banner dprd mkassar

Jadi Narasumber Internasional di India, Akademisi UNIBOS Soroti Humaniora Digital dan Inovasi Metode Penelitian 

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR — Kiprah akademisi Universitas Bosowa (Unibos) kembali menjangkau forum pendidikan internasional. Dosen Pascasarjana Universitas Bosowa, Dr. Andi Hamzah Fansuri, S.Pd., M.Pd., dipercaya menjadi salah satu Distinguished International Resource Persons dalam kegiatan Five-Day International Virtual Faculty Development Programme yang diselenggarakan oleh St. Peter’s Institute of Higher Education and Research, Chennai, India.

Kegiatan bertajuk “English Studies Now: Pedagogy, AI, Literary Innovation and Research” tersebut berlangsung selama lima hari, pada 12–16 Oktober 2026, dengan mengusung tema “Training English Teachers for the Digital Age”. Program ini menjadi wadah pengembangan kapasitas akademisi dan pendidik dalam menghadapi perubahan pembelajaran bahasa Inggris, perkembangan kecerdasan buatan, serta transformasi metodologi penelitian di era digital.

Dr. Andi Hamzah Fansuri hadir sebagai narasumber internasional pada hari kelima, Jumat, 16 Oktober 2026, melalui pertemuan virtual menggunakan platform Google Meet atau Zoom. Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan materi bertajuk “Digital Humanities & Innovative Research Methods”, yang menyoroti perkembangan pendekatan penelitian humaniora melalui pemanfaatan teknologi digital tanpa mengesampingkan peran interpretasi dan pertimbangan kritis manusia.

Kepercayaan yang diberikan kepada akademisi Pascasarjana Universitas Bosowa ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan perguruan tinggi Indonesia dalam pertukaran pengetahuan lintas negara, khususnya pada bidang pendidikan bahasa, kajian sastra, teknologi pembelajaran, dan pengembangan metodologi penelitian.

Program internasional tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dari berbagai institusi pendidikan tinggi. Pada hari pertama, Dr. Pushpanathan Thirunavendham dari Sri Venkateswara University, India, membahas inovasi pedagogi dalam pembelajaran bahasa Inggris. Sesi berikutnya menghadirkan Dr. Gururaja C.S. dari Central University of Kashmir yang mengangkat pemanfaatan kecerdasan buatan dan teknologi digital dalam kajian bahasa dan sastra.

Pada hari ketiga, Prof. Dr. Joji John Panicker dari CMS College, Kottayam, membahas arah baru kajian sastra dan budaya. Sementara itu, Dr. Jaydeep Sarangi dari New Alipore College, Kolkata, mengulas metode penelitian dan penulisan akademik pada hari keempat.

Rangkaian program kemudian ditutup dengan pemaparan Dr. Andi Hamzah Fansuri yang secara khusus membahas keterhubungan antara kajian humaniora, teknologi digital, dan inovasi penelitian yang bertanggung jawab.

Dalam pemaparannya, Dr. Andi Hamzah mengajak peserta memahami bahwa perkembangan teknologi tidak semestinya mengubah penelitian humaniora menjadi aktivitas yang semata-mata bergantung pada perangkat digital. Sebaliknya, teknologi perlu ditempatkan sebagai sarana untuk memperluas kemampuan peneliti dalam membaca, menganalisis, dan menafsirkan berbagai fenomena kebahasaan, kesastraan, serta kebudayaan.

Ia menjelaskan bahwa humaniora digital atau digital humanities bukan sekadar penggunaan perangkat lunak dalam penelitian, melainkan pendekatan yang mempertemukan pertanyaan-pertanyaan humaniora, data dan metode digital, serta interpretasi kritis.

Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mengembangkan kajian terhadap teks, sejarah, bahasa, dan kebudayaan melalui berbagai sumber data dengan tetap mempertahankan konteks sosial serta makna yang terkandung di dalamnya.

Salah satu gagasan utama yang disampaikan adalah pentingnya menempatkan pertanyaan penelitian sebagai dasar dalam menentukan metode dan teknologi yang digunakan. Menurutnya, penggunaan perangkat digital harus memiliki relevansi dengan persoalan ilmiah yang hendak dijawab, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.

Dalam materi presentasinya, Dr. Andi Hamzah menegaskan prinsip tersebut melalui pernyataan, “Digital humanities is an approach, not a software.”

