SUARACELEBES.COM, MAKASSAR — Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak lagi sekadar tentang mahasiswa datang ke desa, menyusun program kerja, lalu menyelesaikan kegiatan dalam waktu yang telah ditentukan. Lebih dari itu, mahasiswa dituntut mampu membaca persoalan yang dihadapi masyarakat, memahami kondisi lapangan, dan menjadi bagian dari proses lahirnya solusi yang dapat terus dimanfaatkan setelah masa pengabdian berakhir.
Pendekatan tersebut menjadi perhatian utama dalam kegiatan Pembekalan dan Pelepasan Mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Angkatan ke-61 Semester Ganjil Tahun Ajaran 2026/2027 Universitas Bosowa (Unibos), yang diselenggarakan pada Sabtu (17/10/2026), di Aula Fakultas Teknik Lantai 5, Gedung 2 Universitas Bosowa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa dipersiapkan untuk menjalankan pengabdian masyarakat yang berfokus pada kebutuhan infrastruktur dasar, khususnya penyediaan air minum dan sanitasi di wilayah penempatan.
Pembekalan tersebut menjadi bagian penting sebelum mahasiswa turun langsung ke desa, mengingat pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur membutuhkan pemahaman mengenai kondisi masyarakat, pengumpulan data lapangan, perencanaan kegiatan, serta kemampuan membangun komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Departemen Pengabdian Masyarakat dan Kuliah Kerja Nyata Unibos, Jufriadi, S.T., M.SP.; Direktur Direktorat Inovasi, Riset dan Pengabdian pada Masyarakat, Ahmad Swandi, S.Pd., M.Si.P.; serta Pelaksana Tugas Seksi Kelembagaan dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Andi Besse Opu, S.T., M.T.
Turut hadir para dosen pendamping lapangan (DPL) dan mahasiswa peserta KKN Tematik Infrastruktur Angkatan ke-61 yang akan menjalankan pengabdian di lokasi masing-masing.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Universitas Bosowa, serta pembacaan doa. Agenda kemudian dilanjutkan dengan sambutan, penyematan atribut KKN secara simbolis, dan pembekalan teknis kepada mahasiswa.
Dalam sambutannya, Kepala Departemen Pengabdian Masyarakat dan Kuliah Kerja Nyata, Jufriadi, S.T., M.SP., memberikan pengantar mengenai pentingnya kesiapan mahasiswa sebelum melaksanakan pengabdian di tengah masyarakat.
Pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur menuntut mahasiswa untuk tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepekaan sosial dan keterampilan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berbeda dari kehidupan sehari-hari di kampus.
Mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa setiap desa memiliki karakteristik, potensi, dan tantangan yang tidak selalu sama. Karena itu, kegiatan pengabdian perlu diawali dengan pengenalan kondisi lapangan agar setiap langkah yang dilakukan memiliki dasar yang jelas.
Pembekalan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi antara mahasiswa, dosen pendamping lapangan, dan unsur pengelola KKN sebelum pelaksanaan kegiatan di desa.
Sementara itu, Direktur Direktorat Inovasi, Riset dan Pengabdian pada Masyarakat, Ahmad Swandi, S.Pd., M.Si.P., secara resmi membuka kegiatan sekaligus memberikan pembekalan mengenai arah pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur.
Dalam pemaparannya, Ahmad Swandi menekankan adanya perbedaan mendasar antara pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur dan kegiatan KKN yang selama ini identik dengan program kerja yang sepenuhnya dilaksanakan oleh mahasiswa.
Menurutnya, dalam pendekatan KKN Tematik Infrastruktur, mahasiswa tidak ditempatkan sebagai pihak yang mengambil alih seluruh pekerjaan masyarakat, melainkan sebagai pendamping yang membantu masyarakat mengenali persoalan, menyusun rencana, dan melaksanakan kegiatan sesuai kebutuhan setempat.
“Posisi kalian sebenarnya adalah mendampingi masyarakat. Jadi, nanti perlu disampaikan kepada desa bahwa mahasiswa bukan melaksanakan semuanya secara penuh, tetapi mendampingi masyarakat. Kalian tetap berkontribusi, tetapi masyarakat harus terlibat dalam prosesnya,” jelas Ahmad Swandi saat memberikan pembekalan.
Ia menerangkan bahwa mahasiswa memiliki beberapa peran utama selama menjalankan KKN, yakni sebagai pengamat kondisi lapangan, pengumpul data, fasilitator diskusi, pendamping kegiatan masyarakat, serta pelaksana dokumentasi dan pelaporan.
