SUARACELEBES.COM, MAKASSAR — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar membakar semangat sekitar 6000 mahasiswa Universitas Andalas (Unand) untuk berani meraih prestasi, bermimpi besar, dan mempersiapkan diri menjadi generasi Indonesia yang mampu bersaing di tingkat dunia.
Pesan tersebut disampaikan Taruna Ikrar dalam kegiatan yang digagas Garuda TV di Auditorium Universitas Andalas, Padang, Selasa (15/9/2026). Kegiatan ini turut dihadiri Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono, Wali Kota Padang H. Fadly Amran, B.B.A., Rektor Universitas Andalas Dr. Efa Yonnedi, S.E., M.PP.M., Akt., CA, CRGP., serta Direktur Utama Garuda TV Fahmi Muhamad Anwari.
Dari jajaran BPOM, hadir Sekretaris Utama BPOM Irjen. Pol. Dr. Jayadi, S.I.K., M.H.; Deputi Bidang Penindakan BPOM Irjen. Pol. Tubagus Ade Hidayat, S.I.K.; Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik apt. Mohamad Kashuri, S.Si., M.Farm.; Direktur Penyidikan Obat dan Makanan BPOM RI Brigjen. Pol. Partomo Iriananto; serta Staf Khusus Kepala BPOM dr. Wachyudi Muchsin, S.Ked., S.H., M.Kes., C.Med. Turut hadir seluruh civitas akademika dan ribuan mahasiswa Universitas Andalas.
Di hadapan 6000 mahasiswa, Taruna menyampaikan pesan bahwa generasi muda Indonesia tidak boleh membatasi cita-citanya hanya untuk menjadi yang terbaik di tingkat nasional.
“Raih prestasi setinggi-tingginya. Jangan hanya berpikir bagaimana menaklukkan Indonesia, tetapi siapkan diri untuk menaklukkan dunia dengan utamakan adab baru ilmu maka Indonesia punya kamu. Masa depan bangsa ini ada di tangan generasi muda,” ujar Taruna Ikrar.
Menurut Taruna, perubahan dunia berlangsung semakin cepat. Perkembangan kecerdasan buatan, bioteknologi, kesehatan, ekonomi digital, dan transformasi industri membuat mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penonton. Generasi muda Indonesia harus tampil sebagai pencipta inovasi, pengusaha, ilmuwan, profesional, dan pemimpin yang memiliki daya saing global.
Dalam kesempatan tersebut, Taruna juga berbicara mengenai neuroscience leadership, pendekatan kepemimpinan yang memanfaatkan pemahaman mengenai cara kerja otak dalam mengambil keputusan, mengelola emosi, menghadapi tekanan, membangun empati, dan menggerakkan orang lain.
“Kepemimpinan dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri. Otak kita memiliki kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Latih cara berpikir, kendalikan emosi, bangun empati, dan biasakan mengambil keputusan secara rasional. Itulah salah satu fondasi neuroscience leadership,” kata Taruna.
Ia menyinggung neuroplasticity, kemampuan sistem saraf untuk berubah dan beradaptasi melalui pengalaman dan pembelajaran. Bagi mahasiswa, konsep tersebut membawa pesan bahwa kapasitas seseorang dapat terus dikembangkan melalui proses belajar, disiplin, pengalaman, dan keberanian menghadapi tantangan.
“Jangan takut gagal. Setiap pengalaman adalah proses pembelajaran. Yang berbahaya bagi generasi muda justru ketika berhenti belajar, berhenti mencoba, dan berhenti mempunyai mimpi besar,” ujarnya.
Taruna kemudian menekankan bahwa kualitas individu saja tidak cukup untuk membawa Indonesia menjadi kekuatan dunia. Dibutuhkan ekosistem yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan industri dan kebijakan. Karena itu, ia mendorong implementasi konsep ABG—Academia, Business, dan Government.