Gagasan ini menempatkan teknologi sebagai instrumen pendukung proses keilmuan, sementara kemampuan manusia dalam memahami konteks, mengevaluasi bukti, dan membangun argumentasi tetap menjadi inti dari penelitian akademik.

Lebih lanjut, ia memperkenalkan pendekatan close reading, distant reading, dan critical reading sebagai tiga perspektif yang dapat saling melengkapi dalam penelitian bahasa dan sastra.

Close reading menekankan pembacaan mendalam terhadap makna, gaya bahasa, dan konteks suatu teks. Sementara itu, distant reading memungkinkan peneliti mengidentifikasi pola, kecenderungan, serta perubahan yang muncul dari kumpulan teks dalam jumlah besar melalui bantuan metode komputasional.

Adapun critical reading memberikan perhatian terhadap relasi kekuasaan, representasi, dan kemungkinan adanya kelompok, bahasa, maupun perspektif yang tidak terwakili dalam data penelitian.

Menurut Dr. Andi Hamzah, ketiga pendekatan tersebut perlu digunakan secara saling melengkapi agar penelitian tidak berhenti pada temuan pola digital, tetapi mampu menghasilkan penjelasan yang memiliki kedalaman makna dan landasan kontekstual.

Dalam pembahasan mengenai inovasi metodologi, ia turut memperkenalkan sejumlah pendekatan penelitian, meliputi text mining, analisis jaringan, analisis spasial, penelitian multimodal, serta analisis berbantuan kecerdasan buatan.

Berbagai pendekatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengkaji perubahan penggunaan bahasa, hubungan antartokoh dalam karya sastra, persebaran narasi budaya, hingga interaksi dalam lingkungan pembelajaran digital.

Meski demikian, Dr. Andi Hamzah mengingatkan bahwa hasil pengolahan data secara komputasional tidak dapat langsung diperlakukan sebagai kesimpulan ilmiah tanpa melalui proses pemeriksaan dan interpretasi yang memadai.

Perhatian khusus juga diberikan pada penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam kegiatan penelitian. Ia menjelaskan bahwa AI dapat membantu peneliti mempercepat sejumlah pekerjaan, seperti eksplorasi pengodean data, pemeriksaan alternatif terjemahan, penyusunan skrip analisis, hingga peringkasan bahan penelitian untuk diverifikasi lebih lanjut.

Namun, pemanfaatan AI tetap memiliki batasan, terutama dalam persoalan validitas temuan, pengambilan keputusan etis, penafsiran konteks, serta penetapan kesimpulan ilmiah.

Dalam materi yang dipaparkan, ia menegaskan bahwa “AI can accelerate research—not validate it.” Prinsip tersebut menekankan bahwa kemampuan teknologi dalam mempercepat proses penelitian tidak secara otomatis menjamin kebenaran hasil yang diperoleh.

Oleh karena itu, peneliti perlu mempertahankan keterlibatan manusia dalam setiap tahapan analisis, termasuk memeriksa kesesuaian keluaran AI dengan sumber asli, mengevaluasi kemungkinan bias, mendokumentasikan proses koreksi, serta menjelaskan penggunaan teknologi secara transparan.

Pembahasan ini juga berkaitan dengan pentingnya etika penelitian di era digital. Dr. Andi Hamzah menyoroti aspek persetujuan penggunaan data, perlindungan privasi, perizinan penggunaan materi, keadilan representasi, keterulangan metode penelitian, serta keterbukaan terhadap penggunaan AI dalam proses akademik.

Ia menilai bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan tanggung jawab ilmiah agar inovasi yang dikembangkan tidak mengabaikan hak individu, keberagaman bahasa, maupun kepentingan masyarakat yang menjadi bagian dari penelitian.

Selain membahas pendekatan metodologis, Dr. Andi Hamzah juga menguraikan contoh rancangan penelitian mengenai peran aktif peserta didik dalam materi pembelajaran bahasa Inggris berbasis digital.

Melalui contoh tersebut, peserta diperkenalkan pada cara mengembangkan pertanyaan penelitian, menentukan sumber data, menyusun indikator analisis, memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, serta melakukan triangulasi sebelum menarik kesimpulan.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa inovasi penelitian tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh ketepatan rancangan, kualitas data, dan kemampuan peneliti menjelaskan kontribusi ilmiah dari hasil kajiannya.

Pada bagian lain, ia mengangkat pentingnya memperhatikan konteks kebahasaan dan budaya dalam pengembangan humaniora digital. Menurutnya, penggunaan data yang didominasi bahasa tertentu berpotensi mengabaikan keberagaman bahasa serta pengalaman masyarakat yang belum terwakili secara memadai dalam ekosistem digital.

