Adakan Pensi, SMA Islam Athirah Makassar Padukan Kesenian Budaya dan Bhineka Tunggal Ika

Pemkot Makassar SC
BAPENDA Makassar SC

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Sebagai Sekolah Penggerak, SMA Islam Athirah 1 Makassar menggelar pentas seni dengan mengangkat tema Kebhinekaan Global. Kegiatan ini menampilkan kesenian tari, drama, dan menyanyi lagu khas daerah serta lagu nasional yang berlangsung di Auditorium Sekolah Islam Athirah 1 Makassar, Selasa (30/11/2021).

Dalam wawancaranya dengan awak media, Kepala Sekolah SMA Islam Athirah 1 Makassar, Tawakkal Kahar, S.Pd, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini adalah profil pelajar pancasila, dimana ada 6 dimensi yang mesti tercapai sebagai sekolah penggerak.

“Salah satu profil yang kami gerakkan adalah kebhinekaan global. Adapun tema yang diangkat adalah bhineka tunggal ika, yang dituangkan dalam bentuk kesenian berupa drama, tari, musik dan rupa. Jadi dalam rangka menyaksikan panennya projek dari sekolah penggerak, para siswa harus menyiapkan dirinya untuk tampil,” ujarnya saat ditemui secara langsung oleh tim media.

Dia juga menjelaskan bahwa yang tampil tahun ini adalah siswa SMA kelas 10. Karena SMA Islam Athirah ini termasuk dalam salah satu sekolah penggerak, maka sekolah ini harus melakukan atau mengerjakan kurikulum yang ada dalam sekolah penggerak.

“Semua sekolah yang masuk dalam sekolah penggerak harus mampu membentuk karakter profil pancasila. Jadi persembahan tari yang ditampilkan tadi adalah wujud bhineka tunggal ika, dari berbagai daerah. Ada tari dari Sumatera Utara (Tor-Tor), Toraja (Tongkonan), Bugis (Mappadendang), jadi itu semua dimunculkan dalam bentuk aksi,” jelasnya.

Ini merupakan kegiatan pertama anak-anak dalam projek sekolah penggerak. Insyaallah nanti di semester kedua itu ada lagi dua profil yang mau digencarkan, yaitu kewirausahaan dan kemandirian.

“Siswa nanti ada dua raport. Yang penampilan tadi namanya raport profil, yang berbentuk narasi. Penilaian dari guru, masing-masing menilai apakah anak ini sudah mampu melakukan gotong royong, kerja sama tim, kreativitas, itu semua dinilai. Bahkan yang bertugas angkat-angkat properti itu semua juga dinilai. Sebenarnya yang ditampilkan tadi hanyalah hasil panen, tetapi pokok penilaian ada pada proses yang dilakukan anak-anak hingga ke hasil. Proses adalah hal terpenting, lalu hasil,” ujarnya lagi.

Perlu diketahui bahwa sekolah penggerak merupakan program kurikulum barunya Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek, di mana 75% adalah kognitif yang dilakukan di kelas dalam bentuk pembelajaran, dan 25% dalam bentuk raport profil, di mana yang menjadi tolok ukur adalah karakter siswa.

“Jadi untuk raport profil itu, yang menjadi ukuran para guru adalah karakter siswa. Misalnya pada penampilan ini, yang dinilai adalah prosesnya, yakni sejak tanggal 8 November sampai 30 November hari ini. Kalau yang kita liat ini adalah hasil dari sebuah proses. Dan yang menjadi tolok ukur penilaian kami, yaitu pada proses. Bagaimana anak-anak bisa menyelesaikan projectnya ini dengan baik, dan saling gotong royong, saling toleransi satu sama lain,” tambahnya.

Dia juga berharap bahwa kegiatan ini bisa berdampak positif dan bisa menanamkan rasa gotong royong serta kerja sama kepada sesama siswa agar terciptanya sebuah rasa saling menghargai.

“Dampak positif yang diharapkan adalah paradigma baru anak-anak tentang kerja sama, gotong royong, dengan menghargai kebersamaan itu bisa dapat. Untuk saat ini saya berharapnya mereka sikap toleransinya bisa dapat, karena mereka pastinya memiliki karakter yang berbeda. Sehingga mereka bisa belajar menghargai di beragamnya perbedaan,” harapnya.

Selain itu, Asri Mery Sidowati, S.Sn., M.F.A., selaku Koordinator Project mengatakan bahwa tantangan yang paling utama adalah membangun dan mempersatukan perbedaan karakter dari siswa.

“Yang paling menjadi tantangan bagi saya sendiri adalah membangun perbedaan karakter anak-anak. Karena seperti yang kita tahu bahwa anak-anak milenial saat ini maunya instan, sementara kalau kegiatan seperti ini perlu kolaborasi, kerja sama dan proses. Menurut saya itu adalah tantangan terberat saya untuk merubah kebiasaan mereka untuk menjadi sikap yang memiliki tanggung jawab dan rasa kebersamaan yang kuat,” jelasnya.

Ada lima dimensi profil pancasila yang harus diraih yakni berketuhanan yang maha esa, mandiri, berbhineka tunggal, kreativitas dan berpikir kritis.

“Dalam sekolah penggerak itu sendiri setiap tahunnya harus menghasilkan 3 projek. Dan ini merupakan projek pertama sekolah Islam Athirah. Dan tema pada projek kali ini adalah berkebhinekaan global, yang diukur dalam tiga dimensi, yakni bergotong royong, bhineka global dan kreativitas, ujarnya.

Sebagai informasi bahwa dalam penampilan karya seni tersebut dipersembahkan langsung oleh siswa-siswi Sekolah Islam Athirah kelas X, yang terdiri dari 125 orang. (Ainun Muhammad)

Badan Intelijen Negara
Pangkep SC