banner dprd mkassar

Musda Golkar Sulsel, Ketika Laga Berakhir Sebelum Kick Off

Oleh : Nurmal Idrus ( Direktur Nurani Stategic)

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Piala Dunia selalu mengajarkan satu hal, bola itu bundar, hasil pertandingan sulit ditebak. Tim unggulan bisa pulang lebih cepat, tim kuda hitam bisa melaju sampai semifinal. Pokoknya, selama peluit belum dibunyikan, semua kemungkinan masih hidup.

Sayangnya, pelajaran itu tampaknya tidak berlaku di Musda Golkar Sulsel.

Kalau Piala Dunia menawarkan drama 90 menit plus injury time, Musda Golkar Sulsel justru seperti pertandingan yang selesai sehari sebelum wasit masuk lapangan. Skornya sudah terpampang di papan. Penonton tinggal datang untuk menyaksikan seremoni penyerahan trofi.

Dengan kemungkinan Munafri Arifuddin memilih berangkat umrah dan tidak hadir dalam Musda, jalan Ilham Arief Sirajuddin menuju kursi Ketua Golkar Sulsel tampak semakin mulus. Dari laga yang sempat diprediksi berlangsung sengit, perlahan berubah menjadi pertandingan eksibisi.

Tidak ada adu strategi. Tidak ada jual beli serangan. Tidak ada drama VAR. Yang tersisa mungkin hanya pembacaan tata tertib dan tepuk tangan aklamasi.

Kalau ini Piala Dunia, mungkin komentator akan berkata, “Selamat datang di final… yang salah satu timnya lupa datang ke stadion.”

Tentu, menjadi calon tunggal bukan dosa politik. Itu justru menunjukkan kemampuan membangun komunikasi dan menggalang dukungan. Dalam politik, kemenangan memang bukan hanya ditentukan oleh siapa paling kuat berpidato, tetapi siapa paling rajin mengetuk pintu.

Namun, justru di situlah tantangan sebenarnya dimulai.
Karena memenangkan Musda jauh lebih mudah daripada memenangkan hati seluruh kader.

Aklamasi sering kali membuat orang lupa bahwa pertandingan sesungguhnya baru dimulai setelah trofi diangkat. Seperti pelatih tim nasional yang dielu-elukan setelah lolos babak kualifikasi, lalu setiap hasil imbang di fase grup langsung diteriaki, “Out!”

IAS nanti akan memimpin tim yang ruang gantinya berisi banyak bintang. Ada mantan kapten. Ada calon kapten. Ada pemain senior yang merasa masih layak jadi starter. Ada pula pemain muda yang sudah sibuk meminta nomor punggung 10.

Mengelola semua itu jelas lebih sulit daripada mengumpulkan dukungan menjelang Musda.

Golkar Sulsel juga menghadapi tantangan yang tidak ringan menjelang Pemilu 2029. Partai ini harus tetap menjadi kekuatan utama di tengah persaingan politik yang semakin ketat. Regenerasi harus berjalan tanpa melukai senior. Mesin partai harus hidup, bukan hanya menjelang pemilu. Bappilu harus bekerja sejak sekarang, bukan ketika baliho sudah berdiri di pinggir jalan.

Yang lebih penting lagi, Golkar harus berhenti mengandalkan nostalgia.

Politik hari ini tidak mengenal gelar “mantan juara”. Pemilih tidak datang ke TPS sambil membawa album foto kemenangan lima belas tahun lalu. Mereka memilih berdasarkan apa yang mereka lihat hari ini.

Karena itu, jika IAS benar-benar menjadi ketua, ia harus segera berubah dari “calon pemenang Musda” menjadi “manajer tim”. Semua pemain harus diberi ruang. Semua daerah harus merasa diperhatikan. Semua kader harus merasa ikut bertanding, bukan sekadar menjadi penonton.

Sebab sejarah sepak bola sudah berkali-kali membuktikan, tim yang dipenuhi pemain hebat belum tentu menjadi juara jika ruang gantinya penuh konflik.

Dan sejarah politik juga tidak jauh berbeda.

Akhirnya, Musda Golkar Sulsel mungkin memang berlangsung tanpa banyak drama. Tetapi jangan salah paham.

Ini bukan peluit akhir.

Ini baru kick off menuju Pemilu 2029.

Kalau selama ini IAS sibuk mengumpulkan suara untuk memenangkan Musda, mulai 18 Juli nanti tugasnya berubah, memastikan seluruh pemain tetap mau mengenakan jersey kuning yang sama.

Karena di politik, lawan terberat sering kali bukan partai sebelah.

Melainkan ego di ruang ganti sendiri.

#nurmalMIND

PDAM Makassar