SUARACELEBES.COM, JAKARTA – Menghadapi disrupsi kecerdasan buatan (AI) dalam lanskap informasi dan media digital, Muslimah Wahdah menyelenggarakan kegiatan “Mini Workshop Digital Talent” di Jakarta Library, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin pada Selasa (18/8/2026). Kegiatan ini hadir sebagai bagian dari rangkaian agenda menuju Muktamar V Wahdah Islamiyah.
Mengusung tema “Literasi Dakwah Digital: Peran Strategis Muslimah dalam Membangun Ekosistem Digital Bangsa”, workshop edukatif ini ditujukan khusus bagi para Pengurus Media Muslimah Wahdah Islamiyah dari berbagai wilayah.
Salah satu narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Jurnalis Senior sekaligus Ketua Umum DPP Generasi Digital Indonesia, Upi Asmaradhana. Membawakan materi bertajuk “Media di Era Artificial Intelligence: Menjaga Integritas Informasi di Tengah Banjir Konten Digital”, Upi menyoroti tantangan sekaligus peluang media dakwah di era disrupsi teknologi.
Dalam pemaparannya, Upi yang juga merupakan CEO & Founder Kabar Grup Indonesia menjelaskan tentang senjakala model media lama yang terlalu bertumpu pada traffic atau jumlah klik audiens. Menurutnya, mesin pencari kini tengah bertransformasi dari sekadar search engine menjadi answer engine (mesin penjawab) yang digerakkan oleh AI.
“Publik kini bisa mendapatkan jawaban langsung dari AI seperti chatbot tanpa harus mengklik dan mengunjungi website publisher (media). Oleh karena itu, pembuat konten harus beralih dari sekadar SEO (Search Engine Optimization) menuju GEO (Generative Engine Optimization). Otoritas, reputasi, dan struktur informasi media menjadi sangat penting agar AI menganggap media kita layak dijadikan sumber rujukan utama,” papar Upi di hadapan para peserta.
Di tengah makin mudah dan murahnya produksi konten berkat kecerdasan buatan, Upi juga mengingatkan adanya ancaman “banjir konten” yang memicu krisis kepercayaan publik akibat masifnya disinformasi, manipulasi, dan konten sintetis. Ia dengan tegas membedakan batasan antara AI dan jurnalisme.
“AI dapat menghasilkan, meringkas, atau memprediksi informasi secara masif dan cepat. Namun, AI tidak memiliki kesadaran etik dan tanggung jawab sosial. Jurnalisme-lah yang bertugas memverifikasi, membuktikan kebenaran, memberikan konteks, serta menakar dampaknya bagi masyarakat,” tegasnya.
Alih-alih menolak teknologi, Upi mengajak pengelola media dan pendakwah digital untuk mengadopsi pendekatan Human in the Loop atau Augmented Journalism. AI dapat dimanfaatkan secara agresif secara internal (exploit internally) sebagai alat bantu, misalnya untuk transkripsi, terjemahan, dan pencarian arsip data. Meski AI mempercepat proses kerja, Upi menegaskan bahwa kendali editorial, akurasi, dan keputusan akhir atas kelayakan sebuah publikasi harus tetap berada di tangan manusia.
Lebih lanjut, ia menyoroti perubahan fundamental terkait kebutuhan audiens. Pengguna internet saat ini tidak lagi sekadar mencari tahu ‘Apa yang terjadi?’, melainkan membutuhkan panduan mengenai ‘Apa yang harus saya lakukan?’ dan ‘Apakah informasi ini bisa dipercaya?’. Di sinilah peran media dituntut untuk hadir sebagai “Mesin Kepercayaan”, yang tak hanya berfungsi memverifikasi fakta (Verify), tetapi juga mampu menjelaskan makna (Explain) serta membimbing publik dalam mengambil keputusan (Guide).
Selain sesi dari Upi Asmaradhana, kegiatan mini workshop yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 14.00 WIB ini turut diperkaya oleh kehadiran pakar-pakar lainnya. Mereka di antaranya adalah Andi Kumala (Jurnalis tvOne), Dr. Zelfia, S.IP, M.M, M.Sos.I (Wakil Ketua III Muslimah DPP Wahdah Islamiyah), dan Nurlia Hikmah, S.Kom., MBA. (Ketua Tim Konten dan Publikasi Pusat Pengembangan Literasi Digital, Kementerian Komdigi RI).
Melalui kolaborasi pembekalan dalam rangkaian Muktamar V ini, diharapkan pengurus media Muslimah Wahdah dapat semakin terampil dan tangguh dalam membangun ekosistem digital bangsa, serta mampu memproduksi konten-konten dakwah yang kredibel dan beretika di pusaran era kecerdasan buatan.(red)









