Oleh : Ano Suparno, Jurnalis dari Makassar
SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – “Apa kabar Donald” Begitu pembuka saat debat Pertama Pilpres Amerika Serikat antara Donald Trump dan Hillary Clinton. Debat dibuka melalui pertanyaan Hillary yang menyebut Donald Trump sungguh sangat beruntung dalam memulai karier bisnisnya “Dia meminjam $40 juta dari ayahnya, dia benar-benar percaya bahwa jika Anda membantu orang kaya, Anda akan lebih baik.” Cecar Hillary saat menjabat tangan Trump sebagai simbol perdebatan dimulai.
Perdebatan pun semakin panjang, “ayah saya memberi saya pinjaman kecil pada 1975, dan saya mendirikan perusahaan, yang bernilai miliaran dolar” sanggah Trump. (Sumber : BBC)
Begitulah sepantasnya bercermin jika ingin menyebut debat dalam percaturan Pilpres. Durasi yang disiapkan cukup untuk mengulas satu tema atau satu pertanyaan dari calon presiden.
Bercermin pada debat kedua Pilpres Indonesia, yang ramai malah debat pasca debat itu berlangsung. Mulai tentang data yang Jokowi ungkap hingga pemaparan dari Prabowo. Namun karena durasi yang sangat minim akhirnya pemaparan dari kedua capres ini, berlanjut di luar arena debat itu sendiri. Yag rame malah nitizen, tim sukses hingga pengamat ikut mendebati apa yang kedua capres paparkan.
Pernyataan Jokowi tentang kepemilikan lahan Prabowo seharusnya selesai di layar perdebatan, Prabowo menjawab secara gamblang dan Jokowi pun seharusnya mengejar hingga tuntas. Begitu pula soal data impor, unicorn hingga kebakaran hutan. Tentu Jokowi memiliki argumen yang kuat, pun Prabowo memiliki analisa yang kritis. Tak ada pula yang salah jika pertanyaan menyangkut hal yang pribadi pada seorang capres karena itu penting untuk publik tau.
Pernyataan Jokowi tentang lahan yang dikuasai Prabowo mirip pertanyaan seorang host pada sebuah talk Show. Pernyataan akan tetapi ada sindiran atau satire yang terkandung dalam kalimat itu. Sayangnya, hanya sekali terlontar lalu dijawab secara datar oleh Prabowo. Pernyataan seperti itu layaknya terlontar jika memiliki durasi yang cukup panjang sehingga host leluasa mengejar atau mencecar pertanyaan dari setiap sanggahan narasumber. Sayangnya, durasi debat untuk satu pertanyaan sangat pendek sehingg perdebatan pun berlangsung di luar layar debat itu. Sekali lagi, debat tak pernah tuntas melalui debat Pilpres Indonesia. Debat hanya melahirkan debat yang sangaaaatt panjang tanpa ujung.
Maka dari itu, Dear KPU
Debat itu menyelesaikan masalah di meja debat melalui kamera. Bukan menciptakan perdebatan baru dari nitizen, pengamat dan media sebab yang akan kita pilih sebagai presiden, yakni Apakah Jokowi melanjutkan 2 periode ataukah Prabowo yang terpilih menggantikan Jokowi. Sebab dari itulah, jutaan rakyat Indonesia ingin memilih capres yang kredible dan pantas untuk periode 2019-2024.(*)