Peran tersebut menjadi dasar agar pelaksanaan KKN tidak hanya berorientasi pada penyelesaian kegiatan, tetapi juga mampu mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.
Pada tahap awal penempatan, mahasiswa diarahkan untuk melakukan observasi terhadap kondisi desa dan mengenali infrastruktur yang telah tersedia.
Observasi menjadi langkah penting karena setiap desa memiliki kebutuhan yang berbeda, baik dari sisi kondisi lingkungan, ketersediaan sarana, maupun kemampuan sumber daya lokal.
Ahmad Swandi mengingatkan agar mahasiswa tidak terburu-buru menentukan kegiatan sebelum memahami persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Pengamatan langsung diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi infrastruktur dasar, sementara pengumpulan data menjadi landasan dalam menyusun rencana kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Melalui proses tersebut, mahasiswa diharapkan mampu membedakan antara persoalan yang terlihat di permukaan dan kebutuhan yang benar-benar menjadi prioritas masyarakat.
Selain melakukan observasi, mahasiswa juga diwajibkan mengumpulkan data mengenai kondisi infrastruktur yang telah tersedia di wilayah penempatan.
Data tersebut akan menjadi bagian penting dalam proses identifikasi kebutuhan, penyusunan rencana kegiatan, dan evaluasi pelaksanaan pengabdian.
Menurut Ahmad Swandi, seluruh kegiatan perlu berangkat dari kondisi nyata di lapangan serta didukung oleh data dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kemampuan sumber daya lokal agar kegiatan yang dirancang tidak hanya dapat dilaksanakan selama masa KKN, tetapi juga memiliki peluang untuk dilanjutkan oleh masyarakat.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pembekalan adalah perubahan pendekatan dari program kerja mahasiswa menuju kegiatan berbasis partisipasi masyarakat.
Dalam pemaparannya, Ahmad Swandi memperkenalkan konsep Rencana Kerja Masyarakat (RKM) sebagai bagian dari pendekatan pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur.
Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai pihak yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, sementara mahasiswa berperan membantu proses identifikasi kebutuhan, pendampingan, serta dokumentasi.
Pendekatan ini berbeda dengan model program kerja yang seluruh proses pelaksanaannya lebih banyak dilakukan oleh mahasiswa.
Melalui RKM, mahasiswa diharapkan mampu mendorong keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan.
Keterlibatan tersebut menjadi penting agar hasil kegiatan tidak berhenti ketika mahasiswa menyelesaikan masa pengabdiannya.
“Intinya, KKN ini harus banyak melibatkan masyarakat. Jangan hanya kalian yang bekerja di situ. Ide bisa datang dari mahasiswa, tetapi ide itu harus berangkat dari kondisi nyata setiap desa dan dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat,” tegas Ahmad Swandi.
Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang diselesaikan, melainkan dari kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan masyarakat dan keterlibatan warga dalam prosesnya.
Mahasiswa diharapkan dapat membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga setempat agar kegiatan yang direncanakan memperoleh dukungan serta dapat dilaksanakan secara kolaboratif.
Dalam pembekalan tersebut, Ahmad Swandi menguraikan sejumlah prinsip utama pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur.
Prinsip tersebut meliputi penyusunan kegiatan berdasarkan kondisi nyata, penggunaan data dan bukti lapangan, pertimbangan terhadap kemampuan sumber daya lokal, keterlibatan masyarakat, pengutamaan keberlanjutan, serta dokumentasi proses kegiatan secara menyeluruh.
Prinsip-prinsip ini menjadi pedoman agar mahasiswa mampu menjalankan pengabdian dengan pendekatan yang lebih terarah dan bertanggung jawab.
Salah satu fokus kegiatan KKN Tematik Infrastruktur Angkatan ke-61 adalah penguatan infrastruktur dasar masyarakat melalui dua bidang utama, yakni penyediaan air minum dan sanitasi.
Berdasarkan pemaparan dalam pembekalan, terdapat delapan desa yang menjadi lokasi kegiatan terkait Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), sementara dua desa lainnya berfokus pada kegiatan sanitasi.
Dengan demikian, pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur kali ini mencakup sepuluh desa dengan fokus kegiatan yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing wilayah.
Pada kegiatan yang berkaitan dengan Pamsimas, mahasiswa akan mempelajari dan mendampingi proses yang berhubungan dengan kebutuhan penyediaan air minum masyarakat.
Sementara itu, pada kegiatan sanitasi, mahasiswa diarahkan untuk memahami kondisi dan kebutuhan infrastruktur sanitasi sebagai bagian dari upaya mendukung lingkungan permukiman yang lebih sehat.
