SUARACRLEBES.COM, MAKASSAR – Rentetan perang kelompok di Makassar kembali memperlihatkan pola kekerasan yang mengkhawatirkan. Setelah sebelumnya terjadi bentrokan di Jalan Kandea yang berujung pada pembakaran rumah. Dalam peristiwa itu Lima unit rumah warga ludes terbakar di Jalan Kandea 3, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Selasa (23/9/2025).
Kini insiden serupa kembali terulang dalam bentrokan antara warga Sapiria dan Borta di Kecamatan Tallo. Kebakaran hebat terjadi di kawasan perkuburan Beroangin, Jalan Pannampu, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (18/11/2025) sore. Tujuh rumah warga ludes terbakar setelah pecah tawuran dua kelompok pemuda.
Sebelum api berkobar, warga Borta dan warga Sapiria sempat terlibat perang kelompok menggunakan petasan, bom molotov hingga senapan angin.
Perang kelompok ini diduga terjadi Akibat demdam, sebelumnya juga terjadi perang seorang warga sapiria tewas bernama Nursyam alias Kipas (40).
Ia tewas setelah diduga terkena peluru senapan angin di bagian kepala.
Kapolsek Tallo, Kompol Syamsuardi, membenarkan adanya korban meninggal dunia.
“Iya, ada katanya korban meninggal dunia akibat tawuran,” ujarnya dikonfirmasi via WhatsApp, Selasa (18/11/2025).
Diketahui, konflik antara warga Borta dan Sapiria bukanlah kejadian baru.
Sejumlah bentrokan telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian melibatkan senjata tajam, bom molotov, hingga busur panah yang kerap digunakan kelompok pemuda.
Kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa potensi konflik horizontal di kawasan tersebut masih tinggi dan belum sepenuhnya bisa dikendalikan.
Pembakaran rumah dalam perang kelompok bukan peristiwa baru di Makassar, namun fakta bahwa kejadian ini terjadi dua kali sepanjang 2025 menandakan adanya eskalasi kekerasan yang semakin ekstrem. Konflik yang awalnya berupa saling lempar batu atau busur kini berkembang menjadi tindakan destruktif yang berdampak luas terhadap keselamatan dan kehidupan sosial warga.
Kedua insiden ini menunjukkan bahwa konflik bukan sekadar aksi impulsif, melainkan bagian dari siklus dendam yang terus berulang tanpa ada penyelesaian yang tuntas.
Terjadinya dua pembakaran rumah dalam perang kelompok pada tahun 2025menjadi alarm serius bagi pemerintah, aparat, serta masyarakat. Kekerasan yang meningkat dari sekadar bentrokan menjadi aksi pembakaran rumah menunjukkan bahwa tingkat konflik telah melewati batas wajar.
Butuh upaya kolektif dan pendekatan terpadu untuk menghentikan siklus dendam yang terus berulang demi menjaga keamanan warga dan mencegah korban jiwa maupun kerusakan yang lebih besar di masa mendatang.









