SUARACELEBES.COM, MAKASSAR — Dua riset dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Sastra (FIPS) Universitas Bosowa melangkah ke panggung akademik internasional. Melalui 8th APSMI International Conference 2026, akademisi dan mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional (BMKBP) FIPS Universitas Bosowa mempresentasikan gagasan penelitian yang mengangkat masa depan pembelajaran Bahasa Mandarin dari dua perspektif berbeda: kemampuan beradaptasi dalam komunikasi nyata dan proses kognitif dalam memahami karakter Hanzi.
Forum internasional yang berlangsung di Unhas Hotel and Convention, Makassar, 16 September 2026, tersebut menjadi ruang bagi sivitas akademika FIPS Unibos untuk membawa hasil penelitian ke hadapan akademisi dari berbagai negara. Mengusung tema “Transformation of Humanities in China and Indonesia in the Society 5.0 Era: Language, Literature, Culture, History and Education”, konferensi ini mempertemukan berbagai gagasan mengenai bagaimana ilmu humaniora beradaptasi dengan perubahan sosial, teknologi, dan kebutuhan pembelajaran di era Society 5.0.
Dua tim peneliti FIPS Universitas Bosowa tampil dalam sesi presentasi dengan fokus riset yang berbeda. Annisa Syauqina Kadar, S.Pd., M.Ed. bersama Andreas Pratama Hosana mempresentasikan penelitian berjudul “Interactional Adaptability Beyond Textbook-Based Role-Plays among Beginner Mandarin Learners.” Sementara itu, Winda Ayu Utami Rhamadanty, S.Pd., M.Ed. bersama Jein Indrianti Paundanan membawa penelitian “Why Hanzi Are Difficult to Remember: A Psycholinguistic Study and a Three-Stage Instructional Framework for Indonesian Mandarin Learners.”
MENGUJI BATAS PEMBELAJARAN MANDARIN BERBASIS BUKU TEKS
Penelitian yang dipresentasikan Annisa berangkat dari persoalan yang dekat dengan proses pembelajaran bahasa di ruang kelas. Mahasiswa pemula dapat saja menguasai dialog dan mengikuti skenario komunikasi yang telah disusun dalam pembelajaran, namun kemampuan tersebut belum tentu otomatis membuat mereka siap ketika berhadapan dengan percakapan yang spontan, dinamis, dan tidak terstruktur.
Melalui penelitian “Interactional Adaptability Beyond Textbook-Based Role-Plays among Beginner Mandarin Learners”, Annisa menyoroti pentingnya kemampuan pembelajar untuk beradaptasi ketika pola komunikasi tidak lagi mengikuti skenario yang telah dipersiapkan.
“Mahasiswa sering kali mampu mengikuti skenario percakapan di kelas, tetapi mengalami kesulitan ketika harus berkomunikasi dalam situasi yang tidak terstruktur,” ujar Annisa.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa membutuhkan ruang yang lebih luas daripada sekadar reproduksi dialog. Kemampuan berbahasa pada akhirnya diuji ketika pembelajar harus merespons situasi yang berubah, membaca konteks percakapan, menentukan respons, dan mempertahankan komunikasi meskipun situasi tidak berjalan sesuai dengan skenario.
Temuan tersebut membawa pesan penting bagi pengembangan pedagogi Bahasa Mandarin: kemampuan berkomunikasi bukan hanya tentang mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi juga memahami kapan, bagaimana, dan dengan cara apa sebuah respons harus disesuaikan dengan situasi.
DARI HANZI KE PROSES KOGNITIF PEMBELAJAR
Jika penelitian Annisa melihat kemampuan adaptasi dalam komunikasi, penelitian Winda membawa persoalan pembelajaran Mandarin ke wilayah yang lebih dalam, yakni bagaimana pembelajar memproses dan mengingat karakter Hanzi.
Penelitian “Why Hanzi Are Difficult to Remember: A Psycholinguistic Study and a Three-Stage Instructional Framework for Indonesian Mandarin Learners” mengkaji kesulitan mahasiswa Indonesia dalam mengingat Hanzi dengan menggunakan perspektif psikolinguistik.