Dalam konsep tersebut, Academia berperan melahirkan ilmu pengetahuan, penelitian, inovasi, dan sumber daya manusia unggul. Business membawa hasil inovasi menuju proses produksi, investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pasar. Sementara Government menghadirkan regulasi dan ekosistem yang mendorong inovasi sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat.
“Kampus jangan berhenti menghasilkan jurnal dan penelitian. Pengetahuan harus turun menjadi inovasi, inovasi menjadi produk, dan produk harus memberikan manfaat sekaligus nilai ekonomi kepada masyarakat. Academia, Business, dan Government harus bertemu. Kalau tiga kekuatan ini bergerak bersama, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi menjadi produsen inovasi dunia,” tegas Taruna.
Taruna secara khusus mengangkat UMKM rendang Sumatera Barat sebagai salah satu contoh konkret bagaimana konsep ABG dapat dihilirisasi. Kekayaan kuliner Minangkabau yang telah dikenal luas, menurutnya, harus didorong semakin naik kelas melalui riset, inovasi teknologi pangan, standardisasi, peningkatan kapasitas produksi, penguatan merek dan kemasan, serta akses pasar yang lebih luas.
“Rendang jangan hanya menjadi kebanggaan Sumatera Barat dan Indonesia. Kita harus mendorong UMKM rendang naik kelas dan mengglobal. Kampus membantu melalui riset dan inovasi, dunia usaha memperkuat produksi dan akses pasar, sementara pemerintah membangun ekosistem dan regulasi yang mendukung. Inilah hilirisasi nyata konsep ABG,” ujar Taruna.
Sebagai Kepala BPOM, Taruna menilai keamanan, mutu, konsistensi produk, penerapan cara produksi pangan olahan yang baik, serta pemenuhan ketentuan regulasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing UMKM. Pendampingan terhadap UMKM, menurutnya, harus diarahkan bukan sekadar untuk memenuhi persyaratan administratif, tetapi agar produk Indonesia mempunyai kualitas dan kepercayaan yang diperlukan untuk memasuki pasar yang semakin luas.
“Kita ingin UMKM naik kelas. Jangan hanya menjual rendang sebagai makanan. Kita harus menjual kualitas, identitas, inovasi, dan kepercayaan. Kalau kualitas dan standardisasinya kuat, produk lokal Indonesia mempunyai peluang semakin besar untuk mengglobal,” katanya.
Taruna melihat Universitas Andalas mempunyai posisi strategis dalam agenda tersebut. Riset kampus dapat diarahkan antara lain pada teknologi pengolahan, keamanan pangan, peningkatan daya simpan, inovasi kemasan, digitalisasi pemasaran, hingga pengembangan model bisnis yang membantu UMKM tumbuh secara berkelanjutan.
Kehadiran Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono dalam kegiatan tersebut juga memperkuat relevansi pesan mengenai hilirisasi inovasi dan pemberdayaan UMKM. Kolaborasi perguruan tinggi, pelaku usaha, pemerintah pusat dan daerah dinilai dapat menjadi mesin untuk membawa produk unggulan daerah memasuki rantai nilai nasional hingga global.
Di akhir pesannya, Taruna kembali mengajak sekitar 2.500 mahasiswa Unand untuk memperluas jejaring internasional, menguasai teknologi dan bahasa asing, aktif dalam penelitian, membangun jiwa kewirausahaan, serta berani menghasilkan inovasi. Kompetisi masa depan, menurutnya, merupakan kompetisi talenta, ilmu pengetahuan, teknologi, kreativitas, karakter, dan inovasi.
“Jangan merasa cukup hanya karena menjadi yang terbaik di kampus atau di Indonesia. Ukur kemampuan dengan standar dunia. Indonesia Emas tidak akan lahir hanya dari slogan. Ia harus diwujudkan melalui kerja keras, disiplin, integritas, ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan prestasi anak-anak mudanya. Bermimpilah besar, raih prestasi, taklukkan dunia. Indonesia punya kamu,” pungkas Taruna Ikrar.









