SUARACELEBES.COM, MAKASSAR — Di balik kemampuan seseorang mengambil keputusan, mengendalikan emosi, menyusun rencana, hingga beradaptasi terhadap perubahan, terdapat proses kompleks yang bekerja di dalam diri manusia.
Ketika psikologi bertemu dengan ilmu yang mempelajari fungsi otak dan sistem saraf, ruang untuk memahami manusia pun menjadi semakin luas.
Hadir sebagai sponsor dan pemakalah, Fakultas Psikologi Unibos menjajaki integrasi neuropsikologi dengan kekhasan bidang psikologi industri dan organisasi
Ruang itulah yang menjadi perhatian Fakultas Psikologi Universitas Bosowa (Unibos) dalam keikutsertaannya pada Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) pertama Asosiasi Neuropsikologi Indonesia (ANI) yang berlangsung pada 25–27 September 2026 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh tiga fakultas psikologi, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), dan Universitas Katolik Soegijapranata. Temilnas perdana tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah sponsor, di antaranya Universitas Bosowa dan PT PLN (Persero).
Temilnas ANI mempertemukan akademisi dan praktisi psikologi dari berbagai daerah di Indonesia untuk membahas perkembangan neuropsikologi sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan bidang tersebut.
Forum ilmiah ini menghadirkan dua pakar dari Belanda, Prof. Dr. Gilles van Luijtelaar dan Prof. Dr. Marc P.H. Hendriks, serta dua pakar dari UGM, Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog dan Prof. Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, Ph.D., M.Sc., MM., Psikolog.
Kedua pakar dari Belanda membahas pengembangan alat tes neuropsikologi di Indonesia, termasuk pentingnya uji kelayakan instrumen agar alat ukur yang digunakan benar-benar sesuai dengan konteks dan norma masyarakat Indonesia.
Sementara itu, pakar dari UGM menguraikan tantangan pengembangan neuropsikologi di fakultas psikologi, terutama berkaitan dengan kesiapan laboratorium dan sumber daya manusia, serta penerapan teknik neuropsikologi dalam penelitian dan intervensi, termasuk dalam bidang hipnosis di Indonesia.
Bawa Riset Fungsi Eksekutif ke Forum Nasional
Fakultas Psikologi Unibos hadir secara langsung melalui Dekan Fakultas Psikologi Unibos, Patmawaty Taibe, S.Psi., MA., Ph.D., yang sekaligus bertindak sebagai pemakalah. Turut hadir Wakil Dekan II, Andi Muhammad Aditya, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang turut mencermati arah pengembangan laboratorium neuropsikologi di lingkungan Fakultas Psikologi Unibos.
Dalam sesi presentasi, tim Fakultas Psikologi Unibos memaparkan hasil penelitian mengenai fungsi eksekutif dan regulasi emosi implisit pada remaja di Kota Makassar.
Penelitian tersebut merupakan bagian dari proyek tim Eksperimen Psikologi Unibos dalam mengembangkan alat ukur fungsi eksekutif dan regulasi emosi implisit berbasis digital. Pengembangan alat ukur tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan mutu dan ketepatan layanan psikologi di masyarakat.
Riset ini juga menjadi langkah awal untuk melihat bagaimana pengembangan neuropsikologi dapat diintegrasikan dengan kekhasan Fakultas Psikologi Unibos yang berada pada bidang psikologi industri dan organisasi.
Fungsi eksekutif, seperti kemampuan merencanakan, mengambil keputusan, mengendalikan diri, dan berpikir fleksibel, serta kemampuan meregulasi emosi merupakan fondasi penting dalam kinerja individu di lingkungan kerja.
Pendekatan neuropsikologi membuka peluang untuk memperkaya praktik asesmen dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan organisasi dan korporasi. Penerapannya dapat diarahkan mulai dari proses seleksi dan penempatan, pengembangan kepemimpinan, hingga pengelolaan stres dan kesejahteraan karyawan, dengan dasar pengukuran yang lebih objektif dan sesuai dengan konteks Indonesia.
“Neuropsikologi adalah bidang yang terus berkembang, dan kami merasa perlu belajar bersama rekan-rekan dari berbagai institusi. Sebagai fakultas yang memiliki kekhasan di bidang industri dan organisasi, kami melihat peluang untuk menjembatani temuan neuropsikologi dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Patmawaty Taibe.
Ia menambahkan bahwa penelitian yang dipresentasikan dalam Temilnas tersebut masih menjadi bagian dari proses panjang pengembangan alat ukur yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
“Riset yang kami paparkan masih merupakan bagian dari proses panjang. Harapan kami, alat ukur yang sedang dikembangkan nantinya relevan dengan konteks Indonesia serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat maupun organisasi,” lanjutnya.
Memperkuat Jejaring Neuropsikologi Unibos
Keikutsertaan Fakultas Psikologi Unibos dalam Temilnas ANI juga memiliki makna khusus. Prof. Gilles van Luijtelaar merupakan salah satu pakar yang telah mendampingi Fakultas Psikologi Unibos sejak 2024 dalam merintis Laboratorium Neuropsikologi Universitas Bosowa.
Kehadiran dalam forum nasional tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat jejaring kerja sama yang telah dibangun sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Perkembangan neuropsikologi dinilai semakin penting untuk direspons oleh fakultas psikologi di Indonesia. Integrasi psikologi dan neurosains membuka peluang bagi pengembangan kurikulum biopsikologi dan neuropsikologi yang lebih terstandar, sekaligus memberikan perspektif yang lebih luas dalam pengembangan dan penggunaan alat tes kognitif.
Pengembangan tersebut tidak hanya relevan untuk layanan klinis dan pendidikan, tetapi juga memiliki potensi penerapan dalam kebutuhan organisasi dan industri.
Bagi Fakultas Psikologi Unibos, arah tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus mengembangkan penelitian terapan dan pengajaran yang semakin selaras dengan perspektif biopsikologi. Fakultas juga akan terus membangun kolaborasi dalam pengembangan Laboratorium Neuropsikologi yang diharapkan ke depan dapat mendukung kegiatan riset dan layanan psikologi, termasuk di lingkungan organisasi dan korporasi.
Pada akhirnya, perjalanan menuju neuropsikologi bukan semata tentang memahami apa yang terjadi di dalam otak, tetapi tentang memahami manusia secara lebih utuh.
Dari fungsi eksekutif seorang remaja di Makassar, hingga kemampuan seseorang mengambil keputusan di ruang kerja; dari regulasi emosi hingga kepemimpinan; dari sebuah alat ukur digital hingga layanan psikologi yang lebih tepat sasaran—riset yang dikembangkan Fakultas Psikologi Unibos membuka percakapan yang jauh lebih besar tentang bagaimana ilmu psikologi dapat hadir menjawab kebutuhan manusia yang terus berubah.
Dan mungkin, masa depan psikologi bukan hanya tentang semakin dalam memahami pikiran manusia, tetapi tentang semakin tepat menggunakan pemahaman itu untuk menciptakan kehidupan, pendidikan, dan dunia kerja yang lebih manusiawi.
Dari Makassar menuju panggung ilmiah nasional, Fakultas Psikologi Unibos membawa satu langkah kecil dari laboratorium menuju masa depan: ketika psikologi bertemu neurosains, data bertemu kemanusiaan, dan riset mulai menemukan jalannya untuk memberi dampak nyata.









