SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Musda Golkar Sulsel tak lama lagi dilaksanakan, beberapa figurs anter disebut di media, antara lainAndi Fashar Padjalangi, Walikota Pare-pare Taufan Pawe, Rusdin Abdullah, Syamsuddin Hamid Batara, anggota DPR RI, Supriansa, Andi Rio Padjalangi, Hamka B Kady Serta Kadir Halid dan Ina Kartika. Namun seiring dengan waktu yang semakin mendekati perhelatan Musda, dinamika internal partai Golkar semakin menarik untuk dikaji. Bahkan tersiar informasi bahwa Golkar Sulsel “terbelah” dua kelompok dukungan, yaitu kelompok pembaharuan dan status quo.
Pada posisi kelompok pembaharuan mayoritas didominasi tokoh tokoh senior dan kepala daerah yang juga sebagai ketua DPD II Golkar, sementara kelompok status quo didominasi oleh ketua DPD II maupun pengurus yang selama ini dianggap bagian dari kroni Nurdin Halid (NH).
Terbelahnya dukungan kader kader Golkar Sulsel kemudian memunculkan figur calon ketua Golkar Sulsel mendatang, dari kelompok pembaharuan yang selama ini aktif mengkritisi kepemimpinan Nurdin Halid memunculkan beberapa nama, diantaranya Bupati Soppeng Andi Kaswadi Razak, Kader Senior Golkar Sulsel Rusdin Abdullah, Bupati Bone Andi Fashar Padjalangi, Walikota Pare-pare Taufan Pawe dan Anggota DPR RI Andi Rio Padjalangi.
Menariknya, setelah kelompok pembaharuan konsolidasi di Trans Studio Makassar pekan lalu, seolah tak ingin ketinggalan momentum, kubu status quo pun langsung menggelar konsolidasi di Kabupaten Pangkep yang nota bene ketua DPD Pangkep menjadi tuan rumah.
Meskipun acara tersebut diklaim hanya acara seremoni ulang tahun Bupati Pangkep, Syamsuddin Hamid Batara, namun pada pertemuan tersebut muncullah beberapa nama yang dianggap mewakili kepentingan kubu status quo, diantaranya Kadir Halid, Syamsuddin Hamid Batara dan anggota DPR RI, Hamka B Kady.
Beberapa waktu lalu Kadir Halid saat ditanya media, Kadir Halid tidak menampik mengenai peluangnya menggantikan kursi yang ditinggalkan saudaranya itu. Namun dia mengaku masih melihat situasi.
“Saya akan lihat perkembangan dulu,” kata Kadir Halid kepada Tribun Timur, terkait kesiapannya maju di Musda.
Perjalanan Karier Politi Kadir Halid
Kadir Halid selain sebagai adik kandung Nurdin Halid, Kadir pun pernah ikut bertarung pada Pilwali Makassar pada tahun 2013. Kala itu Kadir mejadi wakil dari incumbent Supomo Guntur. Menariknya jauh hari sebelum supomo menggandeng kadir sebagai wakilnya, berdasarkan suvey Supomo terbilang calon kuat walikota masa itu yang sering meraih hasil survey peringkat pertama. Namun, setelah berpaket dengan Kadir Halid yang mengusung akronim SUKA Supomo Kadir, survei SUKA kemudian makin hari anjlok. Yang pada akhirnya pilwali 2013 SuKa menempatkan posisi ke 4 peraih suara hasil pilwali.
Gagal di pilwali 2013, Kadir Halid tak patah arang, beliau kembali mencoba peruntungan pada pemilu 2014 dengan ikut berkompetisi sebagai caleg golkar untuk DPRD Sulsel Dapil Makassar. Namun untuk kedua kalinya Kadir Halid kembali menelan pil pahit kekalahan dari Adnan Purichta IYL yang berhasil mendapatkan kursi DPRD Sulsel.
Dua tahun Adnan menduduki kursi anggota DPRD Sulsel Fraksi golkar, Kabupaten Gowa kemudian menggelar Pilkada. Adnan pun tertarik mengikuti kontestasi tersebut dan berhasil memenangkan pilkada gowa 2015.
Saat maju sebagai calon bupati Gowa, Adnan diperhadapkan dengan regulasi bahwa untuk maju sebagai calon bupati diharuskan mundur sebagai anggota dewan. Mundurnya Adnan, seolah menjadi rezeki bagi Kadir Halid. Rezeki “durian runtuh” tersebut menjadi kenikmatan tersendiiri bagi Kadir yang menjadi pengganti antar waktu Adnan di kursi DPRD Sulsel.
Setelah menghabiskan periodenya di DPRD Sulsel, pemilu 2019 Kadir Halid pun kembali mencoba peruntungan untuk bertarung merebut kursi DPRD Sulsel melalui partai golkar sulsel dapil Makassar 1. Sebagai incumbent dan juga sebagai adik Nurdin Halid, tentunya Kadir Halid memperoleh perlakuan khusus, salah satunya menjadi caleg no urut 1 di dapilnya. Namun pada pileg tersebut, untuk kesekian kalinya lagi kadir halid kalah total dari kader pendatang baru seorang perempuan yakni Andi Debbie Purnama Rusdin.
Perbedaaan jumlah suaranya pun sangat terlampauh jauh. Andi Debbie purnama Rusdin berhasil meraih suara hampir 15 ribu, sedangkan Kadir harus menerima kekalahan telak dengan hanya memeproleh suara lebih dari 7 ribu, yang mana selisih suara tetinggal jauh sekitar 8 ribu suara.
Nah, di momentum Musda Golkar Sulsel kali ini, akankah Kadir Halid kembali ingin mencoba peruntungan nya untuk bertarung menjadi calon ketua Golkar Sulsel ? Publik tentunya akan menanti hasil dari pertarungan tersebut, jika benar Kadir Halid bertarung, mungkin kah Kadir akan mengalami kekalahan bertubi-tubi berikutnya atau sukses meraih 01 Golkar Sulsel ?