Persoalan tersebut menjadi relevan bagi negara-negara dengan kekayaan bahasa dan budaya seperti Indonesia dan India. Pengembangan penelitian digital perlu mempertimbangkan pengetahuan lokal, akses terhadap sumber data, serta keterlibatan masyarakat agar hasil kajian tidak hanya merepresentasikan kelompok yang memiliki akses teknologi lebih besar.

Dalam konteks kerja sama internasional, Dr. Andi Hamzah turut memperkenalkan gagasan pengembangan jejaring humaniora digital antara Indonesia dan India melalui pendekatan penelitian lintas budaya.

Gagasan tersebut diarahkan pada kemungkinan pengembangan kajian komparatif terhadap narasi sastra, identitas budaya, dan pengalaman masyarakat dengan menggabungkan analisis digital serta pembacaan kontekstual.

Ia memaparkan rancangan awal yang dapat dikembangkan secara bertahap, mulai dari penyelarasan pertanyaan penelitian dan prinsip etika, penyusunan kumpulan data bersama, hingga peluang penulisan ilmiah kolaboratif dan pertukaran sumber daya akademik.

Meski masih berada pada tahap gagasan untuk didiskusikan lebih lanjut, pendekatan tersebut memperlihatkan peluang kerja sama akademik yang dapat dibangun melalui kesamaan perhatian terhadap pengembangan penelitian yang inklusif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kontribusi pengetahuan.

Kegiatan Five-Day International Virtual Faculty Development Programme ini berada di bawah koordinasi panitia penyelenggara St. Peter’s Institute of Higher Education and Research, dengan Dr. S. Umamaheswari selaku profesor dan kepala Departemen Bahasa Inggris sebagai convener, serta Dr. S. Ravibalan dari Departemen Bahasa Inggris sebagai koordinator bidang sastra.

Program tersebut dirancang untuk memperluas pemahaman peserta mengenai pembelajaran bahasa Inggris yang inovatif dan berpusat pada peserta didik, pemanfaatan AI serta teknologi digital dalam kajian sastra, perkembangan studi budaya kontemporer dan ekokritik, hingga penguatan etika penelitian, penulisan akademik, dan humaniora digital.

Bagi Universitas Bosowa, keterlibatan Dr. Andi Hamzah Fansuri sebagai narasumber internasional menjadi bagian dari kontribusi akademisi dalam memperluas diseminasi pengetahuan sekaligus memperkuat keterhubungan dengan komunitas akademik global.

Partisipasi tersebut juga mencerminkan pentingnya pengembangan kompetensi dosen yang mampu merespons perubahan teknologi melalui pendekatan keilmuan yang kritis, inovatif, dan tetap berpijak pada prinsip tanggung jawab akademik.

Kehadiran akademisi Pascasarjana Universitas Bosowa dalam forum pendidikan internasional ini sejalan dengan upaya penguatan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pendidikan, penelitian, serta pengembangan jejaring kerja sama akademik lintas negara.

Melalui pertukaran gagasan dengan para pendidik dan peneliti dari berbagai institusi, forum tersebut menjadi ruang untuk memperluas perspektif sekaligus membuka kemungkinan pengembangan kajian bersama dalam bidang pendidikan bahasa dan humaniora digital.

Pada akhir pemaparannya, Dr. Andi Hamzah menggarisbawahi pentingnya mempertahankan kemampuan berpikir kritis manusia di tengah perkembangan perangkat digital yang semakin kompleks.

Ia menutup materi dengan refleksi, “Digital tools can expand what we see. Human judgment must deepen what we understand.”

Pesan tersebut menegaskan bahwa teknologi dapat memperluas jangkauan pengetahuan, tetapi kedalaman pemahaman tetap bergantung pada kemampuan manusia dalam menafsirkan, mempertanyakan, dan mempertanggungjawabkan hasil penelitian.

Melalui kontribusinya dalam forum internasional yang diselenggarakan di India, Dr. Andi Hamzah Fansuri turut membawa perspektif akademik Universitas Bosowa ke dalam percakapan global mengenai masa depan pendidikan bahasa, humaniora digital, dan inovasi penelitian.

Dari Makassar menuju ruang pertukaran pengetahuan internasional, keterlibatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan tinggi yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk cara teknologi tersebut digunakan secara kritis, etis, dan bermakna bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

PDAM Makassar