Tiga Titik Ini di Keera Mendesak Disentuh APBD/APBN

SUARACELEBES.COM, WAJO – Jembatan berbahan kayu Pattirolokka-Langkenna yang terletak di perbatasan alami sungai Pattirolokka (Desa Pattirolokka, Kecamatan Keera, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan) sebagai pembatas antardusun Pattirolokka-Langkenna beranjak menua. Jembatan ini tempo-tempo tenggelam jika banjir menerpa dan menerjang.

Menurut pantauan media ini, kombinasi kayu dan besi ini masih mampu menopang jembatan untuk sementara, hingga kendaraan minibus masih bisa menyeberang. Tapi bila musim penghujan tiba, jembatan menjadi licin dan rawan ban selip. Tiadanya pembatas atau pagar jembatan pada kiri-kanan jembatan juga sangat berbahaya bagi pelintas.

Bagi kendaraan yang lebih berat, berhas dua, berhas tiga dan berhas empat haruslah memutar melewati Bototella ke arah Langkenna dengan jarak tempuh yang lebih jauh dan waktu tempuh yang lebih lama. Jalan penghubung antardusun pun (seorang kawan menyebutnya sebagai Jalan Trans Pattirolokka) akan banyak berkubang bila curah hujan tinggi. Motor terperangkap lumpur kadang terjadi, apatah lagi kendaraan minibus atau kendaraan niaga lainnya. Jika musim kemarau, tentulah tak bermasalah.

Terlalu sulit jika anggaran desa yang harus digunakan untuk membenahi jembatan dan jalan vital ini. Dari berbagai perbincangan dengan dengan tokoh-tokoh pemberdayaan dan juru-juru gambar bangunan, diperkirakan biaya yang harus dianggarkan untuk jembatan ini berkisar 700- an juta hingga semilyar rupiah dengan panjang kurang lebih 12 meter dan lebar jembatan yang mampu memberi laluan kepada dua kendaraan untuk berpapasan.

Desa Pattirolokka pernah mencoba menganggarkan dengan Dana Desa sebelum wabah koronavirus merebak. Namun penganggaran urung akibat pelbagai pertimbangan. Mulai dari sumberdaya kader teknik desa yang kurang hingga medan sungai yang berat dengan harus meninggikan rancangan jembatan demi menghindari jembatan tenggelam saat banjir rob atau pasang tiba, atau pun banjir dengan curah hujan tinggi.

Jembatan dan jalan ini menjadi jalur produksi pertanian sejak lama dan bila ini tidak diganti dengan jembatan yang lebih kuat, kekhawatiran putusnya akses antardusun dengan kekuatan jembatan yang semakin melemah bisa saja terjadi.

Dusun Langkenna di Desa Pattirolokka menjadi sangat memerlukan jalan-jalan yang memadai dengan hadirnya Sumur Gas dan Tempat Pengolahan Gas (berupa LNG atau Liquid Natural Gas, Gas Alam Cair).

Sementara itu jalan penghubung Ballere-Ciromani (Kampobbaru-Benau) atau antara Lingkungan Ballere dengan Dusun Bontomare juga berharap banyak pada APBD Kabupaten atau pun Provinsi bila juknis memungkinkan atau bahkan APBN.

Jalan ini juga merupakan jalan produksi pertanian dan pangan. Terlalu berat bila Dana Kelurahan yang minim atau anggaran desa untuk mendanainya.(*)

PEMKOT-Makassar