SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Direktur Utama Perusda Sulsel, Taufik Fachrudin mengaku profesional meski berstatus ipar Gubernur Nurdin,
Taufik menyampaikan hal tersebut dihadapan pansus hak angket, Senin, 30/7.
Menurut Taufik, pengalamannya di Bantaeng, bisa jadi alasan Prof Nurdin Abdullah, Gubernur Sulsel menunjuknya sebagai Dirut Perusda, apalagi saat itu Perusda sedang dalam posisi tanpa Dirut, karena dirutnya saat itu Haris Hody, mundur karena mencalonkan diri pada Pemilihan Umum 2019.
Taufik sendiri mengaku menerima jabatan karena ingin membantu Gubernur. Sama dengan alasannya saat menjabat Dirut Perusda Bantaeng, yakni ingin membantu Prof Nurdin Abdullah sebagai Bupati. Lebih dari itu, Taufik merasa tertarik dengan visi Prof Nurdin Abdullah yang ingin menjadikan Sulsel daerah ramah investasi.”Dan memang saya ‘pure’ bisnis, tidak pernah menjadi PNS, tidak pernah mengerjakan proyek pemerintah. Walau pun saya adik ipar (Gubernur), saya bisa perlihatkan kerja profesional,” ucapnya.
Perusda Sulsel saat ini menurutnya, sedang berupaya sembuh dari “sakit”
Pada sidang pemeriksaan tersebut, Taufik mengungkapkan kondisi Perusda Sulsel sejak masa awal dia menjabat, hingga kini berjalan sekitar delapan bulan. Saat pertama menerima amanah Gubernur Prof Nurdin Abdullah, Taufik menyebut perusahaan yang dia pimpin sedang “sakit”. Sebagai gambaran, saat itu kas keuangan Rp. 100 ribu dan 7 rekening perusda hanya sekitar Rp 9 juta. Ada karyawan juga tidak menerima gaji selama tiga hingga empat bulan. Perlahan, kata Taufik, pihaknya melakukan beberapa perbaikan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah meminta organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sulsel agar memilih hotel milik Perusda jika menyelenggarakan kegiatan. Hingga akhirnya kini, kondisi GSPH berangsur membaik, termasuk gaji karyawan sudah kembali normal.
Taufik menyebutkan, gaji para pegawai kini sudah terbayar tepat waktu, meskipun baru sebatas pengganti biaya transportasi saja, namun seluruh jajaran direksi, badan pengawas serta karyawan bisa memahami karena memang kondisi Perusda saat ini tengah pembenahan. Perusda juga tengah melakukan optimalisasi aset yang bernilai total sekitar Rp600-900 miliar, seiring proses peralihan status menjadi Perseroan Daerah.
“Salah satu yang mau saya laporkan, bahwa optimalisasi aset yang ada ini memang butuh keseriusan dari jajaran pemerintahan yang terkait aset, sehingga aset aset tersebut bisa menghasilkan deviden bagi peningkatan PAD Sulsel. Insya Allah, kami berupaya untuk tidak menggunakan anggaran dari APBD untuk perusda, karena kami ingin mandiri dan berdiri diatas kaki sendiri,” tegas Taufik.(*)



