SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Sejatinya warga di kampung ini sejahtera dan meningkat dalam segala hal. Yakni Desa Bonto Masunggu Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Alasannya sederhana sebab daerah yang boleh disebut barada di ujung kaki langit itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros sebelah Timur, Kabupaten Pangkep sebelah selatan dan Kabupaten Barru sebelah barat dan utara. Dari kota Makassar, jaraknya sekitar 87,5 km melalui jalan utama Kabupaten Pangkep. Walau demikian jika star dari Makassar maka jaraknya dapat ditempuh hingga dua jam. Walaupun berjarak seperti itu bukan berarti kampung Bonto Masunggu dapat berkembang seperti desa lainnya apalagi mendapat kunjungan dari seorang gubernur. Nantilah Pj Gubernur Sulawesi Selatan Dr. Bahtiar Baharuddin yang pertamakali menginjakan kakinya di kampung tersebut sekaligus silaturrahmi bersama warga. Bahtiar mendatangi warga di desa tersebut bersama Pj Bupati Bone A. Islamuddin.
Desa ini terletak di antara Gunung Bulusaraung dan Gunung Tondong Karambu, yang sebagian lahannya dijadikan area pertanian. Beberapa air terjun yang mengaliri kedua gunung itu dapat terlihat jelas dari jantung desa. Desa ini terdiri atas dua dusun, yaitu dusun Elle dan Tokella. Terdiri atas 1009 jiwa, sebagian besar warga desa memanfaatkan hasil alam untuk penghidupan dengan bertani, berkebun dan beternak.
Wilayah desa ini tepat di kaki langit ujung perbatasan lima kabupaten di Sulawesi Selatan.
“Ini pertama kalinya ada gubernur dan Kepala OJK yang menginjakkan kaki di tempat ini Desa Bonto Masunggu. Sebuah desa paling ujung barat dari Bone, berjarak 218 km dari Kota Watampone yang perbatasan langsung dengan Kabupaten Pangkep, dan untuk ke sini harus lewat Kabupaten Barru. Terima kasih Bapak Pj Gubernur Sulsel,” kata Pj Bupati Bone A. Islamuddin disambut tepuk tangan meriah dari warga setempat.
Seperti di tempat lain, Bahtiar juga melakukan penanaman pohon sukun sebagai salah satu upaya menggerakan roda ekonomi di desa terpencil ini termasuk Bahtiar berharap agar Desa Bonto Masunggu, Kecamatan Tellu Limpoe dijadikan desa wisata. Apalagi pada saat itu turut hadir Kepala OJK Regional VI Sulampua Darwisman.
“Daerah ini (Bonto Masunggu) masih perawan, belum terlalu disentuh, apalagi ada air terjunnya. Jika berkenan (Kepala OJK) tahun 2024 Desa Bonto Masunggu menjadi desa binaan,” jelasnya.
Bukan kali ini saja Bahtiar menemui warga yang daerahnya belum pernah dijambangi oleh Kepala Daerah di Sulawesi Selatan. Saban hari , Selasa (5/12/2023) Bahtiar bersama jajarannya mengunjungi Desa Mattiro Walie, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Desa Mattiro Walie merupakan desa yang sangat memprihatinkan. Terdapat sejumlah kondisi yang menyebabkan warganya tertinggal dibanding daerah lainya. Seperti air bersih, jaringan komunikasi, akses jalan yang sering longsor, nasib pendidikan anak anak sekolah serta berbagai penyakit yang menimpa warga. “Kami di sini sering mendapati penyakit monyet dengan babi. Tolong dicarikan jalan masyarakat,” keluh Fataruddin kepada Bahtiar.
“Kami merasa bersyukur karena semenjak Indonesia merdeka baru kali ini ada gubernur yang datang menginjakan kakinya di Desa Mattiro Walie” ungkap Kepala Desa Mattiro Walie Andi Syahrir.
Desa Mattorwalie terletak di perbatasan Bone Barat dengan Kecamatan Camba Kabupaten Maros. Mata pencaharian warga di daerah tersebut yakni beternak dan petani tadah hujan. “Seringkali kami gagal panen. Sudah banyak tanaman yang kami coba tapi rata rata gagal” ungkap Aleng, seorang warga. Makanya dia berterima kepada gubernur yang telah memberikan bibit pisang Cavendish dan Sukun untuk mereka tanam. Kedatangan Bahtiar yang didampingi Pj Bupati Bone A. Islamuddin tidak sekadar menyapa warga. Selain bersama warga menanam pisang cavendish dan sukun, Bahtiar juga berjanji akan memperbaiki akses jalan menuju lokasi tersebut. “Tugas kami mencari jalan keluar” tandas Bahtiar yang berjanji akan kembali pada Februari 2024.
Bahtiar tak akan pernah berhenti untuk berkunjung di dua lokasi ini saja. Pada beberapa kesempatan di tahun 2024 Bahtiar akan menemui warga yang memang benar benar tak pernah dikunjungi oleh Gubernur sejak negara ini merdeka. “Bagaimana mungkin dapat mengetahui kondisi rakyat kita di pelosok jika tak pernah melihat kehidupan mereka” imbuh Bahtiar.(*)




