banner dprd mkassar

Mereka Hidupkan Shakespeare dan Homerus, Culliq Pujie di Indonesia ?

#NarasiAno

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Bayangkan dunia tanpa William Shakespeare atau Homerus. Bagaimana Inggris dan Italia menjaga nama mereka seperti menjaga jantung negaranya.

Tapi di Indonesia, kita punya Colliq Pujie perempuan asal Barru yang melahirkan mahakarya lebih panjang dari Romeo & Juliet atau Mahabharata, tetapi namanya masih sering luput dari buku sejarah nasional. Tak seperti peradaban di luar negeri yang menjaga para penulisnya.

Tetapi, pembaca #NarasiAno yang baik, yang ingin saya rangkai dalam edisi _Narasi Kemerdekaan_ ini adalah tentang “proyek gila” yang dilakukan Colliq Pujie pada abad ke-19.

Ia merangkai cerita rakyat, memburu potongan-potongan cerita, menghabiskan dua dekade, lalu menyatukan ribuan fragmen cerita yang acak-acakan menjadi satu alur kronologis yang runtut.

Bayangkan saat itu: 20 tahun tanpa laptop untuk merangkum satu cerita panjang.

Ah, bagaimana prosesnya itu, guysss?
Saya tak bisa membayangkan kekuatan apa yang menggerakkan pikiran Colliq Pujie hingga mau dan mampu merangkai ribuan fragmen cerita acak menjadi satu mahakarya setebal 2.851 halaman.

Menghabiskan 20 tahun hidupnya demi proyek yang melelahkan ini?
Lalu, dari mana ia mendapatkan bahan awal cerita raksasa ini?
Ratu Barru ini memburu cerita dari para Passure’—pembaca puisi epik tradisional dan para tetua adat di pelosok kampung. Dari serpihan ingatan lisan dan lembaran daun lontar yang robek itulah, jemari jelantiknya merajut kembali kisah I La Galigo.

Menggunakan komposisi bahasa sastra Bugis kuno (basa toriolo) yang ia rakit dengan ritme puitis lima suku kata (pasang), sebuah standar kecerdasan linguistik yang bahkan bikin orientalis Eropa geleng-geleng kepala.

Semua itu ditulis tangan, huruf demi huruf Lontara, selama 20 tahun.

Haiiii Kementerian Kebudayaan.
Buku yang hari ini tersimpan di Universitas Leiden, Belanda, dan diakui UNESCO bukan cuma simbol budaya. Itu adalah monumen ketahanan fisik, fokus, dan dedikasi seorang ibu, ratu, sekaligus intelektual perempuan dari Barru yang menolak membiarkan salah satu identitas bangsanya punah.

Barat bangga dengan metodologi riset mereka. Padahal, pada abad ke-19 di Sulawesi Selatan, Colliq Pujie sudah melakukan kerja kurasi, filologi, dan rekonstruksi teks yang sangat modern untuk menyelamatkan ingatan kolektif peradaban Bugis.

Tentu sangat miris ketika dunia, melalui UNESCO, sudah menetapkan manuskrip hasil kerja kerasnya sebagai Memory of the World, tetapi di dalam negeri, apresiasi terhadap Colliq Pujie masih terasa lokal.

*Bandingkan dengan cara Inggris dan Italia menjaga penulis besar mereka.*

Di Inggris, Shakespeare diperlakukan seperti “produk nasional dan industri budaya”.

Stratford-upon-Avon dijaga sebagai “kota Shakespeare”. Rumah kelahirannya, makam di Holy Trinity Church, dan teater Royal Shakespeare Company dilestarikan. Wisatawan datang untuk melakukan semacam “ziarah sastra”.

Selain itu, ada Royal Shakespeare Company, Shakespeare Birthplace Trust, dan Shakespeare’s Globe Theatre di London yang bertugas mementaskan naskah, melakukan riset, dan menjalankan pendidikan.

Dalam dunia sekolah, Shakespeare menjadi bagian penting pendidikan. Bahasanya menjadi bagian dari bahasa Inggris. Kata-kata baru ciptaannya bahkan disebut mencapai sekitar 1.700 kata dan masuk dalam perkembangan bahasa Inggris.

