SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Politisi nasional Tamsil Linrung memaknai hari Kemerdekaan RI ke 73 dengan tiga hal. Mensyukuri jasa pendiri bangsa, mewujudkan amanat Undang-undang Dasar (UUD) 1945, Mandiri secara ekonomi, politik dan budaya.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI ini mengatakan, kemerdekaan adalah anugrah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada bangsa ini. Melalui perjuangan para pahlawan dan pendiri bangsa. Karena itu, kita harus mensyukurinya.
“Kemerdekaan adalah karunia yang harus dijaga. Kita bisa menjadi bangsa maju, damai, dan harmonis, karena buah manis dari kemerdekaan. Menjadi bangsa yang baldatun, thoyyibatun, wa robbun ghafur (negeri yang baik dengan Robb yang maha pengampun),” ungkapnya.
Memaknai kemerdekaan yang kedua, lanjut Tamsil adalah, mewujudkan amanat UUD 1945. Karena itu adalah cita-cita dan tujuan berdirinya bangsa ini.
Apa amanat undang-undang yang harus kita realisasikan? Sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD yaitu mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
“Kemerdekaan tidak hanya bebas dari penjajahan fisik, tapi bebas dari penjajahan mental dan pikiran, bebas dari kemiskinan dan kebodohan,” ujar calon senator DPD RI ini.
Karena itu, dia mengambil peran dalam mengentaskan kemiskinan dan kebodohan dengan fokus pada pendidikan.
“Saya mendirikan beberapa sekolah dan pesantren bertaraf internasional (ICM Serpong dan Bogor) guna mendidik generasi bangsa agar mandiri secara ekonomi, cerdas, dan berwawasan global,” bebernya.
Hal ini sejalan dengan poin ke tiga, yakni mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik dan budaya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari). Seperti pernyataan bapak pendiri bangsa Ir Soekarno dalam pidatonya 17 Agustus 1965 yang berjudul ‘Tahun Berdikari’.
“Maksud berdikari adalah kita harus berdaulat secara ekonomi, politik, dan budaya. Dalam menentukan nasibnya tidak bergantung pada bangsa lain. Karena tidak ada yang memikirkan nasib suatu bangsa, selain bangsa itu sendiri,” pungkasnya.(*)









