitar satu tahun lebih memimpin, kebijakannya mulai menarik perhatian pelaku sektor pertanian di Sulawesi Selatan.
Data 2025 menunjukkan lonjakan produksi Gabah Kering Panen (GKP) Sidrap mencapai 663.819 ton, naik sekitar 129 ribu ton dibanding tahun sebelumnya.
Lebih mencolok lagi, nilai ekonominya melonjak dari Rp2,56 triliun menjadi Rp4,51 triliun. Kenaikan hampir Rp2 triliun ini bukan sekadar statistik, melainkan perputaran uang nyata di desa.
“Ini adalah uang yang bergerak di urat nadi desa. Ini berarti ongkos sekolah yang lebih lancar, atau cicilan motor yang terbayar tanpa perlu terlalu banyak hitung mundur,” tulis Edy Basri.
IP 300: Mengubah Waktu, Bukan Lahan
Konsep IP 300 tidak menambah luas lahan, melainkan mengoptimalkan waktu tanam. Dari pola dua kali tanam, petani didorong masuk ke siklus ketiga dengan syarat ketat, Varietas genjah (usia panen pendek), Irigasi stabil dan Tanam serentak untuk menekan hama
Di tingkat teknis, ini disebut intensifikasi. Namun bagi petani, maknanya sederhana: sawah tidak boleh lama menganggur.
Trilogi Pertanian: Tanam, Panen, Hilirisasi
Syaharuddin Alrif merumuskan visinya dalam tiga kata kunci, Pertama, tanam memaksimalkan produktivitas lahan, kedua Panen – meningkatkan volume dan frekuensi dan Ketiga, Hilirisasi – mendorong nilai tambah, tidak berhenti di gabah
Pendekatan ini menandai upaya Sidrap keluar dari pola lama sebagai sekadar pemasok bahan mentah.
Kebijakan ini relatif mudah diterima petani karena latar belakang sang bupati yang dekat dengan dunia pertanian. Ia tidak berbicara dari balik meja, tetapi dari pengalaman langsung di lapangan. Kedekatan ini membuat program IP 300 lebih cepat “menempel” di masyarakat.
Efek Domino ke Daerah Lain
Keberhasilan Sidrap mulai memicu daerah lain untuk mengikuti. Kabupaten Soppeng disebut mulai melirik konsep serupa.
Dalam kebijakan publik, replikasi adalah indikator keberhasilan. Jika sebuah inovasi ditiru, artinya ia terbukti efektif atau setidaknya realistis untuk diterapkan.
Kini, Sidrap tidak lagi sekadar menjalankan program pertanian. Daerah ini mulai memimpin arah baru—di mana sawah tidak lagi beristirahat lama, karena terus bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan petani.(*)