“Shakespeare” juga dipakai sebagai diplomasi budaya. British Council, BBC, hingga berbagai institusi kebudayaan membawa namanya ke dunia.

_Nama Shakespeare menjadi wajah Inggris_

Adaptasi film, drama, merchandise, hingga tur sastra terus berjalan. Shakespeare bukan hanya nama dalam buku sejarah, tetapi juga aset ekonomi dan kebudayaan.

Di Italia, mereka menjaga warisan Homerus (Omero) dengan mengintegrasikan karya epiknya secara mendalam ke dalam sistem pendidikan nasional, di mana siswa sekolah menengah klasik (Liceo Classico) wajib mempelajari teks asli Iliad dan Odyssey dalam bahasa Yunani Kuno. Nama sang penyair juga diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, nama institusi pendidikan, hingga museum nasional khusus tunanetra bernama Museo Tattile Statale Omero di Ancona sebagai penghormatan atas sosoknya yang secara historis dikenal buta. Melalui tradisi penerbitan akademis yang rutin memperbarui anotasi kritis teks-teks klasiknya, Italia memastikan nilai-nilai sastra Homerus tetap hidup sebagai pilar peradaban modern mereka.

Italia menjual “keindahan dan humanisme” melalui nama penulisnya.

Lalu bagaimana dengan kita?

Bagaimana jika dalam narasi ini kita usulkan sebuah road map kepada negara: “cara mengagungkan Colliq Pujie” ala Inggris dan Italia.

Ciptakan “ziarah sastra” seperti Stratford dan Ravenna. Lakukan revitalisasi kompleks makam dan rumah Colliq Pujie menjadi Colliq Pujie Heritage House. Ada perpustakaan Lontara dan ruang baca.

Bangun Museum Colliq Pujie. Ini sudah dibuat oleh Pemda Barru. Isinya naskah Lontara, alat tulis, rekaman Elong. Mirip Shakespeare Birthplace Trust.

Selanjutnya, penanda kota.
Jalan, sekolah, jembatan memakai nama Colliq Pujie. Biar setiap hari namanya disebut orang.

Selanjutnya, ciptakan Colliq Pujie Institute.
Semacam badan otonom di bawah Pemprov yang bertugas melakukan riset naskah, transliterasi Lontara, pelatihan guru, serta bekerja sama dengan Unhas, UGM, dan BRIN.

Pemerintah pusat juga bisa membangun Royal Bugis Theatre, entah di Barru, Parepare, atau Makassar. Di mana nantinya komunitas teater khusus mementaskan cerita Colliq Pujie setiap bulan. Menggunakan bahasa Bugis dengan subtitle Indonesia dan Inggris.

Masukkan pula ke dalam Kurikulum Muatan Lokal Wajib.
Karya-karya Colliq Pujie serta nilai-nilai La Galigo, termasuk tentang kepemimpinan perempuan, masuk SD hingga SMA di Sulsel. Ada lomba baca naskah la galigo tingkat provinsi.

Tetapkan Hari Colliq Pujie setiap 12 Februari, tanggal wafatnya. Ada upacara, baca puisi, seminar. Kerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya dan Sastra Unhas.

Jadikan Colliq Pujie sebagai tokoh diplomasi budaya dan wajah Sulsel di event internasional, mungkin dengan tema: “Perempuan, Sastra, dan Perdamaian.”

Kabupaten Barru tidak boleh hanya dilihat sebagai titik geografis di Sulawesi Selatan.
Barru adalah rahim tempat lahirnya penyelamat epos terpanjang di bumi. Jadikan Barru tempat konferensi sastra internasional tahunan untuk menyaingi festival-festival sastra Barat.

Sebab negara besar tentu tidak “membiarkan” penulis hebatnya mati.
Dan mungkin, sudah waktunya Colliq Pujie tidak hanya dikenang sebagai nama dalam naskah tua, tetapi sebagai nama yang hidup dalam ingatan Indonesia.

#EdisiKemerdekaan
_Cafe Delyth, Jusuf Dg Ngawing_
Rabu, 12 Agustus 2026
#NarasiAno

PDAM Makassar