SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Perubahan iklim kini tidak lagi sekadar menjadi isu lingkungan, tetapi telah menjadi tantangan nyata bagi keberlanjutan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat. Pola musim yang semakin sulit diprediksi, kemarau berkepanjangan, curah hujan ekstrem, hingga peningkatan suhu udara menuntut pekebun menerapkan teknik budidaya yang lebih adaptif agar hasil panen tetap optimal.
Hal tersebut menjadi salah satu materi utama dalam Pelatihan Petani Sawit Kelas Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diikuti 150 pekebun asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Pelatihan merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), serta diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) di Makassar pada 14–20 Juli 2026.
Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan, S.P., M.P., mengatakan perubahan iklim merupakan tantangan yang tidak dapat dihindari sehingga kemampuan beradaptasi menjadi kunci menjaga produktivitas kebun sawit rakyat.
“Tahun ini kita menghadapi tantangan besar berupa perubahan iklim, khususnya El Nino. Ketika hujan turun intensitasnya sangat tinggi, tetapi saat kemarau panasnya juga sangat ekstrem. Kondisi seperti ini harus diantisipasi agar produktivitas kebun rakyat tidak turun drastis,” ujarnya saat membuka pelatihan.
Menurutnya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi investasi penting dalam membangun perkebunan sawit yang tangguh. Melalui pelatihan ini, pekebun tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga didorong mengubah pola pengelolaan kebun dari berbasis pengalaman menjadi berbasis ilmu pengetahuan dengan menerapkan Good Agricultural Practices (GAP).
“El Nino tidak bisa dicegah karena merupakan fenomena alam yang akan terus berulang. Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan kemampuan pekebun untuk beradaptasi sehingga dampaknya terhadap produktivitas dapat diminimalkan,” katanya.
Sri Gunawan menjelaskan, strategi adaptasi terhadap perubahan iklim harus dimulai sejak awal budidaya, mulai dari penggunaan benih unggul bersertifikat, pengelolaan tanah yang baik, konservasi air, hingga pemupukan yang disesuaikan dengan kondisi cuaca.
Ia menjelaskan bahwa kekeringan tidak hanya mengurangi ketersediaan air bagi tanaman, tetapi juga mengganggu proses pembentukan bunga. Tanaman yang mengalami cekaman air cenderung menghasilkan lebih banyak bunga jantan dibanding bunga betina yang berkembang menjadi tandan buah segar (TBS), sehingga produksi sawit menurun.
Selain itu, suhu tinggi dan rendahnya kelembapan juga berdampak terhadap populasi serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus, yang berperan penting dalam proses penyerbukan alami kelapa sawit. Berkurangnya populasi serangga tersebut menyebabkan pembentukan buah menjadi kurang optimal.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, AKPY mendorong pekebun menerapkan berbagai teknik konservasi air, seperti pembangunan embung, rorak, parit buntu, teras konservasi, maupun guludan agar air hujan lebih banyak tersimpan di dalam tanah.
“Hujan jangan dipandang sebagai musibah, tetapi sebagai anugerah yang harus disimpan sebanyak mungkin di dalam kebun. Semakin banyak air yang dapat ditahan di lahan, semakin besar peluang tanaman bertahan ketika musim kemarau datang,” jelasnya.
Selain menjaga ketersediaan air, kesehatan tanah juga menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan iklim. Tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi memiliki kemampuan menyimpan air lebih lama sekaligus meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara.
Sri Gunawan menyarankan pelepah hasil pemangkasan maupun janjang kosong dimanfaatkan sebagai mulsa untuk menjaga kelembapan tanah sekaligus meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang mendukung kesuburan lahan.
“Tanah tidak hanya harus subur, tetapi juga harus sehat. Tanah yang sehat memiliki kandungan bahan organik yang cukup sehingga mampu menyimpan air lebih lama dan meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara oleh tanaman,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar pemupukan dilakukan pada waktu yang tepat. Pemupukan saat kemarau panjang maupun hujan berlebihan berisiko menurunkan efektivitas pupuk karena dapat menguap atau tercuci sebelum diserap tanaman.
Di sisi lain, perubahan iklim juga berpotensi meningkatkan serangan organisme pengganggu tanaman seperti ulat api dan ulat kantong. Karena itu, pekebun diminta lebih rutin melakukan pemantauan kondisi kebun agar serangan hama dapat dideteksi dan ditangani lebih dini.
Menutup sambutannya, Sri Gunawan menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi perubahan iklim sangat bergantung pada kemampuan pekebun menerapkan teknik budidaya yang tepat.
“Produktivitas sawit pada akhirnya ditentukan oleh dua hal utama, yaitu ketersediaan air dan kesehatan tanah. Iklim memang tidak bisa kita kendalikan, tetapi bagaimana kita mengelola kebun agar tetap produktif di tengah perubahan iklim sepenuhnya berada di tangan kita. Karena itu, ilmu yang diperoleh selama pelatihan harus benar-benar diterapkan di kebun dan dibagikan kepada pekebun lainnya,” pungkasnya.









