banner dprd mkassar

Djuli Mambaya Sayangkan Golkar Usung JRM Jadi Caleg DPRD Sulsel

SUARACELEBES.COM, TORAJA – Pencalegan Jhon Rende Mangontang maju di DPRD Sulsel oleh Partai Golkar disayangkan. Penyebabnya, Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Provinsi Papua ini tengah berkasus atas penganiayaan dan ancaman pembunuhan kepada Kepala Dinas PU Provinsi Papua, Djuli Mambayya.

Jhon Rende diketahui diloloskan oleh KPU Sulsel sebagai calon legislatif (caleg) Partai Golkar dari Dapil 10 Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Namun, keluarnya SKCK dari pihak kepolisian dipertanyakan karena kasusnya masih bergulir di PN Makale.

Djuli Mambayya menjelaskan jika kasus pemukulan itu terjadi di sebuah gereja di Malakiri, Toraja Utara pada 25 September 2017 silam.

“Belum ada putusan dari pengadilan. Kasusnya sementara masih bergulir dan kemarin saya diperiksa sebagai saksi dan juga sebagai korban tanggal 4 Juli 2018,” tutur Djuli Mambayya melalui sambungan telepon, Selasa (24/7/2018).

Ia menegaskan punya bukti kuat atas kasus ini. Selain hasil visum dari rumah sakit, bukti lainnya adalah keterangan saksi yang sudah diperiksa dan diakui di pengadilan, termasuk keterangan dari Kapolsek setempat yang berada di TKP.

“Di dalam gereja itu, dia bilang “Saya bunuh kau!” Saat itu saya sedang makan dan dia mencolek telinga saya. Dia juga memukul saya. Pokoknya dia telah merencakan dengan membawa body guard,” paparnya.

Djuli Mambayya melanjutkan, kasus penganiayaan dan ancaman pembunuhan itu dilatarbelakangi karena Jhon Rende Mangontang yang juga seorang kontraktor kecewa ia tak meloloskan tendernya atas sebuah proyek di Papua.

“Dia kecewa dengan proyek yang saya tidak loloskan sebagai Kadis PU Jayapura. Tendernya memang paling rendah. Tapi saya sanggah ke Pokja karena dia memakai dokumen palsu dan dia tidak memasukkan biaya pengaspalan disitu,” ungkapnya.

Dirinya pun meminta hakim PN Makale bisa memberikan putusan sesuai aturan yang berlaku. Djuli Mambaya juga berharap kasus ini segera diputuskan dan Jhon Ronde Mangontang segera ditahan.

“Tentu pak hakim akan mempertimbangkan semuanya. Saya berharap pak hakim bisa menjalankan tugasnya. Apalagi aksi premanisme dan ancaman pembunuhan ini terjadi di tempat ibadah,” tandasnya.(*)

PDAM Makassar