Kesulitan mengingat karakter Mandarin tidak dipandang semata-mata sebagai persoalan banyaknya karakter atau kompleksitas bentuk tulisan. Di balik proses tersebut terdapat mekanisme kognitif dan perbedaan sistem bahasa yang turut memengaruhi bagaimana informasi diterima, diproses, disimpan, dan dipanggil kembali oleh pembelajar.
Pendekatan tersebut membuka ruang untuk melihat pembelajaran Hanzi secara lebih komprehensif. Alih-alih menempatkan hafalan sebagai satu-satunya strategi, proses pembelajaran dapat dirancang dengan mempertimbangkan bagaimana memori dan proses kognitif bekerja pada pembelajar Bahasa Mandarin.
“Dengan memahami cara otak memproses karakter Hanzi, kita dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan tidak sekadar berbasis hafalan,” jelas Winda.
Melalui penelitian tersebut, Winda menawarkan three-stage instructional framework yang diarahkan untuk membantu pembelajar Indonesia memahami dan mengingat Hanzi dengan mempertimbangkan proses kognitif yang terjadi selama pembelajaran.
DUA PENELITIAN, DUA PERSPEKTIF, SATU ARAH: PEMBELAJARAN YANG LEBIH ADAPTIF
Dua penelitian yang dibawa FIPS Universitas Bosowa ke APSMI 2026 memperlihatkan bahwa pengembangan pembelajaran Bahasa Mandarin tidak dapat dilepaskan dari karakter pembelajarnya.
Di satu sisi, pembelajar membutuhkan kemampuan untuk menghadapi komunikasi yang nyata dan tidak selalu dapat diprediksi. Di sisi lain, pembelajar juga membutuhkan strategi pembelajaran yang memahami bagaimana bahasa diproses oleh pikiran dan memori.
Pertemuan kedua perspektif tersebut memperlihatkan arah pembelajaran Mandarin yang semakin integratif: tidak hanya mengajarkan bahasa sebagai seperangkat struktur dan kosakata, tetapi juga membangun kemampuan berkomunikasi secara kontekstual sekaligus memahami proses kognitif yang membentuk pengalaman belajar mahasiswa.
Inilah yang membuat kehadiran dua riset FIPS Unibos di forum internasional menjadi lebih dari sekadar partisipasi konferensi. Gagasan yang dibawa tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipelajari mahasiswa, tetapi juga bagaimana mahasiswa belajar dan bagaimana mereka menggunakan bahasa ketika berhadapan dengan dunia komunikasi yang sesungguhnya.
FIPS UNIBOS PERLUAS JEJARING AKADEMIK MELALUI FORUM INTERNASIONAL
Keikutsertaan akademisi dan mahasiswa FIPS Universitas Bosowa dalam 8th APSMI International Conference 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat eksistensi riset Universitas Bosowa dalam kajian pendidikan Bahasa Mandarin.
Forum internasional tersebut memberikan kesempatan bagi sivitas akademika untuk mendiseminasikan hasil penelitian, memperoleh perspektif akademik yang lebih luas, serta membuka kemungkinan pengembangan jejaring dan kolaborasi dengan akademisi dari berbagai institusi.
Khusus bagi FIPS Universitas Bosowa, keterlibatan tersebut memperkuat posisi riset di bidang Chinese Language Pedagogy dan Psycholinguistics, sekaligus memperlihatkan bagaimana penelitian yang lahir dari konteks pembelajar Indonesia dapat dibawa ke ruang diskusi akademik yang lebih luas.
Lebih jauh, keterlibatan mahasiswa bersama dosen dalam forum ilmiah internasional menunjukkan bahwa ekosistem akademik FIPS tidak hanya mendorong mahasiswa menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk terlibat dalam proses produksi, presentasi, dan pertukaran gagasan ilmiah.
Bagi Universitas Bosowa, capaian tersebut menjadi bagian dari penguatan budaya akademik yang menempatkan riset, inovasi pembelajaran, dan jejaring internasional sebagai elemen penting dalam pengembangan kualitas pendidikan.
Dari ruang kelas Bahasa Mandarin di FIPS Unibos, dua gagasan penelitian tersebut kini bergerak ke panggung internasional—membawa satu pesan bahwa pembelajaran bahasa di era Society 5.0 harus terus berkembang mengikuti manusia yang mempelajarinya: lebih adaptif, lebih kontekstual, dan semakin memahami bagaimana manusia belajar.









