banner dprd mkassar

Muslimah Wahdah Dorong Perempuan Jadi Penggerak Ketahanan Bangsa di Era Digital

SUARACELEBES.COM, JAKARTA — Ketahanan bangsa tidak hanya dibangun melalui kebijakan negara, tetapi juga melalui kontribusi masyarakat di ruang-ruang kehidupan yang paling dekat dengan keseharian. Perempuan, dengan perannya sebagai ibu, pendidik, daiyah, profesional hingga penggerak sosial, dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan bangsa.

Hal tersebut disampaikan Ketua Muslimah Wahdah Islamiyah Pusat, Ustazah Harisa Tipa Abidin, S.Pd., M.Pd., dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Tokoh Muslimah yang menjadi bagian dari rangkaian Muktamar V Wahdah Islamiyah, Kamis (20/8/2026), di Auditorium Sukarman, lantai 2, Perpustakaan Nasional RI, Jakarta.

Mengangkat tema “Perempuan Berdaya untuk Indonesia Tangguh: Kontribusi Strategis Muslimah untuk Ketahanan Bangsa”, forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan para pimpinan Muslimah Wahdah dari tingkat wilayah dan daerah se-Indonesia bersama sejumlah tokoh perempuan.

Dalam paparannya bertajuk “Peran Strategis Muslimah Wahdah dalam Penguatan Ketahanan Bangsa”, Harisa menegaskan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab penting dalam keberlangsungan bangsa.

Menurutnya, kontribusi perempuan dapat dimulai dari lingkungan terdekat melalui pendidikan generasi, penguatan keluarga, penjagaan moral masyarakat, pelayanan sosial di bidang pendidikan dan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga dakwah dan literasi.

Dari Penguatan Keluarga hingga Ketahanan Digital

Harisa melihat tantangan ketahanan bangsa saat ini semakin kompleks. Ancaman terhadap masyarakat tidak lagi hanya berbentuk ancaman fisik, tetapi juga hadir melalui ruang digital.

Hoaks, fitnah, cyberbullying, pornografi, penipuan digital, ujaran kebencian, radikalisme digital, polarisasi, hingga konten yang berpotensi merusak moral menjadi tantangan baru yang perlu dihadapi bersama.

Dalam kondisi tersebut, perempuan dinilai memiliki posisi penting karena banyak persoalan digital bersinggungan langsung dengan keluarga dan tumbuh kembang generasi.

Karena itu, Harisa mendorong lahirnya gerakan Muslimah Cakap Digital, dengan fokus pada literasi media, budaya digital, keamanan digital keluarga, digital parenting, serta produksi konten positif.

“Muslimah tidak cukup menjadi konsumen informasi, tetapi perlu menjadi produsen narasi kebaikan,” demikian salah satu pesan utama yang ditekankan dalam materinya.

Menurut Harisa, kemampuan perempuan dalam memahami dan mengelola ruang digital dapat menjadi salah satu benteng penting dalam menjaga keluarga sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat.

Ketahanan Moral dan Generasi

Selain ruang digital, penguatan ketahanan bangsa juga membutuhkan fondasi moral dan spiritual. Harisa menempatkan penguatan dakwah dan pendidikan Islam, pembinaan akidah dan akhlak perempuan, pembinaan majelis taklim, serta peningkatan literasi keislaman sebagai bagian dari kontribusi strategis Muslimah Wahdah.

“Ketahanan bangsa membutuhkan ketahanan moral, dan ketahanan moral membutuhkan kekuatan nilai dan spiritualitas masyarakat,” demikian pesan yang ditekankan dalam materi tersebut.

Ia juga menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi yang berkualitas. Menurutnya, generasi penerus perlu dibangun secara utuh, tidak hanya kuat dalam aspek iman dan ilmu, tetapi juga memiliki akhlak, kesehatan fisik dan mental, keterampilan, kemandirian ekonomi, serta kepemimpinan.

Dengan demikian, membangun ketahanan bangsa tidak dapat dipisahkan dari upaya memastikan generasi mendatang tumbuh dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang mampu memberikan bekal nilai sekaligus keterampilan menghadapi perubahan.

Menguatkan Persatuan dan Kemandirian Perempuan

Harisa juga mengajak Muslimah mengambil peran sebagai jembatan komunikasi dan persaudaraan di tengah masyarakat.

Peran tersebut dapat diwujudkan melalui silaturahmi antar-komunitas perempuan, kerja sama antarorganisasi kemasyarakatan, dialog kemasyarakatan, pencegahan konflik sosial, serta penguatan ukhuwah dan gotong royong.

Orientasi gerakan perempuan, menurutnya, perlu diperluas dari sekadar memikirkan kepentingan organisasi menjadi kontribusi yang lebih besar bagi umat, masyarakat, dan bangsa.

Di sisi lain, pemberdayaan sosial dan ekonomi juga menjadi bagian penting dari ketahanan bangsa. Muslimah Wahdah didorong untuk mengembangkan UMKM perempuan, pelatihan keterampilan, kewirausahaan, koperasi dan ekonomi komunitas, pendampingan keluarga dhuafa, ketahanan pangan keluarga, pemberdayaan perempuan kepala keluarga, filantropi, dan berbagai bentuk pelayanan sosial.

Tujuannya bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi mendorong perubahan dari ketergantungan menuju kemandirian, keberdayaan, dan akhirnya kontribusi.

Bagi Harisa, berbagai peran tersebut menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang kontribusi yang luas dalam pembangunan bangsa.

Dari keluarga, pendidikan dan dakwah, pemberdayaan ekonomi, penguatan persatuan, hingga ruang digital, perempuan dapat mengambil bagian dalam menghadirkan solusi atas berbagai tantangan masyarakat.

Karena itu, penguatan peran Muslimah tidak semestinya dipandang sebagai agenda kelompok tertentu semata. Ia merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh, berdaya, berkarakter, dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Melalui Silatnas Tokoh Muslimah, gagasan tersebut kembali ditegaskan: perempuan bukan hanya bagian dari masyarakat yang merasakan dampak perubahan, tetapi juga dapat menjadi penggerak yang ikut menentukan arah perubahan itu sendiri.

PDAM Makassar