Kedua bidang tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kualitas hidup masyarakat karena akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak merupakan bagian penting dari kebutuhan dasar manusia.
Melalui pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai bagaimana persoalan infrastruktur dasar diidentifikasi, direncanakan, dan ditangani melalui keterlibatan masyarakat.
Pengalaman tersebut juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan tantangan pembangunan yang dihadapi di tingkat desa.
Selain memahami aspek teknis kegiatan, mahasiswa mendapatkan arahan mengenai pentingnya dokumentasi dan pelaporan selama pelaksanaan KKN.
Setiap tahapan kegiatan, mulai dari observasi awal, pengumpulan data, diskusi bersama masyarakat, hingga pendampingan pelaksanaan kegiatan, perlu dicatat dan didokumentasikan secara sistematis.
Dokumentasi tersebut menjadi bagian dari pertanggungjawaban mahasiswa kepada dosen pendamping lapangan serta bahan evaluasi terhadap proses dan hasil kegiatan.
Ahmad Swandi menekankan bahwa dokumentasi bukan sekadar kelengkapan administrasi, melainkan bagian penting untuk memastikan setiap proses pengabdian dapat ditelusuri dan dievaluasi.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa juga akan berkoordinasi dengan dosen pendamping lapangan yang memiliki peran dalam memberikan arahan, melakukan pemantauan, serta mendampingi penyelesaian berbagai persoalan selama kegiatan berlangsung.
Keberadaan dosen pendamping menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan mahasiswa tetap berjalan sesuai tujuan akademik dan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, mahasiswa diharapkan mampu menjaga sikap, membangun hubungan yang baik dengan warga, serta membawa nama baik almamater selama berada di lokasi penempatan.
Kegiatan pembekalan dan pelepasan ini juga ditandai dengan penyematan atribut KKN Angkatan ke-61 secara simbolis kepada perwakilan mahasiswa.
Penyematan atribut tersebut menjadi penanda kesiapan mahasiswa untuk menjalankan tanggung jawab pengabdian kepada masyarakat sekaligus membawa identitas Universitas Bosowa selama melaksanakan kegiatan di desa.
Lebih dari sekadar simbol pelepasan, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai akademik dalam kehidupan masyarakat.
Melalui KKN Tematik Infrastruktur, Universitas Bosowa berupaya memperkuat pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan persoalan nyata, sekaligus memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, serta penyelesaian masalah.
Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga belajar menyesuaikan pengetahuan tersebut dengan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat.
Pendekatan berbasis partisipasi masyarakat yang diterapkan dalam KKN Tematik Infrastruktur juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam pembangunan desa.
Penyediaan air minum dan sanitasi bukan hanya berkaitan dengan pembangunan sarana fisik, tetapi juga membutuhkan kesadaran, keterlibatan, dan tanggung jawab bersama agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Karena itu, kehadiran mahasiswa diharapkan mampu menjadi penghubung antara pengetahuan akademik dan kebutuhan masyarakat, tanpa mengabaikan pengalaman serta kemampuan warga dalam memahami lingkungan mereka sendiri.
Pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur Angkatan ke-61 menjadi kesempatan bagi mahasiswa Unibos untuk melihat secara langsung bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek berskala besar, tetapi dapat berangkat dari kebutuhan paling mendasar yang dihadapi masyarakat.
Melalui pengamatan yang cermat, pengumpulan data yang tepat, dan komunikasi yang baik, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam proses perencanaan dan pendampingan kegiatan yang relevan dengan kondisi desa.
Dengan bekal yang diperoleh, mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Angkatan ke-61 Universitas Bosowa bersiap menjalankan pengabdian di sepuluh desa penempatan.
Perjalanan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pemenuhan kewajiban akademik, tetapi juga kesempatan untuk belajar memahami masyarakat, bekerja bersama warga, dan mengembangkan kepekaan terhadap persoalan pembangunan.
Sebab keberhasilan pengabdian tidak hanya dilihat dari apa yang dikerjakan mahasiswa selama berada di desa, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat dilibatkan dan memiliki ruang untuk melanjutkan manfaat kegiatan setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Melalui semangat kolaborasi dan keberlanjutan, Unibos berharap pelaksanaan KKN Tematik Infrastruktur Angkatan ke-61 dapat menjadi pengalaman pembelajaran yang bermakna bagi mahasiswa sekaligus memberikan kontribusi terhadap penguatan infrastruktur dasar dan pemberdayaan masyarakat di wilayah penempatan.









