Tokoh KAHMI Bereaksi Atas HMI Tiada

PDAM Makassar

SUARACELEBES.COM. GORONTALO. Mustari Mustafa bereaksi atas tulisan M. Qasim Mathar tentang HMI sudah tiada. Menyoal tulisan M. Qasim Mathar yang menganggap HMI sudah tiada, dalam ulasan tersebut menilai bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) disusupi anasir Radikalisme Islam, sejak saat itu menganggap HMI sudah tiada. Lalu sesudahnya, apa yang disebut sebagai HMI hanya rangkaian cerita perpecahan (kutipan tulisan jendela langit M Qasim Mathar). Sabtu (14/8/2021).

Menanggapi tulisan tersebut saat awak media suaracelebes.com menghubungi Mustari Mustafa yang merupakan Guru Besar Filsafat Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin, juga Mantan Ketua HMI Cabang Ujungpandang dan Pengurus KAHMI Kota Makassar serta Anggota Majlis Pakar Kahmi Nasional.

Kalau dilihat dari sisi empiris (satu dr aliran sarana kebenaran yg bang Qasim pasti pahami), prilaku dan cara (ber HMI) kader HMI sebagaimana yg dimaksud oleh bang Qasim itu dapat saja disebut sebagai pola baru atau respon baru sebagai persiapan menuju bentuk-bentuk kesejatian HMI yg sebenarnya dan pasti akan berbeda dengan (berHMI) sebelumnya. Ini adalah HMI di ruang dan waktu yang berbeda, kesejatian HMI akan muncul melalui pengalaman-pengalaman baru sesuai dengan realitas yg berkembang.

Mustari Mustafa berpendapat bhw “HMI sudah Tiada” atau “Ketiadaan HMI” di saat ini hanyalah merupakan persiapan menuju “Adanya” HMI yang baru, HMI yang sepanjang berdasarkan pada tujuan “Terbinanya insan akademis pencipta pengabdi yang bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah swt” maka HMI Tetap Ada. HMI Ada dalam Ada (konsep sejarah dan tujuan) bukan Tiada karena banyak ngkrong di warkop. Tambahnya.

Ia pun menilai pemikiran Prof Qasim yang merupakan tokoh senior yang disegani di HMI dan KAHMI ? Korps Alumni HMI) merupakan ujian bagi seluruh keluarga besar HMI KAHMI, ujian berdialektika, terutama ujian untuk memperkuat karakter anak HMI yang dikenal cerdas dan progresive sejauh ini. Di sisi lain saya risau juga dengan pandangan Prof. Qasim yang berpotensi akan membuat “frustrasi” anak HMI dan mungkin senior-senior tertentu di KAHMI dan bisa jadi akan digelindingkan menjadi pemikiran deeksistensi dan dekontribusi HMI yang sudah diakui oleh sejarah kebangsaan dan keislaman di Indonesia bahkan pengaruhnya sudah melintas hingga kawasan tertentu di luar Indonesia, misalnya Malaysia. (Rama)

Pemkot Makassar SC
Pangkep SC