SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Ketua Komisi C DPRD Makassar, Rahman Pina, terus menyuarakan pembayaran seluruh honor yang telah menjadi hak bagi ketua RTRW ke Pemkot Makasssar. Ia malah menaruh curiga, sejak awal, janji honor itu sekadar pemberi harapan palsu (PHP).
“Sejak awal memang cuma pancingan. Kayak orang jatuh cinta diberi PHP. Niatnya tidak tulus. Kalau memang serius, ini sudah dibayar sejak tiga tahun lalu. Bukan baru sekarang diributkan. Apalagi dibuatkan macam macam persyaratan yang berat,”katanya.
Ia kemudian menyebut tiga kesalahan pemkot Makassar dalam janji honor RTRW Rp 1 juta itu. Kejanggalan pertama, katanya, pada jumlah honor yang sama antara ketua RT dan RW. Padahal luas dan area kerja tentu berbeda. “Masak honor lurah dan camat sama. Honor walikota dan wakil walikota saja beda, masak rt dan rw sama?” ujarnya.
Kesalahan kedua, kata legislator dua periode ini, honor hanya diberikan kepada simpul simpul politik dengan basis RT dan RW. Sementara ketua ketua LPM yang juga perannya sangat vital, malah tidak dapat intensif, bahkan sama sekali tidak dapat perhatian. “Jadi seakan akan peran LPM sekadar pelengkap dan bertugas mengesahkan apa keinginan pemkot di tingkat kelurahan,”katanya lagi.
Kesalahan ketiga, Rahman Pina melanjutkan,
Karena besaran insentif yang diberikan kepada imam kelurahan, sangat kecil dibanding RTRW. Bahkan saya dengar dengar intensif untuk kelurahan tidak sampai Rp 250. “Jadi memang ini insentif lucu lucu dan cenderung pilih kasih,”kata dia.
Atas dasar itulah, ia berharap perwali yang mengatur sol pemberian insentif kepada RTRW dicabut dan dibuatkan perwali yang baru. Tapi di perwali yang baru itu nantinya, juga mencakup tentang pemberian insentif bagi ketua LPM, imam kekurahan dan imam masjid. Begitu juga dengan para pendeta dan pastor dan guru sekolah minggu. “Semua ini sangat berperan aktif dalam masyarakat sehingga perlu mendapat perhatian dari pemerintah,”kata bendahara Golkar Makassar ini.(*)



