SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Suka mengkritik seseorang, tidak mengakui ketidaktahuan, berbicara dengan bahasa yang penuh kebencian. Merupakan ciri orang yang sok pintar, bisa jadi orang yang anggap pintar dirinya ternyata orang yang bodoh dan orang yang anda anggap bodoh ternyata orang yang pintar. Begitu kata orang orang bijak dalam kalimat ‘mutiaranya’.
Seminggu terakhir ini, saya membaca opini dilontarkan oleh seseorang di media sosial yang menurut saya sudah mengandung unsur kebencian dan pada bagian bagian tertentu dalam tulisan tersebut terdapat unsur fitnah dan pencemaran nama baik Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah.
Salah satu contoh, pencopotan salah seorang pejabat Pemprov Jumras yang menurut sipenulis beropini, diakibatkan oleh karena yang bersangkutan Jumras tidak menuruti keinginan Gubernur NA, padahal faktanya Jumras memang sedang ada masalah dengan beberapa pengusaha konstruksi.”Sampai saat ini, Jumras belum menyelesaikan komitmen dengan saya dan relasi usaha, padahal kami sudah menyelesaikan ‘awal’ yang sudah menjadi rahasia umum jika mengurus kegiatan di pusat,” begitu penegasan salah seorang pengusaha di Sulsel terkait Jumras. Pernyataan dari salah seorang pengusaha kepada saya adalah salah satu bukti bahwa Gubernur sudah tepat mencobot Jumras dari jabatannya,,sekaligus tuduhan yang dilontarkan kepada Gubernur Sulsel Prof NA terbantahkan, bahwa Jumras dicopot karena tidak mengikuti apa keinginan dari pimpinannya.
Tentang apa tujuan dan motivasi dari tulisan tersebut, hanya penulis dan Allah yang Maha Mengetahui segala yang terkandung dalam hati dan tersembunyi. Namun ada baiknya, jika berbicara apalagi menuduh tanpa ada fakta fakta, sebaiknya dihindari, selain karena ‘mengotori’ kesucian Bulan Ramadhan, juga mengotori akal pikiran, jiwa dan dapat berdampak pada persoalan hukum. Jika faktornya hanya karena ingin melakukan pendekatan ataupun ada keinginan keinginan tertentu, alangkah indahnya jika dibalut dengan sebuah silaturahmi persaudaraan, bukan justru menebar virus virus kebencian, bahkan menjurus ke fitnah. Berhentilah menebar fitnah dan kebencian!!!.
Tentang kemampuan memimpin Sulsel dan Kisruh SK Wakil Gubernur….
Terpilihnya pasangan Prof Andalan (Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Suleman) pada Pilgub 2018 lalu, bukti bahwa rakyat Sulsel yakin dan percaya bahwa pasangan Prof Andalan mampu memimpin Sulsel dan membawa masyarakatnya kearah yang lebih baik dan maju, dan terlalu sangat prematur jika kepemimpinan Prof Andalan hanya diukur dalam waktu kurang dari setahun lalu dianggap tidak memiliki prestasi dan bahkan dianggap gagal. Sipenulis beropini itu juga dan menjustifikasi bahwa kepemimpinan di Sulsel dibawah Prof Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Suleman, akan diambang perpecahan dan disharmonisasi terkait dengan SK Wakil Gubernur, dengan hanya mengutip pendapat dari berbagai narasumber di mass media, bukan analisa dan tolok ukur akademik dari sipenulis beropini.
Kesalahan dan kekeliruan bisa saja terjadi dalam sebuah pemerintahan. Namun bukan berarti persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh kedua pemimpin. Boleh jadi mereka sudah sepakat dan tidak terjadi masalah lagi, namun sipenulis beropini seolah olah sudah terjadi tsunami diantara mereka. Sebuah kesalahan dan kekeliruan tidak boleh dilakukan sebuah bentuk pembenaran karena akan terseret dalam persoalan melakukan sebuah pembiaran atas sebuah kekeliruan dan kesalahan. Olehnya itu, berhentilah menebar virus fitnah dan kebencian dan seolah olah lebih mengetahui apa yang terkandung dalam pikiran orang tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya jalan penyelesaian dari setiap masalah. Jangan tersesat dijalan yang salah!!!!.(*)



