SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Pelaksanaan Pilgub Sulsel 2018 mendatang kental kepentingan elite nasional bahkan istana sekaligus.
Apalagi dengan keberadaan saudara kandung Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman yaitu Sudirman Sulaiman yang disebut-sebut bakal menjadi duet Nurdin Abdullah maju di Pilgub mendatang. Menggeser posisi Tanribali Lamo yang sejak awal ditetapkan sebagai bakal pendampingnya.
Hanya saja yang menjadi soal adalah kehadiran Agus Arifin Nu’mang yang pernah menjadi ketum tim sahabat pemenangan Jokowi-JK di Pilpres 2014 bersama Amran kurang mendapat tempat di kelompok istana.
Malah kecenderungan istana lebih memberikan dukungan ke NA, yang pada Pilpres lalu tidak memberikan konstribusi signifikan perihal kemenangan Jokowi – JK.
Hal ini dibenarkan oleh pakar politik dari Universitas Muhammadiyah Makassar, Andi Luhur Prianto.
Dia mengatakan meski NA mencari format untuk memadukan dua kekuatan Pilpres, tetapi masih banyak kekuatan istana.
“Model komunikasi NA memang lebih banyak dengan kekuatan istana. Secara langsung maupun tidak langsung. Pergerakan NA di elit kekuasaan juga di bantu beberapa tokoh nasional. Dengan citra dan grafik survey yang baik, tentu menjadi jalan meyakinkan elit kekuasaan,” kata Luhur, Selasa (26/9/2017)
Kendati elite istana cenderung ke NA, tetapi bukan hal yang tidak mungkin Agus melakukan perlawanan untuk menggalang pemilih Jokowi – JK di Pilpres lalu. Hal ini bukan tanpa alasan, Agus sudah pasti memiliki kekuatan sejak menjadi ketua tim Jokowi-JK di Pilpres lalu bersama dengan Amran Sulaiman.
Hal lain, lantaran Agus yang all out memberikan dukungan ke Jokowi-JK pada Pilpres lalu malah terkesan menjadi lawan Istana, sementara NA yang tidak memberikan konstribusi mendapat dukungan penuh.
Pakar politik dari Universitas Bosowa Makassar, Arief Wicaksono menilai, atas dasar ini, Agus Arifin Nu’mang tentu akan melakukan manuver, sekalipun tidak akan memperlihatkan perlawanan.
“Pak Agus tentu akan bermanuver,” kata Arief.
Dia pun menyarankan ke Agus untuk mengelolah hal tersebut dengan baik melalui perhitungan dan kalkulasi rasional, jika dikelolah dengan perasaan, menurutnya akan sulit untuk berkembang.
“Tidak ada Baper (bawa perasaan) dalam dunia politik, menurut saya. Sebaliknya, justru pak Agus harus rasional dalam menyikapi dinamika politik ini,” tandasnya.(*)










