banner dprd mkassar

Kekeringan Melanda Wajo, BPBD Salurkan 84 Ribu Liter Air Bersih ke 11 Kecamatan

SUARACELEBES.COM, WAJO — Bencana kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wajo, dampak kekeringan telah meluas ke 11 kecamatan dengan total 61 desa/kelurahan.

Koordinator Pusdalops PB BPBD Kabupaten Wajo, Rismawan, mengatakan kondisi tersebut terjadi akibat berkurangnya ketersediaan air yang dipengaruhi rendahnya curah hujan.

“Berkurangnya ketersediaan air menjadi salah satu penyebab terjadinya kekeringan. Kondisi ini juga dipengaruhi dampak El Nino yang mengakibatkan curah hujan rendah,” kata Rismawan, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, kekeringan yang terjadi telah berlangsung sejak Jumat (21/8/2026) dan masuk dalam kategori menengah hingga panjang.

Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi sumber air.

Tinggi muka air di Sungai Walannae dan sejumlah sungai lainnya dilaporkan berada di bawah kondisi normal.

Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian, khususnya persawahan yang membutuhkan ketersediaan air.

Tersebar di 11 Kecamatan
Rismawan menyebutkan, berdasarkan pendataan Pusdalops PB BPBD Wajo, wilayah yang terdampak kekeringan saat ini tersebar di 11 kecamatan dan 61 desa/kelurahan.

“Data wilayah terdampak terus kami lakukan pemutakhiran sesuai hasil pendataan di lapangan,” ujarnya.

BPBD bersama tim terpadu terus melakukan langkah penanganan melalui pendataan dan pelaporan, pengaktifan posko darurat bencana kekeringan serta pendistribusian air bersih kepada masyarakat terdampak.

84 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan
Sebagai bentuk penanganan, BPBD Kabupaten Wajo telah mendistribusikan 84.000 liter air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.

Jumlah tersebut terdiri atas 17 tangki dengan total 81.000 liter air serta dua tandon sebanyak 3.000 liter.

Rismawan menegaskan, bantuan air bersih tersebut diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat, terutama air minum dan memasak.

“Air yang kami distribusikan khusus untuk konsumsi atau air minum, bukan untuk mandi dan mencuci,” tegas Rismawan.

Distribusi air bersih dilakukan secara bertahap ke sejumlah wilayah yang membutuhkan. BPBD juga terus melakukan koordinasi agar penyaluran dapat menjangkau masyarakat terdampak sesuai hasil pendataan.

Keterbatasan Armada Jadi Kendala
Dalam penanganan kekeringan, BPBD Wajo masih menghadapi kendala berupa keterbatasan armada untuk mendistribusikan air bersih ke sejumlah wilayah.

Selain air bersih, kebutuhan mendesak masyarakat terdampak meliputi tempat penampungan air dan sumber air.

“Kebutuhan mendesak saat ini adalah air bersih, tempat penampungan air bersih dan sumber air. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan armada untuk distribusi,” jelas Rismawan.

BPBD Wajo, kata dia, akan terus melakukan pemantauan kondisi wilayah terdampak serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air untuk konsumsi, tetap terpenuhi.

Sementara itu, hasil pemantauan Bendung Gerak Tempe menunjukkan tinggi muka air (TMA) hulu berada pada 4,1 meter, TMA hilir 2,6 meter, sedangkan kondisi normal berada pada 5,0 meter. Kondisi pintu bendung tercatat tertutup.

Rismawan memastikan penanganan akan terus dilakukan seiring masih berlangsungnya kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Wajo.

“Penanganan terus kami lakukan melalui koordinasi dan pendistribusian air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan,” pungkasnya.

PDAM Makassar