“Gemes” dan Lucu Irwan Dai Mendengar Pernyataan “Kosong” Syarifudin Bano

PDAM Makassar

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo, Irwan Dai merasa lucu dan “gemes” dengan pernyataan Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Gorontalo, Syarifudin Bano yang menyebut Pemerintah Provinsi Gorontalo tidak tegas dalam menindak masuknya beras luar ke Gorontalo.

Lebih parahnya lagi, Syarifudin Bano memberi contoh harusnya Pemprov melakukan penangkapan jika ada beras luar masuk Gorontalo.

“Saya benar-benar gemes dan lucu dengan pernyataan Syarifudin Bano itu. Saya rasa dia tidak terlalu paham bahwa beras itu masuk dalam kebutuhan pokok yang menyangkut hajar hidup orang banyak dan pengaruhnya sangat besar terhadap stabilitas ekonomi rakyat, emangnya sudah benar contoh yang dia berikan itu ? Coba baca UU No 18 Tahun 2012 Tentang Pangan, saya rasa kalau dia baca aturan itu pasti dia akan merasa malu dengan pernyataannya itu”. Ujarnya dalam sambungan seluler.

Irwan Dai juga menegaskan bahwa meski ada aturan yang mengatur tentang pangan, Pemerintah Provinsi Gorontalo tetap mengambil tindakan dan bersikap keras terhadap adanya beras masuk ke Gorontalo.

“Meski ada aturan, Pak Gubernur tetap berpihak kepada petani, membela mereka, kesejahteraan petani nomor satu dibuktikan dengan adanya Surat yang ditujukan kepada Menteri Pertanian dan Perdagangan agar jangan ada beras impor masuk ke Gorontalo, konkrit kerja Pemprov”. Tambahnya.

Upaya Pemprov tidak hanya sampai disotu saja, tapi memberikan dukungan terhadap kualitas beras lokal.

“Ratusan ribu hektar sawah telah diberikan bantuan agar kualitas beras lokal bisa bersaing dengan beras luar, perbaikan budidaya mulai dari hulu sampai pada pasca panen diberikan benih bermutu, bantuan pupuk, alsintan, serta merevitalisasi gilingan padi yang dapat menghasilkan beras premium agar dapat dibeli Bulog”. Terangnya.

Begitu pula dengan persoalan unggas yang dikritik Syarifudin Bano. Menurutnya, Syarifudin kurang paham dengan kebutuhan pasar dan manajemen pemasaran.

“Terkait unggas berarti bicara ekonomi, pasti semua arahnya pada kebutuhan pasar dan manajemen pemasaran. Supply dan demand ayam broiker tidak seimbang pada waktu tertentu dimana kebutuhan yang broiler apalagi musim tertentu, katakanlah seperti saat ini bulan muharram tidak banyak yang butuh ayam broiler, hal ini diperparah lagi dgn kondisi pandemi Covid-19 dimana semua kegiatan masyarakat dibatasi sehingga penyerapan ayam lokal rendah yang berakibat harga jatuh”.

Bahkan menurutnya lagi tanpa ada ayam yang masuk dari luar pun harga dalam daerah tetap anjlok hal ini dikarenakan over supply.

“Konsumen ayam pedaging diarea kota dan sekitranya cenderung memilih ayam kampung lokal dibanding ayam broiler hal ini karena citaranya lebih enak dan harganya juga terjangkau. Dalam kondisi normal dimana supply demand seimbang sebenarnya para pedagang pengumpul yang disinyalir sebagai pemasok ayam dari luar juga karena yang menyerap produksi ayam broiler dalam daerah adalah mereka juga yang dikenal dengan kata (Bakul)”. Ketusnya lagi.

Terakhir, sebelum menutup telepon selulernya, Irwan berharap agar Syarifudin Bano sebelum memberikan pernyataan harus lebih dulu mengetahui apa yang akan dia sampaikan.

“Sebagai aleg harusnya yang bersangkutan tau Persis persoalan yang sebenarnya, tidak perlu urus terlalu jauh, di kabupaten saja khususnya di dapil sendiri msh banyak petani yang butuh bibit dan alat-alat pertanian yang perlu anda perhatian dan perjuangkan coba perjuangan nasib mereka sebagai bentuk tanggung jawab sebagai wakil rakyat.(*)

Pemkot Makassar SC
Pangkep SC