SUARACELEBES.COM, JAKARTA — Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, mengungkapkan strategi pemerintah daerah dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sidrap.
Hal itu disampaikan Syaharuddin saat tampil dalam talk show di studio CNBC Indonesia, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Dalam dialog tersebut, Syaharuddin menjelaskan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Sidrap, terutama melalui produksi padi dan telur yang menjadikan daerah itu dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sulawesi Selatan.
Host CNBC Indonesia, Serliana Salsabila, menyoroti kemampuan Sidrap mempertahankan produksi pertanian di tengah musim kemarau yang berkepanjangan.
Syaharuddin mengatakan, aktivitas pertanian di Sidrap tetap berjalan meskipun menghadapi keterbatasan air akibat kondisi cuaca.
“Kami di Sidrap terus panen padi di tengah kemarau. Meskipun ada dampak, itu hanya sekitar 7 persen,” kata Syaharuddin.
Menurut dia, peningkatan produktivitas pertanian tidak terlepas dari penerapan teknologi, penguatan sarana dan prasarana, serta kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan berbagai pihak terkait.
Ia menyebutkan, pola tanam petani di Sidrap yang sebelumnya rata-rata dua kali setahun kini dapat mencapai tiga kali panen dalam setahun di sejumlah lahan.
Produktivitas juga meningkat. Jika sebelumnya hasil panen berada pada kisaran enam ton per hektare, kini sejumlah lahan mampu menghasilkan sembilan hingga sepuluh ton gabah per hektare.
“Sidrap yang tadinya panen dua kali setahun, saat ini sudah tiga kali setahun. Produksi gabah juga meningkat, kini dalam satu hektare bisa menghasilkan tujuh sampai sepuluh ton,” ujarnya.
Pertanian Dorong Ekonomi Tumbuh 7,71 Persen
Syaharuddin menjelaskan, peningkatan produktivitas pertanian berdampak terhadap kesejahteraan petani sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Menurutnya, ketersediaan air dan infrastruktur irigasi yang memadai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan produksi. Kondisi tersebut juga dinilai dapat menarik minat generasi muda untuk kembali menekuni sektor pertanian.
Ia mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sidrap pada 2025 mencapai 7,71 persen. Capaian tersebut, menurut Syaharuddin, didorong oleh peningkatan produktivitas sektor pertanian.
“Kami tidak punya tambang, tetapi pertumbuhan ekonomi bergerak dari sektor pertanian yang digarap dengan meningkatkan produktivitas, meskipun luas lahannya relatif sama,” jelasnya.
Selain peningkatan hasil panen, Syaharuddin menyoroti kenaikan harga gabah yang diterima petani. Ia mencontohkan, harga yang sebelumnya sekitar Rp5.000 per kilogram pada 2024 kini mencapai Rp7.800 per kilogram.
Peningkatan kualitas gabah kering panen, menurut dia, menjadi salah satu upaya untuk menghasilkan beras dengan kualitas lebih baik dan rendemen yang tinggi.
Syaharuddin Alrif kedepan mengembangkan hilirisasi pertanian di daerah. Syaharuddin menilai, aktivitas penggilingan beras tidak hanya memperkuat rantai usaha pertanian, tetapi juga mempercepat perputaran ekonomi di tingkat lokal.
“Jadi dari Pabrik lansung kita packaging, tidak hanya untuk kebutuhan untuk bulog, tapi juga untuk bagi membutuhkan betas dari sidrap,” jelasnya
Sidrap Bidik Energi Baru dan Terbarukan
Selain mempertahankan peran sebagai lumbung beras dan telur, Pemerintah Kabupaten Sidrap juga mendorong pengembangan sektor energi baru dan terbarukan.
Syaharuddin menyebutkan, Sidrap telah memiliki pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan berencana mengembangkan potensi energi terbarukan lainnya.
“Di Sidrap ini sudah ada energi tenaga bayu dan masih mau dikembangkan lagi. Kami juga akan membangun listrik tenaga surya di Danau Sidenreng dan sedang menjajaki pengolahan sampah menjadi energi listrik atau PSEL,” ungkapnya.
Rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tersebut tengah dijajaki bersama calon investor dari Kanada dan Amerika Serikat.
Pemerintah Kabupaten Sidrap juga telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk membahas rencana pengembangan proyek tersebut.
Syaharuddin menjelaskan, proyek PSEL membutuhkan kolaborasi lintas daerah karena volume sampah yang tersedia di Sidrap belum mencukupi kebutuhan fasilitas pengolahan.
Produksi sampah di Sidrap diperkirakan sekitar 200 ton per hari, sedangkan kebutuhan fasilitas yang direncanakan mencapai 300 ton per hari.
Karena itu, pemerintah daerah membuka peluang kerja sama dengan sejumlah kabupaten dan kota di sekitar Sidrap, termasuk Soppeng, Wajo, Enrekang, Pinrang, dan Parepare.
“PSEL ini akan melibatkan kabupaten tetangga karena produksi sampah kami sekitar 200 ton, sementara kebutuhannya 300 ton per hari. Jadi, perlu kolaborasi dengan daerah lain,” katanya.
Syaharuddin menyebutkan, nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun.
Jika terealisasi, proyek itu diharapkan dapat membantu penanganan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi baru dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui penguatan sektor pertanian, hilirisasi hasil pangan, serta pengembangan energi baru dan terbarukan, Pemerintah Kabupaten Sidrap berupaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan.









