banner dprd mkassar

Waris Halid :  Oase Baru Tempat Mengadu Warga Sulsel yang Asyik

Oleh : Ano Suparno (Praktisi Media)

SUARACELEBES.COM, MAKASSAR – Jika di Amerika Serikat warga Iowa bisa mencegat Senator Chuck Grassley di kedai makan pinggir jalan, atau warga Illinois memiliki tradisi mengadu masalah regulasi sambil minum kopi santai dengan senatornya, maka masyarakat Sulawesi Selatan kini punya oase serupa pada sosok Andi Abd. Waris Halid, senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Sulawesi Selatan.

Seperti senator-senator di Amerika, misalnya Chuck Grassley yang terkenal dengan *99 County Tour*, atau Paul Simon, Dick Durbin, dan Tammy Duckworth dengan *Constituent Coffee*, mereka menerobos tembok birokrasi dan gedung parlemen serta gaya protokoler politisi formal.

Mereka menjawab kejenuhan publik dengan cara mendobrak sekat tersebut, mengubah kultur mengadu warga menjadi ruang dialog yang asyik, setara, dan sehangat obrolan di warkop.

Beberapa bulan terakhir, saya kerap berinteraksi dengan AWH, akronim yang kini melekat pada dirinya. Sewaktu-waktu saya membayangkan, apakah AWH ini bisa seperti Paul Simon, Dick Durbin, Tammy Duckworth atau Chuck Grassley?

Senator asal Illinois, misalnya, memiliki tradisi khas bernama *Constituent Coffee* yang diinisiasi oleh mendiang Senator Paul Simon sejak 1985 dan diteruskan oleh senator penerusnya. Setiap minggu saat parlemen bersidang, mereka membuka pintu kantor bagi warga untuk datang mengobrol santai sambil minum kopi dan makan donat.

Atau seperti Chuck Grassley, Senator Senior Amerika Serikat dari Iowa yang terkenal dengan tradisi politik *99 County Tour*. Setiap tahun, tanpa absen, Grassley mengunjungi seluruh 99 wilayah di negara bagiannya untuk mengadakan pertemuan langsung dengan warga di tempat-tempat kasual seperti kafetaria, aula kota hingga area pertanian.

Ataukah seperti Bernie Sanders, Senator Amerika Serikat dari Vermont, yang dikenal dengan gaya penampilannya yang kasual dan jauh dari kesan politisi parlente. Ia sering mengadakan pertemuan town hall skala kecil di pedesaan Vermont, duduk di kursi lipat sederhana dan membiarkan warga mengkritik atau mengadu langsung kepadanya.

Ada kesamaan antara senator-senator tersebut dengan AWH.

Konsep itu sangat mirip dengan kultur warkop yang melekat pada pendekatan AWH. Menyapa langsung masyarakat, ngobrol tanpa jarak, duduk berdekatan, tanpa pengawalan.

Waris kemudian memosisikan dirinya bukan sekadar sebagai wakil rakyat atau senator, tetapi sebagai tempat mengadu yang asyik, santai, dan tanpa sekat bagi warga Sulawesi Selatan.

Suatu ketika, ia mempertegas perannya setelah terpilih sebagai Wakil Ketua Komite II DPD RI. Komite II bekerja untuk memastikan sektor pertanian, kelautan, energi dan lingkungan benar-benar dikelola demi kepentingan rakyat.

Jika menemui masyarakat dan ada yang mengadu kepadanya, AWH tidak seperti politisi atau senator lainnya yang sekadar mencatat, atau paling banter catatan itu sampai ke tenaga ahlinya.

Dia tidak seperti itu

Jika berada di Jakarta, AWH pun bukan sekadar datang berkantor untuk memenuhi kewajiban. Ia langsung menemui kementerian yang menjadi objek aduan masyarakat Sulsel atau mengundang kementerian yang bersangkutan ke kantornya untuk membahas persoalan tersebut.

Contohnya ketika menerima aduan warga Barru soal Pelabuhan Garongkong dan jalur kereta api di Barru. Saat tiba di Jakarta, ia menghadirkan pejabat Kementerian Perhubungan RI untuk membahas optimalisasi Pelabuhan Garongkong.

Begitu pula ketika memanggil Kementerian ESDM. Sepulang dari pertemuan dengan warga di Sulsel, ia menyerukan agar ESDM memperhatikan persoalan energi di pedesaan dan wilayah pesisir.

“Saat sebagian daerah sudah menikmati pasokan listrik yang stabil, masih ada masyarakat di kepulauan yang harus hidup dengan keterbatasan energi. Ini menjadi persoalan keadilan pembangunan yang harus segera diselesaikan,” kata AWH.

Banyak cerita perjalanan “Tour Warkop” ala Senator AWH.

Waris sedang mendefinisikan ulang gaya berpolitik di Sulawesi Selatan. Ia membuktikan bahwa untuk memperjuangkan daerah, seorang politisi tidak harus selalu tampil dengan dahi berkerut atau pidato yang berapi-api.

Terkadang, yang paling dibutuhkan warga adalah kehadiran seorang figur yang mau duduk bersama, mendengarkan keluhan dengan santai, lalu mengeksekusinya melalui jalur kebijakan formal di parlemen.

_Mengapa Waris Halid bisa tampil seasyik itu_!
Jawabannya ada pada latar belakangnya.

Lulusan Ilmu Sastra & Budaya Universitas Hasanuddin ini memahami seni berkomunikasi dengan masyarakat. Ia tahu cara mendengarkan secara aktif, membaca keresahan warga bukan hanya sebagai angka statistik, tetapi sebagai realitas sosial yang harus segera dicarikan jalan keluar.

Tanjung Bunga, 28 Agustus 2026

Catatan :
Ano “orwels” Suparno
Pengasuh Pondok:
#NarasiAno
#KopiAno
#JejakAno

PDAM Makassar